33 C
Semarang
Jumat, 29 Mei 2020

Bermula dari Keinginan Ridwan-Susi untuk Perbaiki Ekonomi Keluarga

Getuk Eco, dari Tenongan hingga Toko Oleh-Oleh

Another

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

Bagi masyarakat Magelang, nama getuk satu ini sudah cukup kondang: Getuk Eco. Diproduksi sejak 1976 silam, Getuk Eco menjadi salah satu oleh-oleh khas Kota Sejuta Bunga.

SIAPA sangka, Getuk Eco awalnya hanya dipasarkan melalui warung tetangga, pasar, dan pengepul jajanan (tenongan). Namun, berkat kegigihan Ridwan Purnomo (Siauw Sing Hian) dan sang istri, Susi Inawati (Tjong Hwa Ing), getuk bertekstur lembut dengan rasa maknyuss ini, bisa kondang hingga sekarang.

Sejak 2007 lalu, usaha Getuk Eco dilanjutkan oleh Andreas Purnomo, putra pertama Ridwan Purnomo-Susi Inawati. Andreas mengenang, mulanya sang ayah (Ridwan Purnomo) mencoba memasarkan Getuk Eco  ke beberapa agen travel di Magelang. “Ternyata tanggapan konsumen sangat baik, citarasa getuk sangat diterima di lidah masyarakat,” kata Andreas.

Awal orang tua memulai usaha getuk, kenang Andreas, terdorong untuk meningkatkan kondisi ekonomi keluarga. Ketika itu, Ridwan-Susi baru dikaruniai anak kedua. Pasangan suami-istri ini lantas mencoba memulai usaha, dengan membuat getuk tiga warna. Keduanya juga memodifikasi  getuk tradisional yang sudah cukup dikenal di Kota Magelang.

“Awalnya ya hanya dipasarkan melalui warung tetangga, pasar, dan pengepul jajanan. Selanjutnya, ayah saya  mulai mencoba memasarkan ke beberapa agen travel di Magelang. Ternyata, tanggapan konsumen sangat baik dan citarasanya sangat diterima di lidah masyarakat,” kata Andreas.

Pada waktu itu, Ridwan belum memberikan merek untuk getuk buatannya. Seorang pemilik agen travel lantas menyarankan agar getuk diberi nama atau merek. “Tujuannya, tentu agar konsumen mudah untuk mencarinya.”

Nah,  setelah mencari nama yang sesuai, akhirnya getuk ini diberi nama: Getuk Tri Warna Eco. Tri warna,  karena getuknya terdiri atas  tiga warna: putih, merah muda, dan coklat. Eco  sendiri, dalam bahasa Jawa, berarti enak atau sedap. “Selain itu, Eco juga singkatan dari Enak dan Cocok untuk Oleh-Oleh.” Kata Eco juga dipilih karena mudah diingat dan diucapkan. “Kami tentu berharap merek Eco selalu diingat karena citarasanya yang enak.”

Dalam perjalanan waktu, Getuk Eco semakin dikenal dan pemasarannya semakin meluas hingga ke Semarang, Yogyakarta, dan beberapa kota lain di sekitar Magelang. Kualitasnya tetap terjaga, karena menggunakan bahan-bahan terbaik. Citarasa khas ketela pada Getuk Eco membuat konsumen sangat menyukai untuk dijadikan oleh-oleh buat teman maupun kerabat di luar kota.

Sejak dilanjutkan oleh Andreas Purnomo, putra pertama pasangan Ridwan Purnomo-Susi Inawati, usaha Getuk Eco semakin berkibar. Pada 2010, dibukalah Toko Oleh-Oleh Getuk Eco di Jalan D.I. Panjaitan 5, Magelang. Tempat yang nyaman dengan produk oleh-oleh yang lengkap, serta pelayanan yang terbaik, menjadi keunggulan Pusat Oleh-Oleh Getuk Eco.

Dengan dibukanya toko oleh-oleh ini, Getuk Eco juga menerima kunjungan untuk melihat proses pembuatan getuk. Dalam perkembangannya, fasilitas ini banyak diminati oleh sekolah-sekolah, beberapa dinas pemerintah, maupun kalangan umum.

“Di dalam workshop ini, pengunjung bisa  melihat proses pembuatan getuk secara langsung. Bahkan mencoba ikut serta dalam proses pembuatan getuk,” kata Andreas. Fasilitas dan layanan ini rupanya menarik beberapa stasiun televisi dan media untuk meliput Pusat Oleh-Oleh Getuk Eco, sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Kota Magelang.  “Masyarakat bisa mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Getuk Eco untuk melihat langsung proses pembuatan getuk sebagai makanan khas kota Magelang.” (put/ima/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi sering sungkan minta sangu kepada...

More Articles Like This

Must Read

Jangan Panik Hadapi Kebakaran

GETASAN - SDIT Izzatul Islam Getasan bekerja sama dengan petugas pemadam kebakaran (Damkar) Kabupaten Semarang wilayah Kecamatan Tengaran, Senin (25/9) memberikan edukasi tentang penanggulangan...

Ki Narto Sabdo Bersolek, Parkir Progresif Batal

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo di kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang dipercantik. Sejumlah perawatan dilakukan pada gedung yang biasa dipakai untuk...

Teh Herbal, Hilangkan Dahak, Atasi Gangguan Pernapasan

Empat siswa SMP Kebon Dalem Semarang mendapatkan apresiasi dari pihak sekolah, atas inovasinya menghadirkan Teh Ji’dias atau Teh Biji Adas. Keempatnya adalah Monica Putri,...

Pengawasan Penumpang Kapal Diperketat

RADARSEMARANG.COM, KENDAL - Dinas Perhubungan (Kendal) Kendal melakukan pemeriksaan secara ketat kepada penumpang kapal KMP Kalibodri tujuan Kendal-Kumai (Kalimantan Tengah). Tujuannya agar tidak ada...

Canangkan Program Demak Bebas Sampah

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Demak menargetkan pada tahun 2025 Kota Wali bisa bebas dari sampah.  Untuk mencapai target itu, maka setiap...

Pemprov Kurang Peduli Kebudayaan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemprov Jateng dinilai masih kurang peduli terhadap kebudayaan sebagai salah satu isu penting dalam pembangunan. Padahal, kebudayaan bisa dijadikan panduan dalam...