Radiasi Gadget Tak Baik Bagi Mata Anak

Belajar Zaman Now, Buku atau E-Book?

281
ADA PLU MINUS : Rafi belajar dengan gadget dan Wisnu dengan buku pelajaran. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ADA PLU MINUS : Rafi belajar dengan gadget dan Wisnu dengan buku pelajaran. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Revolusi digital turut memberikan dampak di dunia pendidikan. Pembelajaran menggunakan buku manual, mulai tergeser dengan adanya ebook (buku digital). Bagaimana guru dan orangtua siswa dalam menghadapi perkembangan zaman ini?

SEJUMLAH sekolah telah berusaha mengikuti perkembangan teknologi dalam proses belajar mengajar. Harapannya, lebih menarik dan bisa memberikan pemahaman lebih mudah kepada siswanya. Karena itulah, sebagian sekolah mulai mengganti sebagian buku konvensional atau manual dengan ebook.

Salah seorang guru SD Tritunggal, Febe Arifiani mengatakan bahwa sekolahnya memang telah menggunakan ebook untuk sejumlah mata pelajaran. Namun Febe menjelaskan, dirinya berusaha selalu seimbang dalam penggunaannya. “Jadi mengikuti perkembangan zaman, tapi tetap memakai buku konvensional. Karena memakai ebook tidak melulu baik, ada juga kekurangannya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (18/11) kemarin.

Menurut Febe, kekurangan penggunaan ebook adalah radiasi dari gadget sangat tidak baik bagi mata anak. Sementara, jika membuka buku dapat secara langsung dan menyeluruh melatih motorik dari siswa itu sendiri. “Tipe belajar anak kan ada tiga, audio, visual dan kinestetik. Ebook itu kan hanya mengandalkan visual, sedangkan tidak semua siswa tipe belajarnya itu (visual). Ada juga yang tipenya kinestetik,” jelasnya.

Guru kelas 6 ini mengatakan, jika menggunakan buku konvensional, siswa lebih tergerak untuk mencari halaman dan membaca lebih baik. Mereka tidak dimudahkan dengan fitur seperti di ebook untuk loncat ke halaman yang diinginkan.

“Tapi mereka harus membaca satu per satu halaman. Ebook kan tidak, bisa langsung search mau ke halaman berapa, tangannya tidak bergerak, matanya juga. Fokusnya lebih terlatih,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya jika menggunakan ebook pemahaman serta penerimaan dari siswa bisa saja kurang baik. Tapi semua itu, kembali lagi kepada tipe belajar anak. Sebab ada pula anak yang memang memiliki tipe belajar visual, maka dengan ebook saja dia sudah bisa memahami dengan baik.

“Kalau saya sendiri tetap memakai keduanya. Ebook iya, konvensional juga iya. Ebook itu kan supaya kita tidak tertinggal dengan perkembangan zaman,” terangnya.

Terlepas dari itu, Febe mengingatkan bahwa ketiga unsur yakni guru, siswa dan orangtua memiliki peran penting dalam proses penerimaan belajar anak. Ketiganya harus mencari tahu tipe belajar anak dan saling mengomunikasikan, sehingga pemahaman yang baik tercipta untuk menunjang prestasi anak.

Sementara itu, Guru SMK 8 Semarang, Ardan Sirodjudin mengatakan bahwa dirinya telah memanfaatkan ebook untuk menunjang pembelajarannya. Diakuinya, awal mula penggunaan ebook, lantaran ingin menggunakan sesuatu yang beda ketika mengajar siswanya. “Ebook, saya rasa itu banyak plusnya. Siswa bisa belajar lebih dulu di rumah dengan modal internet. Di sekolah tinggal diulang sedikit, kemudian praktik,” jelasnya.

Ini juga menjadi tantangan bagi guru. Mau tidak mau, sebagai tenaga pengajar harus lebih menguasai teknologi, sehingga bisa dengan mudah membuat maupun mengoperasikan pembelajaran dengan ebook. “Kalau kendala, biasanya ada pada koneksi internet dan keterbatasan siswa yang tidak memiliki akses internet di rumah. Biasanya kalau sudah seperti itu, mereka akan men-download ebook ketika di sekolah dan dibaca secara offline di rumah,” bebernya.

Ardan berharap, para guru mau belajar dan menggunakan ebook dalam pembelajaran. Sebab, seiring berkembangnya teknologi, tidak bisa dipungkiri bahwa ebook menunjang proses belajar mengajar.

Wakil Kepala SD Nasima Semarang, TY Raharjo mengatakan jika di sekolahnya belum menggunakan ebook. Meski begitu, pihaknya melakukan kerjasama dengan pihak luar untuk membuat sebuah program khusus dimana siswa dapat mengakses materi pelajaran di sekolah tersebut.

“Ebook sebetulnya metode yang bagus. Siap nggak siap, kami juga harus mengarah kesitu. Namun buku tetap ada. SD Nasima sendiri sedang mempersiapkan untuk tes atau ujian secara online,” katanya.

TY berpendapat, penggunaan ebook akan lebih tepat sasaran jika digunakan oleh siswa yang usianya lebih siap. Seperti misalnya mulai SMP dan SMA. Tapi tidak ada salahnya, jika sejak SD sudah mulai dilatih untuk menggunakan ebook. “Tapi itu untuk kelas-kelas yang tinggi, 5 dan 6 misalnya. Kalau kelas 1 sampai 4, itu kan masih pada unyu-unyu. Kasarannya mereka belum lanyah untuk mengoperasikan gadget,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu siswi SD Mondial Semarang Annisa Rahmalia mengaku dirinya lebih nyaman menggunakan buku biasa. Pasalnya, ia dapat berinteraksi langsung dengan benda dan memberikan hiasan pada tulisan yang dirasa penting. Selain itu, aksesoris pembatas buku yang kini lebih beragam juga menjadi salah satu alasan Annisa memilih buku konvensional daripada ebook. (tsa/ida)