Miliki Satu Tangan, Musisi Amerika Mampu Berkarya

278
GIGIH BERKARYA : Tony Memmel dan band, serta AriReda membagikan pengalaman bermusik di hadapan perserta talkshow “American Music Abroad”, Selasa (21/11) sore. (Dhinar Sasongko/Radar Semarang)
GIGIH BERKARYA : Tony Memmel dan band, serta AriReda membagikan pengalaman bermusik di hadapan perserta talkshow “American Music Abroad”, Selasa (21/11) sore. (Dhinar Sasongko/Radar Semarang)

SALATIGA – Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya dan berkreasi. Seperti yang dilakukan oleh Tony Memmel. Pria asal Milwaukee, Amerika Serikat ini memiliki tangan yang tidak sempurna sejak lahir. Lengan kirinya hanya bertumbuh sebatas siku. Meski demikian dia piawai bermain gitar string atau akustik sekaligus menulis lagu.

Sosok Tony Memmel bisa memberi inspirasi bagi penyandang disabilitas. Ketidaksempurnaan justru menjadi motivasinya untuk terus berkarya. Betapa tidak, apa yang dilakukannya saat ini yaitu bermain musik bersama dengan bandnya merupakan buah dari kegigihannya berlatih gitar selama delapan belas tahun.

Pengalaman Tony dalam bermain musik keliling dunia dibagikannya kepada ratusan civitas akademika Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dalam talkshow bertajuk “American Music Abroad” yang diselenggarakan oleh program studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) bekerja sama dengan  Kedutaan Besar Amerika Serikat, Selasa (21/11) siang.

Bertempat di auditorium Ds. Djojodiharjo kampus UKSW Jalan Dr. O. Notohamidjojo (Blotongan), Tony bersama anggota bandnya yang terdiri dari istrinya, Lesleigh Memmel dan rekannya Joey Wangerd membagikan kisah perjalanan bermusiknya.

Dikatakan Tony, dirinya terlahir bukan dari keluarga musisi. Namun, lewat bermusik  dirinya merasa menemukan gairah kehidupan dengan segala keterbatasannya.

“Jauh sebelum saya bisa bermusik, mimpi terbesar adalah dapat mengenalkan musik kepada seluruh orang di dunia meskipun dengan keterbatasan. Bagi saya musik bukan sekadar ekspresi, lebih dari itu musik dapat mempertemukan banyak orang meskipun tidak saling mengenal,” ujar Tony.

Saat ini Tony tengah melakukan tour di beberapa kota di Indonesia bersama bandnya. UKSW menjadi salah satu tempat yang dikunjungi dalam agenda tour pemenang ajang kompetisi yang diselenggarakan oleh American Music Abroad ini.

Pria berusia 31 tahun itu berpesan kepada seluruh peserta  bahwa setiap orang telah memiliki bakat sejak lahir yaitu bekerja keras. Bakat untuk bekerja keras tersebutlah yang harus dikembangkan. Ia mencontohkan untuk bisa bermain gitar seperti sekarang dirinya harus bekerja keras memasang lakban hitam pada ujung sikunya. Lakban ini digunakan untuk mencengkeram pick gitar atau memetik senar gitar.

Selain Tony, hadir pula duo Ari Malibu dan Reda Gaudiamo yang tergabung dalam AriReda. Keduanya juga berbagi kisah mengenai perjalan karir bermusik yang telah dirintis sejak tahun 80-an.

Bagi keduanya, dapat mempresentasikan musik kepada orang yang belum pernah melihat mereka bermain, adalah kesempatan yang menyenangkan. Mengenai jalur musik yang mereka geluti yaitu musikalisasi puisi, membuat keduanya tidak seterkenal musisi lain yang membawakan genre musik umum seperti pop. Tujuannya tak lain untuk mengenalkan puisi kepada khalayak luas.

“Sebenarnya lagu hanya sebagai pengantar. Cita-cita kami, kalau puisi yang kami ubah menjadi lirik lagu  sudah dihafal, maka upaya mengenalkan puisi itu tercapai,” tutur Reda.

Di akhir talkshow , baik Tony dan band maupun AriReda menghibur peserta talkshow dengan pertunjukkan musik masing-masing.Tak sedikit peserta ikut bersenandung mengikuti irama musik yang mereka mainkan.

Ditemui terpisah, Petsy Jessy Ismoyo, MSi, selaku koordinator kegiatan menuturkan acara ini disiapkan oleh sejumlah mahasiswa yang mengambil matakuliah NGO & International Development.

“Di kelas tersebut, peserta didik diajak untuk terjun langsung dalam community engagement dengan berbagai kegiatan bertemakan pendidikan. Rangkaian kegiatan meliputi program mengajar bahasa Inggris, kunjungan ke panti asuhan dan sekolah luar biasa di sekitar Salatiga, diskusi ilmiah, dan puncaknya adalah kegiatan ini,” tutur Petsy.

Rektor UKSW, Prof  Dr (HC) Pdt. John A. Titaley, ThD yang berkesempatan membuka acara mengapresiasi kehadiran Tony  dan band serta AriReda di UKSW. “Terimakasih untuk kesempatan yang telah diberikan sehingga memberi wawasan baru bagi mahasiswa mengenai musik serta menambah semangat dan motivasi untuk terus bekerja keras,” terang rektor. (sas/lis)