BERGEMBIRA: Anak-anak dari salah satu TK di Magelang mengunjungi workshop Getuk Eco di Jalan DI Panjaitan untuk melihat proses pembuatan getuk. (DOK GETUK ECO)
BERGEMBIRA: Anak-anak dari salah satu TK di Magelang mengunjungi workshop Getuk Eco di Jalan DI Panjaitan untuk melihat proses pembuatan getuk. (DOK GETUK ECO)

Bagi masyarakat Magelang, nama getuk satu ini sudah cukup kondang: Getuk Eco. Diproduksi sejak 1976 silam, Getuk Eco menjadi salah satu oleh-oleh khas Kota Sejuta Bunga.

SIAPA sangka, Getuk Eco awalnya hanya dipasarkan melalui warung tetangga, pasar, dan pengepul jajanan (tenongan). Namun, berkat kegigihan Ridwan Purnomo (Siauw Sing Hian) dan sang istri, Susi Inawati (Tjong Hwa Ing), getuk bertekstur lembut dengan rasa maknyuss ini, bisa kondang hingga sekarang.

Sejak 2007 lalu, usaha Getuk Eco dilanjutkan oleh Andreas Purnomo, putra pertama Ridwan Purnomo-Susi Inawati. Andreas mengenang, mulanya sang ayah (Ridwan Purnomo) mencoba memasarkan Getuk Eco  ke beberapa agen travel di Magelang. “Ternyata tanggapan konsumen sangat baik, citarasa getuk sangat diterima di lidah masyarakat,” kata Andreas.

Awal orang tua memulai usaha getuk, kenang Andreas, terdorong untuk meningkatkan kondisi ekonomi keluarga. Ketika itu, Ridwan-Susi baru dikaruniai anak kedua. Pasangan suami-istri ini lantas mencoba memulai usaha, dengan membuat getuk tiga warna. Keduanya juga memodifikasi  getuk tradisional yang sudah cukup dikenal di Kota Magelang.

“Awalnya ya hanya dipasarkan melalui warung tetangga, pasar, dan pengepul jajanan. Selanjutnya, ayah saya  mulai mencoba memasarkan ke beberapa agen travel di Magelang. Ternyata, tanggapan konsumen sangat baik dan citarasanya sangat diterima di lidah masyarakat,” kata Andreas.

Pada waktu itu, Ridwan belum memberikan merek untuk getuk buatannya. Seorang pemilik agen travel lantas menyarankan agar getuk diberi nama atau merek. “Tujuannya, tentu agar konsumen mudah untuk mencarinya.”

Nah,  setelah mencari nama yang sesuai, akhirnya getuk ini diberi nama: Getuk Tri Warna Eco. Tri warna,  karena getuknya terdiri atas  tiga warna: putih, merah muda, dan coklat. Eco  sendiri, dalam bahasa Jawa, berarti enak atau sedap. “Selain itu, Eco juga singkatan dari Enak dan Cocok untuk Oleh-Oleh.” Kata Eco juga dipilih karena mudah diingat dan diucapkan. “Kami tentu berharap merek Eco selalu diingat karena citarasanya yang enak.”

Dalam perjalanan waktu, Getuk Eco semakin dikenal dan pemasarannya semakin meluas hingga ke Semarang, Yogyakarta, dan beberapa kota lain di sekitar Magelang. Kualitasnya tetap terjaga, karena menggunakan bahan-bahan terbaik. Citarasa khas ketela pada Getuk Eco membuat konsumen sangat menyukai untuk dijadikan oleh-oleh buat teman maupun kerabat di luar kota.

Sejak dilanjutkan oleh Andreas Purnomo, putra pertama pasangan Ridwan Purnomo-Susi Inawati, usaha Getuk Eco semakin berkibar. Pada 2010, dibukalah Toko Oleh-Oleh Getuk Eco di Jalan D.I. Panjaitan 5, Magelang. Tempat yang nyaman dengan produk oleh-oleh yang lengkap, serta pelayanan yang terbaik, menjadi keunggulan Pusat Oleh-Oleh Getuk Eco.

Dengan dibukanya toko oleh-oleh ini, Getuk Eco juga menerima kunjungan untuk melihat proses pembuatan getuk. Dalam perkembangannya, fasilitas ini banyak diminati oleh sekolah-sekolah, beberapa dinas pemerintah, maupun kalangan umum.

“Di dalam workshop ini, pengunjung bisa  melihat proses pembuatan getuk secara langsung. Bahkan mencoba ikut serta dalam proses pembuatan getuk,” kata Andreas. Fasilitas dan layanan ini rupanya menarik beberapa stasiun televisi dan media untuk meliput Pusat Oleh-Oleh Getuk Eco, sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Kota Magelang.  “Masyarakat bisa mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Getuk Eco untuk melihat langsung proses pembuatan getuk sebagai makanan khas kota Magelang.” (put/ima/isk)