Hanya Bisa Pasrah, Dengar Desingan Peluru Tiap Hari

Kisah Warga Kedondong Demak Sebulan Disandera KKB di Papua (1)

287
TRAUMA: Sejumlah warga Desa Kedondong bercerita pengalaman selama disandera KKB di Papua. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TRAUMA: Sejumlah warga Desa Kedondong bercerita pengalaman selama disandera KKB di Papua. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sebanyak 38 warga Desa Kedondong, Kecamatan Demak Kota yang menjadi korban penyanderaan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kimbely dan Bati, Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua akhirnya berhasil dipulangkan ke Demak. Mereka kini sudah berkumpul keluarganya di rumah masing masing. Meski demikian, rasa trauma masih membayangi mereka. Seperti apa?

WAHIB PRIBADI, Demak

PULUHAN warga  tersebut kemarin pagi berkumpul di Balai Desa Kedondong. Mereka didata satu persatu usai dipulangkan dari Papua. Di sela pertemuan tersebut, beberapa di antaranya menceritakan pengalaman mereka selama bekerja menjadi pendulang sisa pengolahan emas PT Freeport. Mereka juga menggambarkan bagaimana rasa takut yang mendalam selama sebulan  dalam penyanderaan KKB.

Salah seorang warga korban penyanderaan, Suwarto, 51, mengungkapkan, ia sudah bekerja menjadi pendulang limbah emas di Papua sejak 2010 silam. Ia mencoba mengikuti jejak warga lainnya yang sudah lama bekerja di lokasi yang tak jauh dari Freeport tersebut. Dulu, kali pertama yang bekerja di sana adalah Trisno, 57, warga Desa Kedondong yang sekarang menikah dan tinggal di Pati.

Warga yang merantau ke tambang emas Mimika ini datang satu persatu. Mereka biasanya ke Papua lewat jalur udara dengan menumpang pesawat dari Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang dengan tujuan Timika. Tiket pesawat hanya Rp 2 juta sekali terbang. Dari bandara Timika, kemudian mereka melanjutkan perjalanan darat ke Tembagapura.  Jaraknya sekitar 70 kilometer.

Untuk menuju Tembagapura, mereka ada yang ikut menumpang kendaraan Freeport. Di lokasi pendulangan sisa-sisa emas Freport ini, banyak warga dari berbadai daerah berinisiatif membentuk paguyuban atau perkumpulan. Mereka yang berasal dari wilayah Pulau Jawa terhimpun dalam organisasi Kerukunan Keluarga Jawa Bersatu (KKJB). Sedangkan, khusus warga yang merantau dari Kabupaten Demak tergabung dalam Kerukunan Warga Demak (KWD).

Warga yang bekerja sebagai pendulang emas ini waktunya tidak bisa ditentukan. Namun yang banyak berdatangan ke lokasi pendulangan saat antara bulan Oktober hingga Februari. Sebab, rentang waktu tersebut disebut sebagai saat panen raya para pendulang. Musim penghujan cukup membantu memudahkan proses pendulangan emas.

Sehari bisa mendapatkan rata-rata 1 gram bijih emas. Jika dijual ke tengkulak bisa memperoleh Rp 430 ribu per hari. Bahkan, dalam seminggu masing-masing pekerja dapat mengumpulkan uang  hasil penjualan bijih emas ini antara Rp 4 juta hingga Rp 5 juta. Dalam sebulan bisa sampai Rp 20 juta.

Uang yang didapat biasanya langsung dikirimkan ke keluarga mereka di kampung dengan cara transfer lewat bank. Caranya, uang mereka titipkan ke petugas untuk ditransferkan ke keluarga.  “Dalam bekerja sebagai pendulang emas ini, kalau pas beruntung ya dapat uang banyak. Karena ibarat lahan basah lokasi pendulangan menjadi jujukan warga untuk mengais reazeki. Tapi, kalau pas sepi, ya hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Sebab, bahan makanan di Papua sangat mahal. Sehari bisa habis Rp 150 ribu per orang,”ujar Suwarto.

Menurutnya, teknis mendulang emas memang tidak sulit. Warga pendatang cukup sewa lokasi yang dipetak-petak ke warga lokal atau warga setempat dengan biaya sewa antara Rp 4 juta sampai Rp 5 juta sebulan. Selain itu, untuk tempat istirahat di kamp-kamp (tenda) mereka juga harus sewa ke warga lokal dengan biaya Rp 4 jutaan sebulan.  Lokasi pendulangan sendiri berada di sepanjang sungai yang terhubung dengan pusat pengolahan bijih emas PT Freeport.

“Di lokasi yang dipetak-petak ini kita mengeruk pasir yang ada di dalamnya. Pasir-pasir ini kita siram terus dengan air hingga muncul bijih emasnya. Mirip mau bikin atau mengolah garam di tambak. Agar bijih emasnya tidak hilang, maka tempat pendulangan dilengkapi dengan karpet. Bijih emas ini biasanya menempel di karpet tersebut,”bebernya.

Banyaknya pendatang yang mendulang limbah emas Freeport ini sebetulnya menguntungkan warga lokal. Sebab, ketersediaan logistik atau bahan makanan dapat diperoleh dengan mudah. Sebelum ada warga pendatang ini, warga lokal membeli sembako dengan jalan kaki dengan jarak tempuh antara 3 hingga 4 jam. Ini karena sembako dibeli di daerah Opitawa yang jaraknya cukup jauh naik turun gunung hingga tempat tinggal mereka di Bati (lokasi 68) Tembagapura.

Selain jauh, harga sembako pun melangit. Untuk beras  saja dengan isi 15 kilogram harganya Rp 250 ribu.  Kemudian, harga rokok berbagai merek antara Rp 50 ribu sampai Rp 150 ribu per bungkus. Padahal rokok yang dijual kadang ada yang hasil rampasan. Namun, dengan adanya warga pendatang, sembako selain mudah didapat, penghasilan warga lokal juga meningkat, termasuk dari hasil sewa lokasi pendulangan dan sewa tempat tidur.

Menurut Suwarto, selama bekerja di lokasi pendulangan emas ini, warga pendatang acapkali berjumpa dengan warga lokal yang bergabung dengan organisasi terlarang OPM (Organisasi Papua Merdeka). Mereka sebenarnya tidak memusuhi warga pendatang. Sebab, mereka memandang warga pendatang adalah sama sama masyarakat sipil. Namun mereka memberitahukan bahwa yang dituntut adalah pemerintah Indonesia. “Kalau dalam bahasa mereka itu, bahwa kami tidak ada musuh dengan kamu. Artinya, musuhnya bukan warga pendatang, tapi pemerintah,”katanya.

Lantas bagaimana ceritanya, kasus penyanderaan KKB terhadap warga pendatang dan warga lokal dapat terjadi?. Suwarto menceritakan, semula kondisinya baik-baik saja. Artinya, di daerah Tembagapura tersebut, kata dia, suara tembak-menembak sudah dianggap biasa. Namun, puncaknya hingga terjadi penyanderaan adalah konon ketika ada peristiwa penembakan oleh KKB terhadap mobil rumah sakit yang merawat pasien. Bahkan, pasien tersebut sempat terluka di bagian paha. Karena kejadian ini, patroli aparat pun ditingkatkan, hingga akhirnya KKB melakukan penyanderaan warga.

“Jalan akses utama antara Tembagapura-Kimbley dan Bati ditutup sama mereka (KKB). Jalan poros tersebut ada yang diputus dengan alat berat (eskavator) milik perusahaan Freeport yang dikuasai. Bahkan, saat ada proses evakuasi warga, bus milik perusahaan tidak bisa masuk. Akibatnya, warga terpaksa jalan kaki antara Kimbely-Tukin sejauh 600 meter gara-gara jalan diputus,”katanya.

Menurutnya, warga pendatang dan warga lokal diisolasi KKB mulai 17 Oktober sampai proses evakuasi pada 16 November lalu. Karena itu, sekitar sebulan warga terisolasi dari dunia luar akibat ulah KKB.  Untuk warga Desa Kedodong yang ikut tersandera bersama 1.300 warga lainnya waktu itu ada yang bertempat di Desa Longsoran dan Kimbely. Semula, di awal penyanderaan antara 1 hingga 2 minggu, kondisi masih normal. Logistik cukup. Namun, memasuki minggu ketiga dan keempat, logistik kerus menipis. Yang ada hanya beras saja. Itupun dinilai sangat kurang untuk kebutuhan makan. Apalagi, bantuan pemerintah juga tidak bisa sampai ke lokasi akibat jalan diputus dan diblokir KKB. Kalau kebutuhan minum mudah didapatkan karena air berlimpah. “Selama disandera, kami hanya bisa pasrah. Setiap saat suara desingan peluru berada di sekitar kita. Kita tidak bisa dan tidak berani berbuat apa-apa. Para anggota KKB selain bersenjata tajam, juga bersenjata AK 47. Mereka selalu mengawasi kita,”katanya.

Awal penyanderaan, KKB juga merampas handphone (HP), serta barang berharga lainnya. Karena itu, selama disandera, warga tidak mempunyai apa-apa, termasuk uang. “Kita dalam bayang-bayang ancaman kekerasan. Yang ada rasa takut dan pasrah. Kita dengar ada juga perkosaan. Sandera ada yang ditendang dan dipukul,”ujarnya.

Kekerasan sempat terjadi ketika warga yang ada di tenda atau kamp pendulang diminta keluar. Sebab, tenda atau kamp tersebut dibongkar KKB dengan alat kapak. Di situlah, kemudian ada pemukulan dan perampasan barang berharga milik warga. “Semua diambil tak tersisa,”ujarnya. (bersambung/aro)