SEMARANG – Pemprov terus melakukan berbagai upaya untuk mengatasi semakin menurunnya cadangan air tanah di Jateng. Pembangunan atau peralihan lahan hingga pengambilan air yang berlebihan menjadi salah satu penyebabnya. Saat ini, DPRD bersama Pemprov terus menggodok penyelesaian Raperda Air Tanah Jateng.

Kasi Pembinaan Air Tanah Dinas ESDM Jateng Joko Wiyanto menjelaskan, penyusunan Raperda Air Tanah Jateng didasarkan adanya beberapa kendala yang selama ini terjadi di Jateng. Diantaranya pengambilan air tanah yang tidak terkendali, dan tanpa izin. Bahkan ada juga pengambilan air tanah di zona merah, beralihnya fungsi lahan resapan, pencemaran 75 persen di pantura dan pansel sehingga minim air baku. “Untuk itu, konservasi kini dilakukan secara masif,” katanya.

Ia menambahkan, langkah-langkah yang diupayakan yakni pengeboran harus ada izin warga sekitar. Selain itu, pihak yang mengeksplorasi itu harus sanggup membuat sumur resapan agar eksploitasi dan konservasi seimbang, dan sanggup membuat sumur pantau untuk pemulihan sumur resapan. “Dengan begitu, konservasinya bisa berkelanjutan,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng Hadi Santoso, mengatakan kondisi cadangan air  tanah di Jateng semakin menipis. Jateng harus meniru Provinsi Kalsel  karena pengelolaan cadangan air tanah (CAT) di provinsi tersebut sudah cukup baik. Ada beberapa wilayah di Kalsel memiliki tipologi cekungan air mirip dengan yang ada di Jateng. Untuk itu, pihaknya perlu mempelajari hal tersebut. “Pengelolaan CAT dan pola konservasi perlu dipelajari sehingga pemanfaatan air berjalan seimbang. Dan kami sudah melihat langsung kesana,” katanya.

Ia menilai pengelolaan di Kalsel cukup baik, mengingat banyak CAT yang berdekatan dengan lokasi tambang batubara. Dari kunjungan diketahui ternyata selama ini pengelolaan air tanah di Kalsel dilakukan dengan cara pemetaan CAT. Selama ini, hanya ada dua CAT, salah satunya cekungan Pagatan.

Soal konservasi, ia mengakui cukup sulit dilaksanakan tapi tetap terus diupayakan. Upaya saat ini yakni dengan pembuatan sumur resapan. “Langkah ini bisa dilakukan di Jateng agar kedepan pemanfaatan bisa optimal dan cadangan air tanah bisa terus bertahan,” tambahnya. (fth/ric)