Divonis 6 Bulan, Langsung Bebas

Sembilan Terdakwa Pengeroyok Taruna Akpol

410
TERSENYUM LEGA: Para terdakwa taruna Akpol Semarang asyik berfoto selfie di ruang sidang setelah majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang membacakan vonis, kemarin. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERSENYUM LEGA: Para terdakwa taruna Akpol Semarang asyik berfoto selfie di ruang sidang setelah majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang membacakan vonis, kemarin. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG– Sembilan terdakwa taruna tingkat III Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang bisa tersenyum lega. Bahkan bisa asyik berfoto  selfie di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Ini setelah majelis hakim setempat menjatuhkan vonis ‘super ringan’ kepada para pelaku pengeroyokan yang menewaskan Brigadir Taruna Dua Muhammad Adam ini.

Ya, sembilan terdakwa itu hanya divonis 6 bulan penjara oleh majelis hakim yang dipimpin Casmaya, didampingi dua hakim anggota, Edy Suwanto dan Suparno. Bahkan setelah dipotong masa tahanan, kesembilan terdakwa langsung bebas.

Mereka adalah Joshua  Evan Dwitya Pabisa Bin Yosman Pabisa, Reza Ananta Pribadi Bin Yongki Pribadi, Indra Zulkifli Pratama Ruray Bin Idham Ruray, Praja  Dwi Sutrisno Bin Agus Sutrisno, Aditia Khaimara Urfan Bin Khairul Anwar, Chikitha Alviano Eka Wardoyo Bin Wardoyo, Rion Kurnianto Bin Tukijan, Erik Aprilyanto Bin Supeno dan Hery Avianto Bin Bambang Priyambadha.

Putusan majelis hakim ini jauh lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) gabungan dari Kejati Jateng dan Kejari Kota Semarang yang menuntut selama 1,5 tahun penjara. Majelis hakim menilai, kesembilan terdakwa terbukti melanggar Pasal 170 KUHP ayat 1, yakni melakukan kekerasan terhadap orang secara bersama-sama. Hakim Casmaya juga mengatakan, para terdakwa terbukti melakukan pemukulan terhadap yuniornya. Namun pemukulan tersebut tidak sampai mengakibatkan 21 taruna Akpol yunior berhalangan dalam melaksanakan aktivitasnya.

“Kesembilan terdakwa bukan merupakan pelaku yang menyebabkan meninggalnya taruna tingkat II Muhammad Adam,” kata Casmaya.

Hakim juga menyatakan, perbuatan para terdakwa telah mencemarkan nama baik Akpol sebagai lembaga pendidikan. Namun para terdakwa yang masih berusia muda ini sudah mengakui dan menyesali perbuatannya, termasuk para korban yang pernah dipukul juga telah menerima permintaan maaf kesembilan terdakwa.

“Menjatuhkan hukuman masing masing selama 6 bulan, dipotong masa penahanan yang telah dijalani para terdakwa. Pemidanaan ini sebagai pembinaan bukan alat balas dendam. Para terdakwa juga masih muda, dan punya masa depan,” beber Casmaya dalam amar putusannya.

Atas putusan tersebut, baik JPU gabungan maupun penasihat hukum para terdakwa menyatakan pikir-pikir.

Vonis 6 bulan itu tentu saja melegakan bagi kesembilan terdakwa. Sebab, diperkirakan mereka akan langsung keluar dari tahanan. Pasalnya, para terdakwa sudah ditahan sejak 21 Mei 2017, sehingga kalau dihitung sudah ada 6 bulan, maka langsung bebas. Usai sidang isak tangis dari keluarga terdakwa langsung bersahutan di dalam ruang sidang setelah hakim mengetuk palu.

Kuasa hukum terdakwa, HD Djunaedi, mengaku, menghormati putusan majelis hakim. Menurutnya, apapun yang diputuskan majelis hakim merupakan usaha maksimal. Sehingga pihaknya mengucapkan terima kasih dan menyatakan putusannya patut disyukuri, karena nurani hakim di negeri ini masih ada.

“Yang jelas kami akan berkonsultasi dengan keluarga para terdakwa apakah menerima putusan hakim atau tidak, tentunya dalam masa pikir-pikir yang diberikan hakim,”ujarnya.

Orang tua dari terdakwa Indra Zulkipli Pratama, Idham Ruray, justru tidak mempermasalahkan putusan hakim tersebut. Ia hanya berharap anaknya dan terdakwa lain masih bisa melanjutkan pendidikan di Akpol.”Putusannya tidak masalah, sudah sesuai juga dengan masa tahanan,” kata Idham usai vonis hakim.

Ia mengatakan, setelah proses hukum di pengadilan ini selesai, anaknya beserta rekan-rekannya yang lain masih tetap menjalani sidang internal di Akpol. Dikatakannya, sidang tersebut nantinya yang akan menentukan nasib anaknya beserta rekan-rekannya, apakah masih bisa melanjutkan pendidikan di Akpol. “Nanti akan ada sidang lagi di Akpol sesuai tingkat kesalahan mereka,” ujarnya.

Adapun terdakwa lain yang diperiksa dalam berkas terpisah, di antaranya Rinox Lewi Wattimena alias Rinox Bin Jehosua Wattimena dengan nomor perkara: 647/Pid.B/2017/PN Smg diperiksa majelis hakim yang dipimpin Abdul Halim Amran didampingi dua hakim anggota, yakni Manungku Prasetyo dan Pudji Widodo. Adapun jaksanya adalah Efrita dan Yosi Budi Santoso.

Untuk terdakwa Rinox, JPU menjeratnya dengan pasal berlapis, yakni Pasal 170  ayat (2) ke-3 KUHP jo Pasal 56 ayat (2) KUHP. Selain itu, Pasal 170 ayat (1) KUHP jo Pasl 56 ayat (2) KUHP.

Sedangkan empat terdakwa lain, yakni, Christian Atmadibrata Sermumes Bin Yohanes Murdiyanto, Gibrail Charthens Manorek Bin Arfi Manorek, Martinus Bentanone Bin Jondarius Bentanone dan Gilbert Jordi Nahumury Al Jordi  Bin Jhon Dominggus Nahumury, dengan nomor perkara: 648/Pid.B/2017/PN Smg, dipimpin majelis hakim Antonius Widijantono, dengan jaksanya Slamet Margono.

Berbeda dengan 4 terdakwa ini, ancamannya langsung pasal berlapis yakni,  diancam pidana Pasal 338 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP serta Pasal 170  ayat (2) ke-3 KUHP, serta kedua sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 170 ayat (1) KUHP. (tim)