Oleh: Ardan Sirodjuddin
Oleh: Ardan Sirodjuddin

DUA bulan setelah kemerdekaan Indonesia, yakni tanggal 24 sampai 25 November 1945, para guru berkumpul di Kota Surakarta melaksanakan kongres untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Mereka adalah guru yang masih aktif mengajar, pensiunan para pejuang, dan pegawai pendidikan.  Pada tanggal 25 November 1945 mereka memproklamirkan Persatuan Guru Republik Indonesia.

Hari ini tanggal 25 November 2017 adalah Hari Guru Nasional ke 72. Tema HGN tahun ini adalah Membangun Pendidikan Karakter melalui Keteladanan Guru”. Tema ini erat kaitannya dengan implementasi Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Peraturan Presiden tersebut mengamanatkan bahwa guru sebagai sosok utama dalam satuan pendidikan. Mereka memiliki tanggung jawab membentuk karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga. Mengacu pada tema tersebut maka timbul pertanyaan apakah sosok “Guru Zaman Now” sudah mampu menjadi sumber keteladanan bagi siswanya.

Agar guru bisa menjadi sumber teladan, maka guru harus memiliki mindset Kepemimpinan Guru (Teacher Leadership). Kepemimpinan guru pada dasarnya merupakan proses untuk mempengaruhi orang lain yang di dalamnya berisi serangkaian tindakan atau perilaku tertentu terhadap invididu yang dipengaruhinya. Kepemimpinan guru tidak hanya sebatas pada peran guru dalam konteks kelas pada saat berinteraksi dengan siswanya, tetapi menjangkau pula peran guru dalam berinteraksi dengan kepala sekolah dan rekan sejawat, dengan tetap mengacu pada tujuan akhir yang sama, yakni terjadinya peningkatan proses dan hasil pembelajaran siswa.

Kepemimpinan guru memfokuskan pada tiga dimensi pengembangan, yakni: Pertama, pengembangan individu; di mana guru melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan di kelas, sehingga siswa termotivasi dalam belajar, guru menciptakan taman-taman belajar sehingga siswa nyaman belajar. Kedua, pengembangan tim; ilmu yang dikuasai guru harus dibagikan ke teman-teman guru yang lain berupa pelatihan baik offline maupun online seperti pelatihan media pembelajaran, pembuatan soal online, pembuatan RPP, sehingga rekan sejawat mampu mengembangkan kompetensinya. Diseminasi ini penting karena tidak semua guru mendapatkan pelatihan yang intensif maka mulai sekarang buatlah kesepakatan dalam diri bahwa setiap guru mengikuti pelatihan maka dia akan menjadi tutor bagi yang lain. Ketiga, pengembangan organisasi. selain sebagai pendidik, guru juga sebagai warga sekolah yang memiliki andil untuk memajukan sekolah. Kejarlah prestasi diri dan prestasi siswa untuk meraih nama baik sekolah.

Kualitas Pendidikan

Kondisi saat ini kualitas pendidikan masih belum menggembirakan. Untuk mengukur kualitas pendidikan di Indonesia menggunakan standar tes PISA. PISA merupakan singkatan dari Programme Internationale for Student Assesment yang merupakan suatu bentuk evaluasi kemampuan dan pengetahuan yang dirancang untuk  siswa usia 15 tahun. PISA sendiri merupakan proyek dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang kali pertama diselenggarakan pada 2000 untuk bidang membaca, matematika dan sains.

Ide utama dari PISA adalah hasil dari sistem pendidikan harus diukur dengan kompetensi yang dimiliki oleh siswa dan konsep utamanya adalah literasi. Dari 76 negara yang dinilai, Indonesia berada pada urutan 69. Suatu peringkat yang kurang bagus tentunya. Hasil tersebut tidak lepas dari peran kita sebagai guru

Sebagai penutup tulisan, marilah sebagai guru kita harus mampu menjadi role model bagi  peserta didik. Guru harus  dapat menyajikan proses pembelajaran yang menarik, memberi motivasi, dan menginspirasi dari pengetahuan dan pengalamannya. Guru harus senantiasa update pengetahuan dari buku, televisi, internet, seminar pendidikan, serta pendidikan dan pelatihan. Semoga dengan guru yang bermutu tercipta pendidikan berkualitas. Selamat Hari Guru Nasional. (*/aro)

Guru SMK Negeri 8 Semarang