Permainan Dakon, Ajarkan Nilai Kerukunan

115
Oleh. Hesti Kusumaningrum, S.Pd
Oleh. Hesti Kusumaningrum, S.Pd

Pendidikan yang pertama berawal dari lingkungan keluarga. Orang tua sebagai figur yang akan ditiru oleh anaknya. Figur tersebut akan berpengaruh besar pada pola pikir dan juga perilaku dari seorang anak. Sehingga interaksi antara anak dan orang tua sangat diperlukan untuk pembentukan kepribadian dasar. Orang tua dituntut bisa mengasuh dengan pola pendidikan yang penuh kasih sayang dan kejelasan norma. Seperti yang tertuang dalam sebait tembang Pocung “Pan Sedulur, tuwa kang wajib pitutur, Marang kang taruna, Kang anom wajibe wedi, Sarta manut wulange sadulur tuwa.

Tembang tersebut menceritakan bahwa kewajiban orang tua mendidik serta memberikan nasehat kepada anak, sebaliknya kewajiban anak adalah mematuhi perintah orang tua. Oleh karena itu permainan tradisional diciptakan sebagai sarana menyampaikan nasehat baik kepada anak-anak.  Permainan tradisional mampu mengarahkan anak-anak pada kegiatan sosial dan kebersamaan yang tinggi. Terlebih kebudayaan Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.

Hampir seluruh wilayah di Indonesia mempunyai permainan tradisional yang sarat akan nilai-nilai luhur. Dakon di Jawa Tengah, Betengan di Jawa Barat, Lari Tampurung di Sulawesi, Bagasing di Kalimantan, bahkan di ujung Papua terdapat permainan Kayu Malele. Namun sayang, permainan tradisional tersebut lambat laun mulai dilupakan oleh generasi sekarang seiring perkembangan jaman. Sebagai contoh, permainan Dakon yang dibeberapa daerah dikenal dengan nama congklak. Sedangkan di Lampung dikenal dengan nama dentuman lamban dan di Sulawesi dikenal dengan nama makaotan, manggaleceng, anggalacang, dan nogarata. Walaupun begitu, bukan berarti alat dakon sudah tidak ada di masa kini. Masih banyak dijumpai alat dakon di masyarakat, hanya saja fungsinya berbeda. Papan kayu tersebut tidak lagi digunakan untuk bermain dakon, akan tetapi dijadikan pajangan rumah agar terlihat njawani.

Dakon merupakan salah satu jenis permainan tradisional yang dimainkan oleh anak laki-laki maupun perempuan. Dakon sebenarnya adalah alat untuk bermain congklak (KBBI). Alat ini terbuat dari kayu dengan panjang 50 cm, lebar 20 cm, dan tebal 10 cm. Bagian atas kayu ini diberi lubang dengan diameter 5 cm dan 3 cm dalamnya. Jumlah lubang dakon minimal 14 buah. Terdiri dari 12 lubang kecil yang saling berhadapan dan 2 lubang besar dikedua sisinya. Permainan ini membutuhkan biji dakon. Biji dakon bisa menggunakan biji sawo kecil, sawo manila, atau pun kelereng kecil (https://id.wikipedia.org/wiki/Dakon). Lubang-lubang kecil pada papan dakon dinamakan “kampung”, sedangkan lubang besar dikenal dengan istilah “rumah”(www.kompasiana.com/sarie/yooo-dolanan-dhakon_55283614f17e613e2b8b457f).

Cara bermain dakon sangat sederhana. Pada awal permainan, setiap lubang kecil diisi dengan 7 biji dakon. Dua orang pemain berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih “kampung” yang akan diambil dan meletakkan satu per satu biji dakon ke “kampung” disebelah kanannya, dengan arah memutar berlawanan arah jarum jam. Bila biji terakhir berhenti di “kampung” yang berisi biji lainnya, maka ia dapat melanjutkan ke “kampung” disisinya. Permainan berakhir ketika salah seorang pemain berhenti di “kampung” yang kosong, baik di “kampung” sendiri maupun “kampung” lawan. Jika mereka menggunakan sistem tembakan, maka pemain bisa mengambil biji lawan yang tepat berada di “kampung” sejajar tempat biji terakhir berhenti, asalkan biji berhenti di “kampung” kosong milik sendiri. Sebaliknya jika biji terakhir jatuh di “kampung” kosong milik lawan, berarti pemain tersebut mati dan berganti dengan lawan untuk melanjutkan mengisi biji.

Bermain dakon bisa dimainkan tanpa kayu dengan membuat lubang-lubang kecil di tanah sejumlah 14 dan batu kecil sebagai bijinya. Jika banyak pemain, giliran dibuat sesuai dengan kesepakatan bersama. Jumlah biji dakon tidak ditentukan. Ini disesuaikan kondisi dan kesepakatan para pemain. Dengan bermain dakon anak tidak hanya diajarkan tentang cara menghitung, tetapi juga nilai kejujuran, keadilan dan kerukunan.

Jujur, karena dalam permainan dakon akan diawali dengan suit. Pemain yang menang akan menjalankan biji dakon terlebih dahulu. Sedangkan yang kalah akan menunggu giliran mengisi lubang dengan biji dakon. Ini menunjukkan setiap pemain telah menerapkan sifat Digdaya Tanpa Aji. Artinya bermain dakon tidak menggunakan jimat maupun kesaktian, hanya mengandalkan keberuntungan dan keahlian berhitung.

Nilai keadilan terlihat ketika seorang pemain harus memasukkan biji dakon satu persatu secara runtut ke “kampung” dan “rumah” melawan arah jarum jam. Tidak boleh ada “kampung” yang terlewati hingga biji dakon ditangan habis dibagi rata. Di akhir permainan, hanya biji dakon di “rumah” sebelah kanan saja yang menjadi milik sendiri. Sedangkan biji di ”rumah”sebelah kiri adalah milik lawan. Disinilah orang Jawa memberi nasehat, orang hidup harus memiliki sifat Ambeg Adil paramarta. Artinya barang milik kita dijaga dengan baik, sedangkan barang milik orang lain harus diberikan sesuai haknya.

Dari sekian nilai luhur yang terkandung dalam permainan dakon, inti permainan adalah mengajarkan kerukunan. Permainan ini bisa menjadi sarana mempererat persaudaraan. Seperti halnya yang tertuang dalam baris terakhir tembang Sinom, bahwa sebagai bagian dari masyarakat khususnya orang Jawa harus bisa Amemangun Karyenak Tyasing Sasama. Artinya darimanapun asal kita, perbedaan suku, budaya, dan bahasa tidak boleh menjadi penghalang terciptanya kerukunan di masyarakat. Kita wajib menjaga ketentraman hidup dengan cara saling toleransi, menghargai, dan menghormati sesama manusia.

Guru SMP 36 Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here