Oleh: Setyowati Ani S SPd       
Oleh: Setyowati Ani S SPd       

FULL Day School di tingkat SMA sudah berjalan. Ini bukan hal yang mudah untuk dijalani baik bagi guru maupun para siswa. Tidak jarang hampir separo siswa dalam kelas mengalami kelesuan mengikuti kegiatan pembelajaran, terutama setelah  istirahat pertama mereka mengikuti proses pembelajaran dengan ogah-ogahan, mengantuk, bahkan menyelesaiakn tugas sebisanya. Apalagi bila materi yang diberikan berkaitan dengan teks bacaan.

Mengajarkan Bahasa Inggris dengan teks dan kosakata asing serta jarang digunakan dalam keseharian, sangat membuat siswa enggan untuk memahami isinya. Terlebih dalam kurikulum 2013, Bahasa Inggris hanya mendapat alokasi waktu 2 x 45 menit per minggu, sungguh diperlukan kiat untuk membahas teks agar benar-benar menarik dan masuk ke dalam pengetahuan siswa.  Padahal Bahasa Inggris tetap dijadikan sebagai materi ujian nasional yang isinya berupa teks yang tentunya menjadikan siswa harus mau membaca agar bisa mendapatkan jawaban dari soal yang dikerjakannya.

Mempersiapkan siswa untuk mau membaca teks bukan hal yang mudah. Karena selain siswa harus mempunyai pengetahauan kosakata yang mencukupi, juga diperlukan konsentrasi yang bagus. Proses pembelajaran harus benar-benar mempersiapkan siswa memiliki kemauan dan kemampuan menambah kosakata untuk memahami teks yang dihadapinya. Sayangnya, guru sering menjumpai siswa melakukan pemahaman isi bacaan dengan mengirimkan teks ke  aplikasi “Google Translate”, yang memudahkan siswa segera mendapatkan bentuk teks yang sama dalam Bahasa Indonesia, yang tentunya akan lebih mudah untuk dipahami.

Cara siswa tadi bukanlah cara yang benar. Karena hal tersebut tidak akan membuat siswa mandiri memahami isi bacaan. Mereka hanya tahu isi teks saat mereka memegang translator tersebut. Namun saat alat tersebut lepas, siswa tidak mengetahui sama sekali apa isi teks tersebut. Karena yang pintar adalah “Google Transalete” bukan siswanya.