Dalam Waktu 4 Bulan, Dirikan Tiga Toko Roti

Kisah Sukses Owner Giraf Bakery, Setyo Mindarno Djoenaedi

1478
BISNIS DARI NOL: Setyo Mindarno Djoenaedi dan istrinya, Karlina Konggidinata di salah satu toko rotinya. (NIKEN PRAHASTIWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BISNIS DARI NOL: Setyo Mindarno Djoenaedi dan istrinya, Karlina Konggidinata di salah satu toko rotinya. (NIKEN PRAHASTIWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Berawal dari industri roti rumahan yang dijalani sang istri, Setyo Mindarno Djoenaedi mengembangkannya menjadi toko roti. Tak tanggung-tanggung, dalam 4 bulan, dia dan istrinya mendirikan tiga toko roti sekaligus. Seperti apa kisahnya?

NIKEN PRAHASTIWI, EVA DEWI M

MENGUSUNG brand Giraf Bakery, Setyo Mindarno Djoenaedi sukses mendirikan tiga toko roti dalam kurun waktu 4 bulan. Ketiga toko tersebut tersebar di bilangan Jalan Sriwijaya, Jalan Raya Jangli Jatingaleh, dan Jalan dr Wahidin. Tak hanya produk roti, suami Karlina Konggidinata, 37, ini juga menghadirkan kue Bandung di dua tokonya sejak sebulan lalu.

Setyo mengaku, merintis bisnis roti tersebut berawal usaha rumahan yang dijalani istrinya, Karlina Konggidinata. Namun sebelum terjun di bisnis roti, Setyo telah memiliki pengalaman bekerja di toko roti.  Saat kuliah di Amerika pada 1999, Setyo nyambi bekerja di sebuah toko roti. Di situlah, ia mempelajari cara pembuatan roti, dan melihat gaya hidup warga Amerika yang lebih suka menyantap makanan cepat saji, termasuk roti.

“Saat itu, saya berpikir untuk mengembangkan apa yang saya pelajari di Amerika, kelak jika sudah pulang ke Semarang,” kata alumnus Ohio State University dan California State University dengan gelar Master of Business Administration (MBA) ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Untuk meningkatkan kemampuannya dalam membuat roti dan kue, sepulang dari Amerika pada 2007, Setyo pergi ke Jakarta untuk mempelajari cara pembuatan Kue Bandung. Di sana ia mempelajari teknik hingga mendapatkan cara pembuatan Kue Bandung terbaik. Belum puas, Setyo sempat belajar membuat roti dan makanan lainnya dengan mendatangkan chef dari Jepang dan Amerika. Bahkan tak segan, ia membeli mesin pengaduk tepung dengan harga puluhan juta rupiah.

Sebelum memulai penjualan, ia harus benar-benar menguasai pembuatan roti, termasuk Kue Bandung. Bahkan, dalam perekrutan karyawannya, dilakukan training yang cukup lama sekitar 3 minggu hingga satu bulan.