Hidup di Asrama Rentan TB

467
ANTRE BEROBAT: Ratusan pasien berobat ke Balai Kesehatan Masyarakat (Balkemas) Wilayah Magelang, Rabu (22/11) kemarin. (ANISATU ULFAH/JAWA POS RADAR KEDU)
ANTRE BEROBAT: Ratusan pasien berobat ke Balai Kesehatan Masyarakat (Balkemas) Wilayah Magelang, Rabu (22/11) kemarin. (ANISATU ULFAH/JAWA POS RADAR KEDU)

MAGELANG–Tinggal di asrama maupun pondok dengan beragam latarbelakang penghuni   di dalamnya, berisiko pada penularan penyakit. Salah satunya, penyakit paru-paru alias tuberculosis (TB). Mengantisipasi hal itu, Balai Kesehatan Masyarakat (Balkemas) Wilayah Magelang bekerja sama dengan dengan sejumlah pondok maupun asrama, menempatkan kader Balkemas.

Kasubag TU Balkesmas Wilayah Magelang, Diah Rina Andriani menyampaikan, tempat-tempat endemik seperti pondok pesantren (Ponpes) dan asrama, memiliki kemungkinan penularan TB yang tinggi. Karena itu, pihaknya bekerja sama dengan beberapa pondok pesantren.

“Di sana, ada kader Balkesmas. Jadi,  apabila ada penghuni yang merasakan gejala TB, akan diimbau melakukan pemeriksaan segera,” kata Rina—sapaan intimnya—saat ditemui koran ini, di kantornya, Rabu (22/11) kemarin.

Balai Kesehatan Masyarakat (Balkemas) Wilayah Magelang secara khusus meminta masyarakat waspada terhadap penyakit TB. Sebab, penyakit yang disebabkan kuman mycrobacterium tuberkulosa ini, mudah menular melalui udara.

Diah Rina Andriani mengatakan, pada musim hujan dengan kondisi udara lembab, membuat  kuman TB  bisa hidup lebih lama. Menurut dia, pada musim hujan, akan sangat mungkin terjadi peningkatan penderita TB.

“Misalnya, ada seseorang yang batuk, bersin, atau meludah, dan percikan air liurnya terkontaminasi kuman tadi, besar kemungkinan orang di dekatnya juga akan tertular penyakit tersebut,” kata Rina.

Kendati demikian, tidak semua kuman yang masuk ke dalam tubuh, akan tercetus menjadi penyakit TB. Kuman tersebut sifatnya hanya tidur, jika  daya tahan orang itu kuat, sehingga tidak akan terjangkit TB. Sebaliknya, jika terjangkit penyakit ini, penderita harus menjalani pengobatan hingga tuntas atau dinyatakan benar-benar sembuh.  “Pengobatan bagi penderita TB selama 6 bulan yang dibagi menjadi dua fase.”

Fase intensif, pada dua bulan pertama. Sedangkan fase lanjutan, mulai bulan ketiga sampai  keenam. Selama fase intensif, obat diminum setiap hari secara teratur. Memasuki fase lanjutan, obat diminum seminggu tiga kali. Serta, dilakukan pemeriksaan dahak pada akhir bulan kedua, kelima, dan keenam.  “Pengobatan harus dijalani sampai tuntas.”

Jika tidak tuntas, sambung Rina,  penderita akan terjangkit TB Multy Drug Resistant (TB MDR). Untuk itu, pengobatannya  selama 2 tahun, dengan suntik selama 6 bulan secara rutin.  “Itu karena kuman mycrobacterium tuberkulosa sudah kebal terhadap obat TB yang biasa,” ungkap Rina.

Jika penderita terkena TB MDR, sangat menguras biaya pengobatan. Sebab jangka waktu pengobatannya sangat lama. “Tapi yang bahaya, TB MDR ini menular ke orang lain, juga TB MDR.”

Jenis TB bukan hanya menyerang paru-paru. Tapi  juga bisa menyerang organ lain seperti kulit, tulang, kelenjar, selaput otak, dan mata. “Kuman TB 80 persen di paru-paru, sisanya di ekstra paru.”

Dibandingkan 2016,  hingga November 2017, penderita TB di wilayah Magelang menurun. Pada  2016 jumlah pasien TB POS sebanyak 278 orang, TB PIS kategori 2 (15 orang), TB negatif (253 orang), TB ekstra paru (20 orang), dan 69 TB anak. Sedangkan tahun ini, jumlah pasien TB POS sebanyak 173 orang, TB PIS kategori 2 (12 orang), TB negatif (209 orang), TB ekstra paru (8 orang), dan 46 TB anak. “Untuk anak-anak pasti tertular dari orang dewasa, karena anak-anak tidak mungkin bisa menularkan ke anak-anak juga.”

Upaya mengendalikan penyakit TB, masyarakat diimbau melaksanakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Ada  beragam kegiatan di dalamnya. Seperti memeriksa kesehatan secara rutin, mengonsumsi buah dan sayur, serta memperbanyak aktivitas fisik agar daya tahan tubuh kuat. “Sehingga tidak mudah terserang TB, terutama saat musim hujan.”(mg1/put/isk)