PKL Barito Segera Direlokasi

329

SEMARANG–Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana segera memulai pembanguanan normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) dalam waktu dekat ini. Diperkirakan, awal Desember mendatang segera dimulai. Namun hingga saat ini, pemindahan warga, baik pedagang kaki lima di kawasan Jalan Barito dan penghuni liar di bantaran Sungai BKT belum dilakukan.

Dinas Perdagangan Kota Semarang yang bertanggung jawab atas pekerjaan relokasi kios-kios permanen dan semi permanen pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Barito, segera melakukan sosialisasi tahap lanjutan. Relokasi diperkirakan awal hingga pertengahan Desember mendatang.

“Kami segera sosialisasi lanjutan di akhir November ini. Kami akan mengundang BBWS, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan pemangku wilayah setempat yakni camat dan lurah. Sosialisasi akan kami lakukan 29-30 November,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, Jumat (24/11).

Dikatakannya, sosialisasi tersebut membicarakan terkait teknis relokasi hingga teknis pembagian kios dan lapak di Pasar Klitikan Penggaron. “Apakah kami yang membagi atau masing-masing ketua paguyuban sesuai kluster-klusternya. Sosialisasi ini perlu dilakukan mengingat BKT dimulai pembangunan normalisasi pada Desember ini,” katanya.

Terkait pembangunan Pasar Klitikan Penggaron, kata Fajar, akhir November ini telah selesai. Namun masih diperlukan tambahan waktu untuk melakukan pembersihan pasar. Sesuai dengan schedule, relokasi PKL Barito diperkirakan dilakukan awal hingga pertengahan Desember. “Jadi, semua PKL pada minggu kedua Desember harus sudah masuk ke Pasar Klitikan Penggaron,” tandasnya.

Lebih lanjut, kata Fajar, Pasar Klitikan Penggaron diperkirakan mampu menampung sebanyak 2.500 pedagang. “Apabila masih kekurangan, kami akan menempatkan pedagang di Pasar Banjardowo atau Pasar Genuk lantai 2,” katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Ruhban Ruzziyatno sebelumnya mengatakan, pihaknya tinggal menunggu persetujuan dari Menteri Keuangan (Menkeu) untuk persetujuan anggaran multiyears dalam proyek pembangunan ini. Tinggal menunggu dalam hitungan hari. “Nanti setelah itu ditandatangani Menteri Keuangan, langsung dilakukan kontrak untuk pemenang lelang dan langsung bisa dimulai,” kata Ruhban.

Pemenang lelang telah ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dilakukan pada 15 September lalu. Dijelaskannya, persetujuan menteri keuangan tersebut untuk menetapkan besaran anggaran yang dikeluarkan di setiap tahap atau per-tahun. “Nanti anggarannya dipecah-pecah, untuk tahap pertama berapa, tahap kedua berapa dan tahap ketiga berapa. Itu yang menetapkan menteri keuangan. Ini kan menyangkut keuangan negara,” katanya.

Pertama kali nanti dilakukan tahap pekerjaan persiapan, misalnya mobilisasi peralatan, kemudian pembuatan perkantoran di sekitar lokasi pekerjaan di Banjir Kanal Timur. Akses jalan masuk alat berat saat ini telah dilakukan. “Nanti dilakukan pemindahan warga secara bertahap. Dia meminta pemindahan warga atau relokasi harus sesuai dengan schedule. Kalau pemindahan belum dilaksanakan secara keseluruhan dikhawatirkan kegiatan ini terlambat dan tidak sesuai dengan target yang diharapkan,” katanya.

Pembangunan normalisasi Banjir Kanal Timur ini ditargetkan selesai 2019 mendatang atau kurang lebih butuh waktu tiga tahun. “Tetapi kami akan lakukan percepatan, karena kebutuhan masyarakat sangat mendesak,” kata dia.

Dalam pembangunan normalisasi BKT tahap pertama ini, sedikitnya ada empat kecamatan terkena dampak proyek normalisasi Banjir Kanal Timur, yakni Kecamatan Gayamsari, Kecamatan Semarang Timur, Kecamatan Genuk, dan Semarang Utara. Di dalamnya terdapat 12 keluarahan terkena dampak, yakni Kelurahan Pandean Lamper, Sambirejo, Karang Tempel, Rejosari, Bugangan, Sawah Besar, Kaligawe, Tambak Rejo, Mlatiharjo, Kemijen, Terboyo Kulon, dan Tanjung Mas.

Total warga yang terkena dampak di tahap pertama berjumlah 2.758 bangunan, baik PKL maupun bangunan rumah. Secara rinci, inventarisasi bangunan yang bakal dirobohkan di Kelurahan Pandean Lamper sebanyak 643 bangunan, Karang Tempel 374 bangunan, Rejosari 263 bangunan, Sambirejo 212 bangunan, Bugangan 121 bangunan, Sawah Besar 229 bangunan, Mlati Harjo 335 bangunan, Kaligawe 205 bangunan, Kemijen 58 bangunan, Tambak Rejo 117 bangunan, Terboyo Kulon 56 bangunan, Tanjung Emas 145 bangunan. Menggunakan anggaran sistem multiyears, pembangunan dimulai 2017 ditargetkan selesai 2019. (amu/ida)