Lepas Bus : Region Manager Retail Fuel Marketing PT Pertamina MOR IV Iin Febrian, saat melepas bus PO Sinar Jaya untuk Uji Komparasi dengan berjalan sejauh 20.000 kilometer. (istimewa)
Lepas Bus : Region Manager Retail Fuel Marketing PT Pertamina MOR IV Iin Febrian, saat melepas bus PO Sinar Jaya untuk Uji Komparasi dengan berjalan sejauh 20.000 kilometer. (istimewa)

SEMARANG  – Dexlite, salah satu produk bahan bakar minyak (BBM) dari  PT Pertamina mulai diuji komparasikan dengan mesin solar. Produk baru PT Pertamina yang diklaim lebih hemat dan ramah lingkungan mulai dites keunggulannya oleh PT Pertamina MOR IV Jawa Tengah DIY dengan menggunakan bus PO Sinar Jaya.

Region Manager Retail Fuel Marketing PT Pertamina MOR IV Iin Febrian mengatakan pengetesan itu dilakukan menggunakan dua unit bus armada PO Sinar Jaya yang diberangkatkan dari pangkalan bus yang terletak di Cikarang, Bekasi, kemarin. Dua armada yang dijadikan sarana uji komparasi adalah bus Mercedez Benz Double Decker dan Hino RN yang akan menempuh rute Pulo Gebang-Pekalongan dan Cikarang-Pekalongan sejauh 20 ribu kilometer.

“Uji komparasi ini dilakukan antara bahan bakar jenis Dexlite dan Biosolar. Dalam uji komparasi ini kami menggandeng LAPI (Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri) Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai pihak independen,” kata Iin Febrian, usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Runtest Dexlite di Pangkalan PO Sinar Jaya, Selasa (22/11).

Menurutnya dengan uji komparasi dua jenis bahan bakar solar itu, akan diketahui keunggulan Dexlite terhadap mesin diesel yang selama ini terus berinovasi menyesuaikan perkembangan teknologi. “Dexlite memiliki kandungan Cetane Number 51, Sulfur Content maksimal 1.200 ppm, dan punya Aditif Detergensi, sementara Biosolar memiliki kandungan Cetane Number 48 dan Sulfur Content 2.500 ppm,” katanya.

Sebagai informasi, kata dia, kandungan sulfur yang semakin tinggi pada mesin diesel merupakan musuh utama mesin diesel. Ini karena dampaknya yang menyebabkan korosi, kerak, penyumbatan filter, dan memengaruhi kadar emisi gas buang.

Artinya, dengan uji komparasi ini  juga untuk mengedukasi pelanggan mengenai jenis BBM yang berkualitas, ramah lingkungan, dan menyesuaikan teknologi permesinan. Hasilnya akan diketahui setelah dua bus PO Sinar Jaya ini menyelesaikan tugasnya

Konsultan Senior BBM dan Pelumas LAPI Tri Yus Wijayanto mengatakan uji komparasi itu akan melihat dan mengamati semua parameter teknis kendaraan untuk mengetahui kemampuan masing-masing bahan bakar. Ia mencontohkan kemampuan alat bawaan mobil modern untuk membaca seberapa banyak BBM yang diinjeksikan ke silinder, kecepatan piston, termasuk berapa koreksi yang harus diberikan jika terjadi perubahan.

Proses uji komparasi itu, kata dia, juga sudah disiapkan matang oleh PO Sinar Jaya selaku pemilik armada, seperti penggantian semua filter oli dan menguras semua isi tangki bahan bakar sebelum diisi Dexlite atay Biosolar.

“Supaya tidak ada pertanyaan dan keraguan lagi, misalnya tingkat keiritan. Kalau kendaraan kosong dan jalan mendatar kan irit, misalnya begitu. Jadi, ada alat yang sebenarnya sudah di-‘support’ pabrikan di kendaraan modern, tetapi jarang orang awam tahu fungsinya,” katanya.  (tya/ric)