25.7 C
Semarang
Jumat, 13 Desember 2019

3 Nama Siap Mendaftar lewat Jalur Perseorangan

Pilgub Jateng 2018

Must Read

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

SEMARANG-Lima nama telah berkonsultasi dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng terkait calon persorangan pada Pilgub 2018 mendatang. Namun dari lima orang itu,  hanya dua yang dinilai serius. Mereka adalah pasangan Mundi (bakal calon gubernur) dari Jepara dan Sarjono (bakal calon wakil gubernur) dari Sragen, serta Bekti (bakal calon gubernur) dari Semarang.

Komisioner KPU Jateng, Ikhwanudin, menjelaskan, tiga nama itu dianggap serius karena memenuhi undangan bimbingan teknis (bimtek) sistem pencalonan yang digelar beberapa waktu lalu. “Tiga nama lain yang tidak datang bimtek tidak mau disebut namanya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (15/11).

Dia memprediksi, masih ada calon perseorangan yang punya rencana meramaikan bursa Pilgub Jateng. Sebab, penyerahan syarat dan berkas ke KPU Jateng masih cukup lama. Yakni pada 22-26 November 2017 mendatang.

Dijelaskan, salah satu syarat untuk maju sebagai calon independen adalah mempunyai minimal 6,5 persen dari total penduduk Jateng atau sekitar 1,78 juta orang. Dukungan itu harus dibuktikan dengan fotokopi kartu tanda penduduk (KTP). “Jumlah massa harus tersebar minimal di 18 kabupaten/kota di Jateng,” terangnya

Bakal calon gubernur, Mundi, mengaku, sangat serius untuk maju lewat jalur independen. Dia bersama Sarjono pun sudah punya lebih dari 2 juta pendukung yang siap mengumpulkan fotokopi KTP. Tak hanya itu, sekitar 16 ribu massa pun sudah disiapkan sebagai relawan untuk menggerakkan mesin pasangan Mundi-Sarjono.

“Kami sudah siap maju. Kami juga sudah sosialisasi ke-35 kabupaten/kota di Jateng. Dan akan terus kami lakukan sampai penetapan calon,” terangnya.

Ketika ditanya alasan maju lewat jalur perseorangan, Mundi mengaku memang tidak tertarik dengan partai politik. Dia menilai, jika maju lewat parpol, harus ada semacam transaksi agar bisa mendapat predikat sebagai bakal calon gubernur.

“Kabarnyan harus ada transaksi kalau mau maju lewat parpol. Karena itu, sejak 6 bulan lalu, saya putuskan untuk maju secara independen,” katanya.

Meski begitu, dia mengaku belum pernah mencoba mendaftar lewat parpol. “Saya memang belum pernah mencoba lewat parpol. Tapi, saya punya banyak teman di sana. Mereka juga memberikan masukan dan saran,” imbuhnya.

Dia pun tak gentar jika nantinya melawan pasangan calon yang diusung lewat parpol. Bahkan optimistis mampu meruntuhkan dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang punya banyak massa di Jateng.

“Kami percaya, peta politik akan berubah jika ada pasangan calon independen. Kami juga akan mengedukasi masyarakat tentang ini,” jelasnya.

Mengenai program, pasangan Mundi-Sarjono akan memperjuangan ekonomi kerakyatan. Mengemas agar masyarakat kecil bisa menjadi pemain utama dalam roda ekonomi daerah. Dengan begitu, diharapkan kesejahteraan masyarakat bisa terangkat.

“Selama ini mereka kan hanya jadi penonton saja. Karena itu, kami coba menggalakkan ekonomi kerakyatan agar mereka bisa jadi pemain utama,” terangnya.

Pengamat politik dan pemerintahan dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Teguh Yuwono, menilai bakal calon gubernur perseorangan di Jateng sangat berat untuk maju di Pilgub. Sebab, calon independen harus memiliki jaringan sampai tingkat paling bawah di RT/RW. Kemudian membutuhkan struktur pemenangan sampai tingkat bawah. Apalagi Jateng sangat luas, yakni terdapat 35 kabupaten dan kota yang di dalamnya ada ribuan desa.

“Itu tidak gampang. Belum lagi soal modal yang sangat besar, baik untuk memenuhi persyaratan maupun untuk pemenangan,” katanya.

Selain itu, Teguh menilai warga Jateng belum siap menerima calon dari jalur independen. Psikologi politik masyarakat masih terhitung rendah, pemilih tidak terlalu apresiasi pada calon independen karena tak memiliki kaki tangan di lapangan. “Di Rembang saja bukan independen betul, karena dia kan kader PPP,” ujarnya.

Teguh mencontohkan, anggota DPD RI pun perolehan suara paling banyak hanya 1,5 juta, meskipun sudah didukung oleh kelompok masyarakat sampai tingkat bawah. “Apalagi ini gubernur, jadi saya kira kalau nggak diusung partai, kansnya sangat kecil. Parpol masih menjadi faktor pokok yang mampu mengusung calon untuk memenangkan Pemilihan Gubernur Jateng,” katanya.

Di sisi lain, calon independen juga harus memiliki modal popularitas dan elektabilitas yang sangat baik. Sejauh ini, belum ada figur yang mampu mengalahkan popularitas dan elektabilitas petahana, Ganjar Pranowo. (amh/aro)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Rombak Kurikulum

Reformasi besar-besaran. Di bidang kurikulum pendidikan. Itulah instruksi Presiden Joko Widodo. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Kemarin. Kata 'reformasi' saja sudah sangat ekstrem. Apalagi...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -