Undip Tambah Dua Guru Besar

710
PENGUKUHAN : Rektor Undip Prof Yos Johan Utama saat mengukuhkan guru besar baru di Gedung Prof Soedarto, kampus Undip Tembalang, Kamis (16/11). (AFIATI TSALITSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENGUKUHAN : Rektor Undip Prof Yos Johan Utama saat mengukuhkan guru besar baru di Gedung Prof Soedarto, kampus Undip Tembalang, Kamis (16/11). (AFIATI TSALITSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Universitas Diponegoro (Undip) kembali menambah daftar guru besarnya. Dari 8 tambahan guru besar, dua diantaranya berasal dari Fakultas Kedokteran (FK) yakni Prof Dr dr M Sholeh Kosim serta dari Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Prof Dr Ir Widiyanto, S.U. Pengukuhan dilaksanakan di Gedung Prof Soedarto, kampus Undip Tembalang, Kamis (16/11).

Rektor Undip Prof Yos Johan Utama mengatakan, guru besar merupakan jabatan akademik tertinggi dalam dunia pendidikan. Akan tetapi, mahkota sebenarnya dari jabatan tersebut adalah bagaimana kemampuan guru besar itu untuk terus mencetak karya-karya yang baik untuk kemaslahatan umat manusia.

“Terlebih lagi, bidang yang digeluti Prof Sholeh Kosim dan Prof Widiyanto yakni ilmu tentang kedokteran dan ilmu peternakan tentu sangat berkait dan bermanfaat bagi umat manusia,” ungkapnya.

Yos menegaskan, seorang guru besar tidak hanya sekedar capaian keilmuan, akan tetapi di dalamnya juga ada kematangan jiwa serta integritas baik sebagai pendidik maupun sebagai manusia. Tak hanya itu, menjadi akademisi dengan gelar akademik tertinggi sudah sepatutnya untuk memiliki dan memupuk pula jiwa kepedulian kepada umat manusia. “Keberanian dalam menegakkan kebenaran dilandasi kejujuran dan integritas,” tegasnya.

Dalam pengukuhannya, Prof Sholeh Kosim memberikan paparan terkait kajiannya tentang Neonatologi Pada Era Kedokteran Digital Agar Bayi Dapat Bertahan Secara Utuh. Dijelaskannya, Neonatologi merupakan cabang dari Ilmu Kesehatan Anak yang mempelajari bayi mulai dari proses pembuahan hingga berumur 28 hari. Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan juga menjadi perhatian dalam Neonatologi.

Sholeh memaparkan, ada 3 penyebab utama kematian bayi baru lahir, yaitu asfiksia neonatorum, bayi berat lahir rendah (kurang dari 2500 gram), dan infeksi neonatal yang terjadi pada bulan pertama bayi baru lahir. Asfiksia adalah kegagalan untuk bernafas secara teratur beberapa saat sesudah lahir.

“Diharapkan, dengan menciptakan fitur baru pada sistem telepon genggam dapat terjadi komunikasi yang efektif dan efisien antara pakar Neonatologi dengan bidan, perawat, dan dokter yang belum pernah terpapar atau mengikuti program Pelatihan Resusitasi Neonatus,” pungkasnya.

Sementara, Prof Widiyanto memaparkan penelitiannya yakni Suplementasi Asam Lemak Tidak Jenuh Ganda (ALTJG) Terproteksi Untuk Meningkatkan Produksi dan Kualitas Daging Ruminansia Kecil. Dimana, Widi menyoroti rendahnya pangsa konsumsi daging ruminansia kecil (kambing dan domba) yang disebabkan adanya kolesterol fobia.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, selain peningkatan produksi daging sapi dan kerbau, adalah diversifikasi konsumsi daging nasional, dengan meningkatkan konsumsi daging ternak yang pangsa konsumsinya masih rendah, disertai peningkatan produksi komoditas tersebut.

“Suplementasi ALTJG dalam bentuk garam kalsium tersebut memungkinkan penyerapan asam lemak tidak jenuh tanpa mengalami perubahan di dalam rumen, sehingga dapat berperan dalam penurunan kolesterol,” tandasnya. (tsa/ric)