Pertimbangkan Aspek Ekonomi hingga Politik

516
BERHARAP IKLIM KONDUSIF : Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi menyerahkan cinderamata kepada Kapolri Jendral (Pol) Tito Karnavian pada acara Sharing Session KSEI
BERHARAP IKLIM KONDUSIF : Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi menyerahkan cinderamata kepada Kapolri Jendral (Pol) Tito Karnavian pada acara Sharing Session KSEI "Menyikapi Dinamika Ekonomi dan Politik Tahun 2018." (ISTIMEWA)

SEMARANG – Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Friderica Widyasari Dewi menyampaikan untuk berinvestasi di Pasar Modal Indonesia, para pelaku usaha harus memperhatikan aspek ekonomi, dan politik dalam negeri.

“Kita sebagai pelaku juga harus mengetahui update terbaru dalam kedua aspek ini,” katanya dalam sharing session kepada para pemakai jasa KSEI dengan tema “Indonesia 2018 – Sailing Through Economic and Political Tide”. Acara digelar di Main Hall, Galeri Bursa Efek Indonesia, kemarin.

Pada acara kali ini KSEI menghadirkan tokoh-tokoh yang sangat kompeten di bidangnya dan dapat memberikan pandangannya untuk perencanaan strategi bisnis di 2018. Sebelum penyelenggaraan sharing session, acara diawali dengan pembukaan perdagangan bursa oleh Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian.

Kepala Departemen Pengawas Pasar Modal 2A OJK Yunita Linda Sari berharap melalui kegiatan ini akan terjadi diskusi yang konstruktif dan berkontribusi optimal serta menjadi wahana untuk berbagi pengetahuan di antara pelaku pasar modal. “Kami juga berharap pelaku pasar dapat meningkatkan kinerjanya guna mendukung perkembangan pasar modal dalam menghadapi tantangan global,” katanya.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyampaikan Indonesia berpotensi menjadi negara dominan dengan pertumbuhan ekonomi diatas 5 persen serta adanya stabilitas keamanan dan politik. Saat ini demokrasi mengarah pada liberalisme. “Demokrasi yang baik akan menciptakan check and balance, persoalan yang harus diwaspadai adalah demokrasi kebablasan yang kemudian diterjemahkan boleh berbuat apa saja sehingga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan politik,” ungkapnya.

Dalam menghadapi Pilkada, dia berharap para kontestan politik tak menjual isu SARA, namun lebih kepada program kerja agar tidak mengoyak keberagaman. “Polri dan TNI solid dalam menjaga keamanan dan stabilitas politik di Indonesia, investor tidak perlu ragu berinvestasi di Indonesia,” tegasnya.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis, UGM A. Tony Prasentiantono menyampaikan, perekonomian Indonesia masih tumbuh pada kisaran 5 persen karena kelesuan ekonomi sebagai dampak ketidakpastian serta agresitivitas pajak yang menyebabkan konsumen cenderung mengerem konsumsi. “Ada beberapa hal positif yang dapat membuat pertumbuhan ekonomi 2018 lebih tinggi yakni 5,3 persen, antara lain stabilitas harga komoditas, stabilitas rupiah, peningkatan investasi, capital inflows dan inflasi yang tetap rendah,” katanya.

Tony memprediksi pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih bisa meningkat ke level 6-7 persen di kemudian hari karena saat ini pemerintah tengah giat membangun infrastruktur yang dampaknya baru dapat dirasakan kelak. Perkembangan nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini juga menunjukan optimisme pasar terhadap prospek perekonomian Indonesia. (ric)