Sebarkan Berita Hoax Haram

148
Ketua MUI, Abu Chair saat menjelaskan soal fatwa akan medsos. (AGUS WIBOWO/RADAR TEGAL)
Ketua MUI, Abu Chair saat menjelaskan soal fatwa akan medsos. (AGUS WIBOWO/RADAR TEGAL)

TEGAL- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tegal menegaskan bahwa menyebarkan berita hoax itu haram hukumnya. Tak terkecuali dengan menyebarkan berita di media sosial (medsos) yang berujung menghujat hingga membulli.

Ketua MUI Kota Tegal KH Abu Khair di depan alim ulama dan para ustadz, ustadzah se Kota Tegal, Rabu (22/11) mengatakan, fatwa tersebut dibuat berdasarkan kekhawatiran akan maraknya ujaran kebencian dan permusuhan melalui media sosial.

”Hingga, MUI menerbitkan Fatwa MUI Nomor 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial,” jelasnya.

Abu Khair berharap fatwa tersebut bisa mencegah penyebaran konten media sosial yang berisi berita bohong dan mengarah pada upaya adu domba di tengah masyarakat.

“Selain isinya jangan sampai berita bohong dan adu domba, dan yang sangat dirasakan sudah mengarah pada kebencian dan permusuhan. Jadi, itu yang dilarang oleh agama,” ujarnya.

Dalam Sosialisasi Fatwa MUI dan Orientasi Kader Ulama, Ketua MUI juga menyebut dalam fatwa itu juga tercantum beberapa hal yang diharamkan bagi umat Islam dalam penggunaan media sosial.

”Diantaranya, setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan melakukan ghibah (membicarakan keburukan atau aib orang lain), fitnah, namimah (adu domba), dan penyebaran permusuhan,” tegasnya.

MUI juga mengharamkan aksi bullying, ujaran kebencian serta permusuhan atas dasar suku, agama, ras atau antargolongan.

”Haram pula bagi umat muslim yang menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti informasi tentang kematian orang yang masih hidup,” ulasnya.

Umat muslim juga diharamkan menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i. Haram pula menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan atau waktunya.

MUI juga melarang kegiatan memproduksi, menyebarkan dan atau membuat dapat diaksesnya konten maupun informasi yang tidak benar kepada masyarakat.

”Selain itu, aktivitas buzzer di media sosial yang menyediakan informasi berisi hoax, gibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya haram juga,” bebernya.

Demikian juga orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya. (gus/ela/jpg/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here