Kebutaan di Jateng Masih Tinggi

251

SEMARANG – Dinas Kesehatan Jateng me launching Sistem Jejaring Kemitraan Pelayanan Kesehatan Indera (Sijala Indera) untuk mengatasi permasalahan indera. Sebab, permasalahan kesehatan indera di wilayah Jateng tergolong memprihatinkan. Dari data Riset Kebutuhan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, kebutaan umur lebih dari 6 tahun mencapai 0,5 persen dari jumlah penduduk. Pada 2017 ini, meningkat menjadi 1 persen.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Jateng, Tatik Murhayati menjelaskan, berdasarkan penelitian WHO, prevalensi kebutaan yang melebihi 1 persen bukan hanya masalah medis saja, tapi merupakan masalah sosial yang perlu ditangani secara lintas program dan lintas sektor.

Dijelaskan, penyebab utama kebutaan adalah katarak 0,78 persen, glaucoma 0,20 persen, kelainan refraksi 0,14 persen, dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan usia lanjut 0,38 persen.

Melihat angka yang cukup memprihatinkan itu, WHO telah mencanangkan program Vision 2020, The Right to Sight yang kemudian ditindaklanjuti dengan penyusunan Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (Renstranas PGPK) untuk mencapai Vision 2020.

Sementara untuk pencegahan dan penanggulangan pendengaran dan ketulian telah dicanangkan program Sound Hearing 2030, yang kemudian ditindaklanjuti dengan penyusunan Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Renstranas PGPKT) untuk mencapai Sound Hearing 2030.

“Masalah gangguan kesehatan indera khususnya gangguan penglihatan, kebutaan, pendengaran dan ketulian perlu mendapatkan perhatian dari kita semuanya baik dari pemerintah daerah Provinsi maupun Kabupaten/Kota, walaupun bukan merupakan permasalahan prioritas,” ucapnya saat launching Sijala Indera di Hotel MG Suites Semarang, kemarin.

Menurutnya, perlu adanya antisipasi secara terpadu dari hulu ke hilir dengan melakukan upaya promotif, preventif serta upaya kuratif dan rehabilitatif yang optimal terhadap masyarakat. “Perlu kerjasama dalam bentuk kemitraan dan pemberdayaan secara gotong royong antara pemerintah, pihak rumah sakit, dan dunia usaha, dan stakeholder terkait,” tuturnya.

Wakil Komda Persatuan Dokter Spesialis Mata (Perdami) Jateng, Trilaksana Nugroho mengapresiasi upaya Pemprov Jateng untuk mengatasi masalah indera di wilayahnya. Dia berharap, Sijala Indera bukan hanya membuat wacana dan konsep saja, tapi juga mendorong implementasinya. “Semoga ini bisa menjadi tempat untuk berkoordinasi antara pemerintah dan pihak swasta,” terangnya. (amh/ric)