Beras Bau Apek Ternyata dari Gudang DKP

Bantuan Bencana Banjir di Mangkang

299
ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG
ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG

“Kepala dinasnya saya tegur. Mestinya kan ada aturan-aturannya, kalau seperti ini kan enggak bener. Jangan sampai malah terjadi apa-apa terhadap (kesehatan) korban banjir. Saya sudah minta ditarik untuk diganti beras baru.”

Hevearita Gunaryanti Rahayu (Wakil Wali Kota Semarang).
Hevearita Gunaryanti Rahayu (Wakil Wali Kota Semarang).

SEMARANG–Beras bantuan sebanyak 6 kuintal untuk korban bencana banjir di RT 02 RT 03 Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, yang berbau apek dan tidak layak konsumsi, diketahui berasal dari gudang Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Semarang. Karena itulah, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang meminta maaf atas kejadian tersebut dan mengganti dengan beras baru.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Semarang, Sapto Adi Sugihartono, membenarkan bahwa beras tersebut berasal dari gudang DKP. Padahal berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP), beras bantuan untuk korban bencana harus berkualitas baik.

“Saya mohon maaf atas kejadian ini. Kemarin mungkin mengambilnya keliru atau bagaimana. Memang, saya memerintahkan malam, pagi dikeluarkan untuk diberikan ke lokasi. Mungkin petugas yang mengambil di gudang belum mengecek,” kata Sapto, Jumat (24/11) kemarin.

Setelah menerima laporan mengenai beras yang tidak layak konsumsi tersebut, Sapto mengaku langsung meminta jajarannya melakukan penarikan dan penggantian dengan beras baru. Dikatakannya, Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang memang menyediakan beras khusus melalui program Cadangan Pangan Daerah untuk mengantisipasi kebutuhan dalam kejadian darurat. “Misalnya saat terjadi bencana banjir seperti ini, Beras Cadangan Daerah bisa digunakan untuk itu,” terangnya.

Beras Cadangan Pangan Daerah, kata dia, secara berkala harus dilakukan pengolahan. Apabila beras cadangan tersebut tidak digunakan, maka tetap disimpan di gudang DKP. “Maka dari itu diperlukan perawatan secara berkala. Kami membuat sistem pengelolaan Beras Cadangan Daerah ini agar tidak terjadi kekeliruan di kemudian hari. Yang namanya beras cadangan ya memang kami simpan, dan harus punya stok atau barang persediaan. Kalau ada masalah darurat, baru dikeluarkan. Tetapi stok itu kami batasi, ada mekanisme pengolahan dan sirkulasi,” katanya.

Untuk beras bantuan bencana banjir di Mangkang, kata Sapto, kurang lebih 600 kilogram atau 6 kuintal. “Itu untuk keperluan dapur umum di lokasi bencana banjir di Mangkang Wetan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, terang Sapto, ciri beras yang berkualitas tidak baik, misalnya ditemukan kutu, sehingga harus dilakukan pengolahan ulang. Tetapi konsekuensinya akan mengalami penyusutan kurang lebih 20 persen. “Saat ini, di gudang DKP memiliki cadangan persediaan sebanyak 18 ton beras. Mudah-mudahan tidak terjadi bencana lagi. Kalau cadangan tersebut habis ya pengadaan lagi. Setiap tahun ada pengadaan baru. Cadangan dari pusat dikelola oleh Bulog, cadangan dari provinsi dikelola oleh Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jateng, dan cadangan beras di lingkup kota dikelola oleh Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang,” imbuhnya.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu meminta Kepala DKP Kota Semarang melakukan evaluasi agar distribusi beras bantuan bencana dilakukan dengan benar. Mbak Ita -sapaan akrab Hevearita- juga meminta masalah tersebut ditelusuri apakah kesalahan petugas gudang atau kesalahan suplayer. “Kepala dinasnya saya tegur. Mestinya kan ada aturan-aturannya, kalau seperti ini kan enggak bener. Jangan sampai malah terjadi apa-apa terhadap (kesehatan) korban banjir. Saya sudah minta ditarik untuk diganti beras baru,” katanya. (amu/ida)