DUKUNG PETANI TEMBAKAU : Pengunjung melihat berbagai karya kartun dalam pameran International Tobacco Carton Exhibition 2017 yang berlangsung di Wisma Perdamaian Semarang, kemarin. (Adityo dwi/jawa pos radar semarang)
DUKUNG PETANI TEMBAKAU : Pengunjung melihat berbagai karya kartun dalam pameran International Tobacco Carton Exhibition 2017 yang berlangsung di Wisma Perdamaian Semarang, kemarin. (Adityo dwi/jawa pos radar semarang)

SEMARANG – Sebanyak 360 kartunis dari berbagai negara, Senin (20/11) mengikuti pameran International Tobacco Carton Exhibition 2017 yang berlangsung di Wisma Perdamaian Semarang. Dalam kegiatan tersebut, selain pameran juga berlangsung teatrikal dan pembacaan puisi oleh seniman Jateng.

Ketua Panitia, Abdul Arif mengatakan pameran tersebut digelar dalam rangka Hari Petani Tembakau. Dia menambahkan sebelum dilakukan pameran tersebut, pihaknya menerima kiriman kartun sebanyak 609 karya dari 360 kartunis yang tersebar di 35 negara. Diantaranya dari Azerbaijan, Indonesia, India, Kroasia, dan Tiongkok. Dan yang paling banyak pesertanya adalah dari Tiongkok dan Indonesia.

“Kartun itu merupakan bagian yang menarik, selain dari visual juga kartun mampu menyuarakan pesan-pesan. Pesan yang akan disuarakan sendiri adalah bagaimana suara petani tembakau karena mereka semakin hari semakin terdesak dengan kebijakan anti tembakau,” katanya.

Menurut dia, di Indonesia keberadaan tembakau sangatlah penting karena memiliki heritage yang namanya kretek dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan karena dari sisi ekonominya tinggi, dari sisi budayanya juga ada. “Kretek itu merupakan produk asli Indonesia,” ungkapnya.

Salah seorang pemenang dari Paguyuban Kartunis Solo (Pakarso), Jaja Ari Nugroho mengaku mengangkat petani tembakau agar bisa bertahan. “Istilahnya tembakau itu tidak hanya untuk rokok tetapi juga bisa digunakan untuk obat,” katanya

Dengan adanya pameran kartun ini tambahnya, dapat mengangkat kartunis Indonesia. Sebab banyak kartunis dari luar yang tampil. Ini berarti kartun Indonesia tidak kalah dengan negara lain baik dari sisi ide ataupun gambarnya. (hid/ric)