Simpan Sabu di Sandal Perempuan

Dikendalikan Napi Lapas Pekalongan

587
TERBONGKAR: Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo menunjukkan sandal perempuan tempat menyimpan sabu-sabu. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERBONGKAR: Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo menunjukkan sandal perempuan tempat menyimpan sabu-sabu. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG- Seorang kurir narkoba berhasil dibekuk oleh petugas Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) Jawa Tengah. Tersangka diketahui bernama Dedi Kenia Setiawan, 42, warga Susukan, Ungaran, Kabupaten Semarang. Ia  dibekuk karena kedapatan membawa narkoba jenis sabu seberat 800 gram yang disembunyikannya dalam dua pasang sandal perempuan.

Dedi ditangkap Rabu (8/11) lalu di dekat lampu merah (traffic light) Jalan Setiabudi, tepatnya di pertigaan Patung Pangeran Diponegoro, Undip, Ngesrep, Banyumanik. Dua pasang sandal perempuan berisi sabu tersebut  disembunyikan di dalam bagasi motor Honda Vario yang dikendarainya.

Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo, mengatakan, usai penangkapan, tersangka langsung dibawa ke kantor BNNP untuk diperiksa lebih lanjut. Dari pemeriksaan awal, didapatkan informasi tersangka berkomunikasi dengan seseorang melalui BBM dengan akun ‘Antara Ada dan Tiada’.

“Menurut Dedi, akun itu dipegang oleh Suriani Effendi, napi di LP Karang Intan, Banjarbaru, Kalimantan,” jelasnya saat gelar perkara, Jumat (17/11).

Selanjutnya, petugas BNNP Jateng melakukan koordinasi dengan BNNP Kalimantan Selatan untuk mengamankan narapidana yang dimaksud oleh tersangka. Keesokan harinya, Kamis (9/11), petugas BNNP Jateng berangkat menuju Kalsel untuk melakukan pemeriksaan terhadap Suriani Effendy. Namun rupanya Suriani Effendy bukan pemilik dari akun tersebut.

“Pemegangnya ini, Cristian Jaya Kusuma alias Sancai. Dia narapidana di Lapas Pekalongan. Kemudian kami langsung berkoordinasi dengan Kepala Kanwil Kemenkumham untuk mengamankan Cristian, 10 November lalu,” terangnya.

Cristian pun diamankan beserta barang bukti berupa alat komunikasi berupa ponsel. Selanjutnya tersangka dibawa ke kantor BNNP Jateng untuk dilakukan proses lebih lanjut. Cristian sebelumnya ditangani oleh Polda Kalimantan Selatan pada 2014 dengan kasus yang sama dan sedang menjalani masa hukuman penjara 7 tahun.

Cristian yang berperan sebagai pengendali ini pertama ditahan di Lapas Karang Intan, kemudian dipindah ke Lapas Kedungpane, Semarang, dan dipindah lagi ke Lapas Narkotika Nusakambangan. Hingga akhirnya dipindah di Lapas Pekalongan.

Dedi sendiri merupakan residivis kasus pembunuhan yang sudah menjalani hukuman 22 tahun, dan juga kasus peredaran narkotika dihukum 1 tahun penjara, dan baru merasakan kebebasan pada Agustus 2017 lalu.

Sebelum akhirnya ditangkap oleh petugas BNNP Jateng, Dedi pada Senin (6/11) sudah mengambil sabu seberat 1 kilogram di sebuah hotel dekat Bandara Ahmad Yani, Semarang. Di sana, ia bertemu dengan seorang wanita dan menukar sandal yang dipakai oleh perempuan itu dengan sandal yang baru.

“Pelaku sudah bawa sandal baru, lalu ditukar dengan sandal yang dipakai oleh perempuan yang ditemuinya tersebut,” tuturnya.

Modus ini, lanjut Tri Agus, digunakan untuk aksi yang kali kedua. Tersangka bertemu dengan dua orang wanita dan menukar sandal tersebut. Ketika ditanya, wanita itu mengaku berasal dari Aceh, namun tersangka tidak mengenalnya.

“Setiap sandal bersol tebal itu diisi 200 gram sabu. Jadi, kalau 4 sandal, totalnya 800 gram. Ini kalau dicek pakai metal detektor tidak terdeteksi,” tandasnya.

Dari hasil penyelidikan BNNP Jateng, Cristian adalah pimpinan jaringan kelompok Banjarmasin yang sudah mengedarkan narkotika di wilayah Jateng sejak awal 2017, dengan nilai transaksi mencapai Rp 300 juta per hari. (tsa/aro)