Bagaimana cara agar siswa tetap menggunakan alat yang canggih tersebut, namun tidak menjadikannya ketergantungan. Maka guru menyarankan siswa tetap menggunakan “Google Translate” namun yang “kamus off line”. Apakah berbeda? Tentu saja. Karena bila siswa menggunakan yang “off line,” maka dia hanya akan  mentranslate satu kata, bukan satu kalimat apalagi satu paragraph. Sehingga siswa akan berlatih secara mandiri memahami kata yang sebenarnya sudah sering dipakai untuk membantu mengarahkan memahami kalimat secara penuh.

Secara bertahap, siswa akan memiliki kemampuan membaca yang sebenranya. Seperti dikatakan oleh Iskandar dan Suhendar (2008:289) bahwa salah satu tujuan membaca adalah memaknai dan menggunakan kosakata asing untuk menemukan  informasi yang dinyatakan secara eksplisit dan implisit.

Dari definisi yang dikemukankan maka jelas bahwa siswa diharapkan secara mandiri bisa memaknai kalimat yang dia baca bukan dalam bentuk teks yang dialih bahasakan, dengan menggunakan kosakata asing yang harus dicari maknanya. Dalam teks tidak mungkin satu kalimat tidak ada kosakata yang siswa tidak ketahui. Jadi, penggunaan “Google Transalete” tidak akan membuat siswa memiliki kemampuan tujuan memabaca yang sebenarnya.

Dari kondisi yang dikemukakan, jelas nampak bahwa bila siswa dibiarkan membaca tanpa ada variasi dalam proses pembalajaran maka sebenarnya siswa menglami kejenuhan Maka guru mengambil inisiatif, saat pembelajaran digunakanlah model cerdas cermat. Apakah itu efektif dan bagaimana caranya?

 Pertama, kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Pembentukan kelompok bisa divariasi yang disesuaikan dengan kondisi kelas. Kemudian guru membacakan aturan mainnya, barulah cerdas-cermat dimulai. Soal-soal yang diajukan sebenarnya sama seperti yang dikerjakan siswa pada tugas-tugas latihan reading teks, hanya pembahasaannya yang menggunakan model cerdas-cermat.

Dalam kegiatan cerdas cermat siswa diperbolehkan menggunakan alat bantu “kamus line”  atau  “kamus manual”. Dengan demikian, siswa akan aktif mencari makna kata yang ada dalam kalimat. Siswa berbagi tugas untuk memahami teks dan berebut menjawab pertanyaan. Kelas menjadi aktif, karena masing-masing kelompok berebut mendapatkan nilai, siswa saling berbagi tugas dan  materi bisa dibahas lebih efektif dan menyenangkan. (*/aro)

Guru SMA Negeri 1 Sokaraja