SEMARANG – Keberadaan Batik Semarangan hingga kini terbilang stagnan. Konsumen batik lebih mengenal Batik Lasem, Solo, Pekalongan dan Jogjakarta. Meski sebetulnya Batik Semarangan memiliki ciri khas khusus, tetapi sejauh ini belum tergarap secara maksimal.  Saat ini, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang sedang berupaya menyusun program untuk mengangkat Batik Semarangan agar tak tertinggal. Di antaranya melalui program One Village One Product (OVOP).

“Ini merupakan tindak lanjut kegiatan kompetisi motif Batik Semarangan yang digelar beberapa waktu lalu. Kami berkomitmen mengembangkan Batik Semarang. Di antaranya dengan fokus memberikan pelatihan secara intens kepada pengrajin batik,” kata Kepala Dinas Koperasi dan Mikro, Litani Satyawati, Rabu (15/11).

Dikatakannya, program OVOP dilakukan agar Batik Semarangan bisa lebih dikembangkan. Sehingga menjadi produk unggulan di Kota Semarang. “Kami ingin Batik Semarangan nantinya menjadi sumber kebanggaan di Kota Semarang. Kami melihat beberapa waktu lalu, telah muncul berbagai jenis inovasi desain motif batik oleh peserta. Sehingga ini menarik untuk dikembangkan,” katanya.

Selain untuk memberi motivasi kepada para pengrajin batik di Kota Semarang, pihaknya juga menata strategi agar bagimana para pengrajin batik mampu melakukan eksplorasi motif batik khas Kota Semarang, sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. “Memang setiap pengrajin sudah semestinya memiliki kreativitas tanpa meninggalkan ciri khas, termasuk meningkatkan kualitas. Bagaiman agar mampu munculkan ragam motif batik, kami merencanakan akan menggelar lomba desain batik secara rutin,” kata dia.

Budayawan, Jongkie Tio sebelumnya mengatakan, desain Batik Semarangan dipengaruhi oleh budaya pendatang. Terutama didominasi budaya Tionghoa. Di era Kerajaan Mataram, pelabuhan di Semarang menjadi sasaran bersandar kapal-kapal dagang dari Tionghoa. Selain Tionghoa, ada juga keterlibatan budaya dari bangsa Arab. Bahkan di beberapa motif, ditemukan sedikit pengaruh Indo-Belanda.

Meski begitu, bagi Jongkie, batik Semarang bukan tanpa ciri khas. Zaman dulu, batik Semarang selalu membubuhkan pola flora –terutama bunga– dan perkutut. Ada juga pegunungan. “Nyaris sama dengan batik Pekalongan atau Lasem. Istilahnya motif pesisir,” kata dia. (amu/zal)