Oleh: Sri Hartatik SPd
Oleh: Sri Hartatik SPd

BAHASA adalah identitas suatu budaya. Dalam bahasa itu terkandung muatan budaya penuturnya, termasuk nilai moral dan etika. Bahasa juga  sebagai sarana mengekspresikan budaya. Bahasa juga merupakan cerminan budaya pemakainya. Pepatah “ajining dhiri dumunung ana ing lathi“ menunjukkan bahwa bahasa merupakan cerminan jati diri seseorang.

Tinggi –rendahnya peradaban seseorang tercermin dalam apa yang keluar dari mulutnya. Halus kasarnya bahasa seseorang mewujudkan kesantunan pribadinya. Bagi penutur jawa tingkat tutur bahasa yang dipilih orang Jawa mencerminkan kesantunannya.
Sejak kecil seorang anak jawa dididik oleh orang tua untuk menjadi manusia Jawa yang otentik. Manusia Jawa yang otentik adalah manusia selalu berperilaku santun terhadap orang lain. Berperilaku santun artinya berperilaku sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan konflik. Manusia Jawa yang otentik selalu menjaga tata tentrem atau keharmonisan mempunyai unggah – ungguh, tata krama.

Di lingkungan sekolah masih banyak siswa yang belum bisa berbahasa Jawa yang santun. Mereka belum bisa membedakan Bahasa Jawa yang digunakan dengan orang tua/orang yang lebih dewasa, dan dengan teman sebaya. Siswa berbicara keras di depan guru, sering juga memotong pembicaraan guru, mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan, dan lain sebagainya. Selain Bahasa Jawa yang dipakai itu kurang sopan, juga tingkah laku siswa yang kurang sopan, baik dengan guru maupun dengan sesama teman. Menyadari akan hal tersebut, guru bahasa Jawa tergugah hatinya untuk menjadikan siswa bisa berbahasa Jawa yang santun kepada lawan tutur, dan bertingkah laku sopan kepada semua orang, dan mengetahui tingkat tutur Bahasa Jawa yang ada.

Konsep unggah – ungguh atau kesantunan berbahasa dalam kaitan dengan tulisan ini di identikkan dengan penerapan tingkat tutur bahasa Jawa, Krama dan Ngoko. Tingkat Krama mencerminkan tingkatan halus, tingkatan Ngoko mencerminkan kenetralan, dan Krama serta Ngoko, masing – masing menunjukkan sifat yang berbeda dari yang sangat halus hingga yang kasar.

Selain kosa kata, penanda ragam yang lain, yakni penggunaan sapaan Krama dan Ngoko yang juga diaktualisasikan dalam bentuk prefiks honorifik proklitik (pendahulu verba) sebagai penciri verba persona pasif dan transhierarki-nya, dan enklitik (mengikuti nomina) penunjuk milik atau kata ganti milik.

Kombinasi antara ragam kosakata, sapaan, dan klitika tersebut membentuk tingkat tutur/ unggah-ungguh yang berbeda-beda. Semakin halus ragam yang digunakan semakin halus dan hormat pada pertuturan bahasa Jawa yang ada.