PAPARAN : Dubes Kemenlu Foster Gultom saat memberikan paparan dalam kegiatan Membumikan Masyarakat Ekonomi ASEAN: Skema MRA untuk Meningkatkan Daya Saing Insinyur Indonesia di Dekanat Teknik Undip, Tembalang, Rabu (22/11). (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
PAPARAN : Dubes Kemenlu Foster Gultom saat memberikan paparan dalam kegiatan Membumikan Masyarakat Ekonomi ASEAN: Skema MRA untuk Meningkatkan Daya Saing Insinyur Indonesia di Dekanat Teknik Undip, Tembalang, Rabu (22/11). (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) kini telah memiliki skema pengaturan bersama untuk profesi insinyur dan arsitek. Skema yang dikenal dengan Mutual Recognition Arrangements (MRAs) ini merupakan kesepakatan negara-negara ASEAN untuk saling mengakui sertifikasi insinyur dan arsitek.

Diplomat Ahli Utama Kementerian Luar Negeri, Foster Gultom, menyampaikan bahwa insinyur dan arsitek didorong untuk berpartisipasi memanfaatkan MRAs yang terwujud dalam sertifikasi ASEAN Chartered Professional Engineer dan ASEAN Architect. MRAs ini bertujuan untuk memfasilitasi tenaga kerja profesional Indonesia agar mampu bersaing dengan tenaga kerja profesional ASEAN lainnya.

“Perlu diketahui, bahwa angka kepemilikan sertifikasi dari Indonesia merupakan yang tertinggi dibandingkan negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Thailand,” ujarnya disela kegiatan Membumikan Masyarakat Ekonomi ASEAN: Skema MRA untuk Meningkatkan Daya Saing Insinyur Indonesia di Dekanat Teknik Undip, Tembalang, Rabu (22/11).

Di Indonesia sendiri, lanjut dia, pemilik sertifikasi ini telah mencapai 972 insinyur dan 151 arsitek. Sedangkan di Malaysia, hanya 351 insinyur dan 39 arsitek. Sementara Thailand memiliki jumlah lebih kecil yakni 119 insinyur dan 26 arsitek.

Bentuk dorongan kepada para arsitek dan insinyur ini salah satunya adalah Coaching Clinic. Hal ini, untuk mempermudah peserta dalam mempraktekkan pengajuan sertifikasi ASEAN.

“Kita sadari bahwa potensi pembangunan di Asia Tenggara ini sangat besar, yang tentunya membutuhkan tenaga terampil. Nah ini harus digunakan dengan baik, dalam hal ini khususnya bagi insinyur dan arsitek,” jelasnya.

Dekan Fakultas Teknik Undip, Agung Wibowo, mengatakan bahwa UNDIP sendiri telah menyiapkan Program Studi Profesi Insinyur guna meningkatkan daya saing insinyur Indonesia.

“Indonesia, kini masih menjadi salah satu negara yang memiliki rasio jumlah sarjana teknik per total populasi terendah di kawasan Asia,” katanya.

Wakil Rektor Akademis dan Kemahasiswaan Prof Muhammad Zainuri, DEA menyebutkan, kegiatan ini untuk merangkai kerjasama internasional dalam hal studi profesional. Pada tahun 2018, kerjasama tersebut mengerucut pada kompetensi bidang keilmuan sesuai tema Undip menjadi world class university yang ditopang oleh seluruh fakultas di Undip.

Kepala bidang perekonomian jateng Endi F Efendi mewakili Gubernur Jateng menuturkan, bahwa investasi di ASEAN telah dilirik pasar global dan regional. Oleh karena itu peningkatan di berbagai sektor harus dipenuhi seperti SDM yang bermutu, bahan baku yang tersedia dan kerja sama sumbangsih dari semua pihak dari pemerintah, universitas dan mahasiswa untuk mencapai program MEA. (tsa/zal)