Beras Bantuan Banjir Bau Apek

Tak Layak Kosumsi, Wali Kota Minta Maaf

356
TAK LAYAK KONSUMSI: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengecek beras bantuan yang berbau apek. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAK LAYAK KONSUMSI: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengecek beras bantuan yang berbau apek. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG- Bantuan beras untuk korban banjir bandang di wilayah RT 2 RW 3 Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, diketahui tidak layak konsumsi. Kondisi beras tersebut tidak layak konsumsi karena berbau apek, pecah-pecah atau hancur, berwarna kekuningan hingga kehitam-hitaman. Praktis, beras bantuan yang jumlahnya belasan karung tersebut tidak bisa dimanfaatkan. Sebab, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, relawan bersama warga memutuskan untuk tidak memasak beras tersebut.

Iya, ada yang datang menyerahkan bantuan beras. Tapi, saya lupa mereka dari mana. Kondisinya tidak layak untuk dimakan,” kata Ketua RT 2 RW 3 Mangkang Wetan, Sudarsono kepada Jawa Pos Radar Semarang di lokasi.

Dikatakannya, beras tersebut saat ini ditumpuk di teras SMP Hasanudin. Meski demikian, pihaknya menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak manapun yang telah menyalurkan bantuan.

“Banyak pihak membantu logistik. Kami sangat berterima kasih. Mengenai beras yang tidak layak konsumsi ini, saya yakin ini tidak ada unsur kesengajaan,” ujarnya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi meminta jajarannya untuk menindaklanjuti mengenai adanya bantuan beras tidak layak konsumsi tersebut. “Saya mewakili Pemkot Semarang mohon maaf atas kelalaian dinas kami, beras segera kita tarik dan kita ganti yang lebih baik,” kata Hendi –sapaan akrab Hendrar Prihadi.

Siap Dinormalisasi

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus mendorong Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana untuk segera melakukan normalisasi Sungai Beringin pasca banjir bandang akibat tanggul jebol sepanjang 15 meter di wilayah RT 2 RW 3 Kelurahan Mangkang Wetan, Rabu (22/11) petang.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mengatakan, jika saat ini Pemkot Semarang bersama BBWS Pemali-Juana dan Pemerintah Provinsi Jateng, terus berkoordinasi agar normalisasi Sungai Beringin bisa dilakukan pada 2018 mendatang.

“Kami terus mendorong dengan melakukan koordinasi. Selain itu juga akan dilakukan rakor agar normalisasi bisa dilakukan secepatnya. Kalau perlu kita sowan ke Kementerian PUPR terkait normalisasi Sungai Beringin,” katanya saat meninjau lokasi Banjir di RT 2 RW 3 Kelurahan Mangkang Wetan, Kamis (23/11) pagi.

Mbak Ita –sapaan akrabnya—menjelaskan, normalisasi Sungai Beringin sendiri akan dilakukan dengan sistem multi year, dengan anggaran awal sekitar Rp 200 miliar. Selain normalisasi juga akan dilakukan pemasangan parapet dan sebagainya agar banjir di wilayah Mangkang tidak kembali terulang.

Terkait pembebasan lahan, dipastikan akan rampung pada tahun ini.  “Untuk sementara ini dari Pemerintah Kota Semarang melakukan pengiriman sandbag guna menambal tanggul yang jebol. Selain itu, dari Dinas PU juga menurunkan alat berat untuk membersihkan sampah yang menyumbat sungai,” ucapnya.

Ia menerangkan, banjir di Mangkang Wetan akibat luapan Sungai Beringin sendiri terjadi lantaran sampah sungai yang menyumbat. Ditambah lagi sebuah jembatan di RT 3 RW 3, terlalu rendah dan membuat sampah-sampah tersebut menumpuk hingga menjebol tanggul.

“Nanti juga ada anggaran untuk peninggian jembatan. Saya tadi cek, sampah yang menyumbat adalah kayu, bambu hingga pelepah pisang. Perlu ada kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai,” tuturnya.

Menurut dia, banjir di Kota Semarang, terutama yang diakibatkan oleh luapan air sungai, tidak bisa diselesaikan sendiri oleh Pemkot Semarang. Pemecahan masalah banjir harus dibahas dengan kabupaten/kota yang menjadi tetangga Kota Semarang, terutama di bagian hulu sungai. Misalnya, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal.

PENANGANAN DARURAT: Warga bergotong royong menambal tanggul Sungai Beringin yang jebol dengan tumpukan karung berisi tanah dan pasir. (kanan atas) Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengecek lokasi banjir di Kelurahan Mangkang Wetan. (kanan bawah) Warga membersihkan sampah di Sungai Beringin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENANGANAN DARURAT: Warga bergotong royong menambal tanggul Sungai Beringin yang jebol dengan tumpukan karung berisi tanah dan pasir. (kanan atas) Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengecek lokasi banjir di Kelurahan Mangkang Wetan. (kanan bawah) Warga membersihkan sampah di Sungai Beringin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

“Sungai kan hulunya dari daerah atas, nah pemecahannya harus hyperland. Harus ada koordinasi dengan Kabupaten Semarang dan Kendal agar ada langkah pencegahan banjir tanpa melihat batasan wilayah,” jelasnya

Terkait satu rumah warga yang rusak, ia mengatakan telah meminta Dinas Perumahan dan Pemukimam Kota Semarang untuk memberikan bantuan perbaikan. Selain itu dari dinas lainnya, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), juga telah mendirikan dapur umum untuk membantu meringankan beban warga yang menjadi korban banjir.

“Saat ini, pembersihan masih terus dilakukan, dibantu oleh Satpol PP, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI dan Polri serta warga setempat. Pengiriman sand bag pun juga dilakukan untuk menambal dan memperkuat tanggul yang jebol,” katanya.

Camat Tugu, Anton Siswartono, mengatakan, tanggul yang jebol sepanjang 10 meter sudah ditangani oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Selain itu, bantuan telah banyak berdatangan, di antaranya dari RSUD, Damkar, Dinas Kesehatan, dan perusahaan-perusahaan.  “Ada dari PT Sango, Indofood, dan perusahaan lain. Kami berharap ini membantu pemulihan wilayah RW 3. Paling mendesak adalah kebutuhan air bersih, sekarang sudah tertangani dari PDAM,” katanya.

Dikatakannya, penanganan selanjutnya, Sungai Bringin segera dilakukan penanganan normalisasi pada 2018 mendatang oleh BBWS. Pembebasan lahan telah dilakukan, ada 38 bidang. “Sudah dilakukan pembayaran ganti untung, tinggal tersisa delapan bidang lahan karena masih melengkapi administrasi. Akhir tahun ini bisa dibayarkan. Secara prinsip sudah tidak ada masalah, karena beberapa waktu lalu ada yang menentang. Tetapi sekarang ini sudah tidak ada masalah,” ujarnya.

Kepala Bidang Opersi dan Pemeliharaan BBWS Pemali-Juwana,V Untoro Kurniawan, yang turut datang mengecek lokasi menerangkan, jika normalisasi Sungai Beringin sesuai dengan peraturan yang berlaku dilakukan dengan mekanisme survei, investigasi, desain, wilayah akusisi, konstruksi, dan maintenance. “Kalau DED sudah jadi, namun masih dilakukan revksi sesuai dengan keadaan lapangan,” jelasnya.

Menurut dia, Sungai Beringin akan dipertahankan kapasitasnya. Terkait revisi DED, dilakukan untuk menyesuaikan dengan keadaan di lapangan, seperti jembatan ataupun ada penyempitan aliran sungai yang menjadi tugas dari Perintah Kota Semarang untuk melakukan pembebasan lahan.”Tahun depan bisa untuk diprogramkan, kemarin anggaran awal sekitar Rp 200 miliar itu masih dinamis dengan skema pembangunan belum ditentukan,”pungkasnya. (den/amu/aro)