Media Cergam Tingkatkan Membaca Siswa

680
Oleh: Sulistyawati SPdI
Oleh: Sulistyawati SPdI

MEDIA buku cerita bergambar (cergam) sangat cocok untuk diterapkan pada siswa sekolah dasar (SD) terutama kelas 1 dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca permulaan, karena pelajaran permulaan kelas 1 SD merupakan awal siswa mengenal simbol-simbol dan mengalihkodekannya menjadi bermakna. Tetapi jika anak tidak dapat melakukannya, maka proses pembelajaran akan terhambat. Membaca merupakan syarat utama dalam pembelajaran yang harus dipenuhi apalagi pada kelas pemula.

Buku cergam merupakan cerita yang mengajarkan anak sesuatu hal. Seperti gosok gigi sebelum tidur, rajin belajar, membantu orang tua, dan lain sebagainya. Dengan adanya hal tersebut, buku cerita bergambar juga menjadi sarana pembelajaran yang efektif bagi siswa. Gambar pada buku cerita bergambar ini bertujuan untuk memberikan imajinasi atau gambaran visual kepada siswa. Hal tersebut dimaksudkan anak akan lebih cepat menyerap dan memahami cerita yang terkandung dalam buku. Hal ini disebabkan siswa usia dini masih dalam tahap berimajinasi yang sesuai gambar.

Sejalan dengan hal tersebut, gambar bisa diartikan segala sesuatu yang diwujudkan secara visual ke dalam bentuk dua dimensin sebagai hasil perasaan dan pikiran. Gambar dapat dipergunakan sebagai media dalam penyelenggaraan proses pendidikan, sehingga memungkinkan terjadinya proses belajar-mengajar. Pemilihan gambar untuk siswa pemula tentunya haruslah tepat, menarik, dan dapat merangsang siswa untuk belajar.

Media gambar yang menarik, akan menarik perhatian siswa dan menjadikan siswa memberikan respons awal terhadap proses pembelajaran. Media gambar yang digunakan dalam pembelajaran akan diingat lebih lama oleh siswa, karena bentuknya yang konkret dan tidak bersifat abstrak. Media ini pas sekali buat siswa membaca pemula.

Membaca permulaan merupakan salah satu aspek keterampilan bahasa yang diperuntukkan bagi siswa kelas awal. Akhadiah (dalam Resmini, 2006:108), mengemukakan bahwa permulaan membaca hanya berlangsung dua tahun, yakni kelas 1 dan kelas 2 SD. Bagi siswa kelas 1 dan kelas 2 tersebut, membaca merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis.

Pembelajaran membaca di kelas rendah merupakan membaca tahap awal, kemampuan membaca yang diperoleh di kelas rendah terutama di kelas 1 SD akan menjadi dasar pembelajaran di kelas-kelas berikutnya.

Anak usia SD berada pada tahap operasional konkret. Hal ini menunjukkan bahwa anak sangat menyukai benda-benda yang nyata. Di samping itu, anak juga memiliki daya fantasi yang sangat tinggi. Berdasarkan asumsi tersebut, agar lebih menarik dan menumbuhkan motivasi anak terhadap sesuatu hal, diperlukan media yang dapat menyalurkan imajinasi yang kreatif pada anak.

Dalam pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas sering dijumpai masalah, antara lain cara mengajar guru yang menganggap siswa hanya sebuah benda yang hanya dapat menerima pelajaran dari gurunya saja. Selain sangat banyaknya bahan pelajaran yang harus dipelajari siswa, guru juga kurang terbiasa menggunakan media-media pembelajaran yang bervariasi.

Padahal seorang guru harus kreatif dalam menyelenggarakan proses pembelajaran, baik itu dari segi materi, metode maupun media yang digunakan harus menarik agar dapat menarik minat siswa untuk giat belajar di sekolah khususnya dalam membaca.

Di samping itu, kesulitan anak dalam berbahasa juga menjadi suatu masalah yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan. Karena seperti yang telah kita ketahui bahwa bahasa adalah dasar komunikasi utama pada manusia. Jika anak kesulitan dalam berbahasa, maka akan mengalami kesulitan dalam memahami suatu konsep atau dalam mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Bahasa juga merupakan alat utama dalam belajar membaca.

Dalam proses belajar mengajar di kelas guru memegang peranan yang sangat penting. Para siswa tetap memerlukan bimbingan dan arahan untuk dapat belajar dengan baik. Selain itu, media pembelajaran yang bervariasi dapat membantu siswa mengembalikan semangat belajarnya. Media pembelajaran yang bervariasi membuat para siswa tertarik dan tertantang untuk mengikuti proses pembelajaran tanpa membuat siswa tersebut jenuh dan bosan dalam mengikuti proses belajar mengajar tersebut.

Oleh karena itu, variasi media pembelajaran di sekolah dasar sangat diperlukan, apalagi keadaan siswa SD yang pola pikirnya masih bersifat konkret dan masih senang bermain, sangat cocok diterapkan media pembelajaran yang bervariasi. Para guru hendaknya membuat pembelajaran jadi bermakna dan semua siswa aktif dalam mengikuti proses belajar-mengajar, jangan gurunya saja yang aktif. (*/aro)

Guru MIN Kwangen, Gemolong, Sragen