Fokus Pemberdayaan Perempuan

401
FOKUS PEREMPUAN : PT BTPN Syariah fokus pembiayaan pada kaum perempuan prasejahtera produktif. Saat ini lebih dari dua juta perempuan yang menjadi nasabah pembiayaan. (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG)
FOKUS PEREMPUAN : PT BTPN Syariah fokus pembiayaan pada kaum perempuan prasejahtera produktif. Saat ini lebih dari dua juta perempuan yang menjadi nasabah pembiayaan. (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah (BTPN Syariah) terus fokus pada pemberdayaan perempuan melalui pembiayaan syariah. Segmen ini dibidik karena dinilai memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan.

Direktur Utama BTPN Syariah, Ratih Rachmawati mengatakan, hingga September 2017 pihaknya sudah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 5,5 juta triliun untuk 2,8 juta nasabah. Dengan total aset sebesar Rp 8,54 triliun atau naik 36 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Sebanyak 2,8 juta nasabah tersebut, semuanya perempuan,”ujarnya disela talkshow bertajuk ‘Inklusi Keuangan & Pemberdayaan Perempuan melalui Pembiayaan Syariah’, kemarin.

Pihaknya fokus membidik kaum perempuan dari segmen prasejahtera produktif, karena perempuan dinilai memiliki peran penting dalam perekonomian keluarga. Namun demikian, pemberian pembiayaan juga diiringi dengan pendampingan.

“Pendampingan ini kami kemas sedemikian rupa agar para nasabah memiliki empat perilaku unggul. Yakni berani berusaha, disiplin, kerja keras dan saling bantu. Sehingga para perempuan di segmen prasejahtera produktif ini juga bisa berpartisipasi meningkatkan penghasilan keluarga,”ujarnya.

Dengan adanya program pendampingan yang menyertai pembiayaan, pihaknya optimis untuk tahun depan segmen ini dapat tumbuh hingga dua digit. Sementara untuk dana pihak ketiga, hingga September lalu telah mencapai Rp 5,8 triliun. “Untuk dana pihak ketiga ini bebas, tidak hanya dari kaum perempuan saja,”ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, ekonomI CORE Indonesia, Hendri Saparani menambahkan, jumlah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia berjumlah lebih dari 58 juta dan 99 persen diantaranya usaha mikro dan kecil.

“Dari seluruh pelaku UMKM baru sekitar sepertiganya yang bisa mengakses pembiayaan dari perbankan,”ujarnya.

Dengan demikian masih banyak UMK yang membutuhkan pendanaan yang dapat diakses dengan mudah serta sesuai dengan karakteristik mereka. Yaitu yidak memiliki jaminan, administrasi keuangan dan pemahaman pasar.

“Jadi adanya lembaga pembiayaan baik bank maupun non bank yang mampu mendampingi para pelaku UMK agar mampu meningkatkan kapasitasnya ini sangat diperlukan,”ujarnya. (dna/zal)