Think-Share-Solo Tingkatkan  Pemahaman Baca Aksara Jawa

102
Oleh: Ninik Pujiastuti SPd
Oleh: Ninik Pujiastuti SPd

AKSARA Jawa merupakan salah satu meteri pembelajaran yang sering kali membuat siswa kurang tertarik mengikuti proses pembelajaran. Terdapat beberapa penyebab dari permasalahan ini. Kurang memahami dan menguasai aksara Jawa menjadi penyebab utama kesulitan yang dihadapi siswa, sekalipun aksara Jawa sudah diperkenalkan kepada para siswa sejak sekolah dasar (SD).

Penyebab kedua adalah jarang digunakannya aksara Jawa pada kegiatan sehari-hari siswa. Dengan kata lain, siswa belajar aksara Jawa hanya ketika materi aksara Jawa diajarkan oleh guru. Hal lain yang menyebabkan siswa kurang tertarik belajar aksara Jawa adalah pilihan teknik atau metode pembelajaran guru yang monoton dan konvensional. Guru menunjukkan aksara atau huruf Jawa, kemudian siswa memperhatikan. Hal tersebut sangat kurang efektif. Alangkah lebih baik jika siswa dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar, dan guru bertindak sebagai pendamping. Sebagaimana ditekankan pada Kurikulum 2013, yang menekankan siswa turut berperan aktif dalam proses pembelajaran.

Think-share-solo merupakan suatu teknik yang memodifikasi dua teknik cooperative learning yaitu think-pair-share (berpikir-berpasangan-berbagi) dan think-pair-solo (berpikir-berpasangan-mandiri). Teknik tersebut menjadi strategi yang penulis terapkan pertama-tama kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, di mana setiap kelompok memiliki jumlah siswa yang sama. Pembagian kelompok ini dapat dilaksanakan secara acak atau sesuai dengan urutan pada presensi. Setelah siswa berada dalam kelompok, guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan di dalam kelompok secara bertahap dan perlahan. Kegiatan yang pertama mereka lakukan adalah think (berpikir).

Pada kegiatan guru mempersiapkan satu bacaan beraksara Jawa dan bacaan ini telah dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan jumlah siswa di setiap kelompok. Jika satu kelompok berisi lima siswa, maka bacaan tersebut dibagi menjadi lima bagian. Setiap siswa diberikan potongan bacaan yang telah dibagi sebelumnya. Setelah semua siswa mendapatkan bagian mereka, guru menginstruksikan kepada para siswa untuk membaca bagian mereka secara individu. Siswa dapat diminta untuk menuliskan bacaan itu dengan huruf latin pada buku atau kertas.

Pada kegiatan ini, siswa diperbolehkan untuk melihat catatan atau buku guna mengetahui aksara Jawa yang mereka hadapi. Pada kegiatan ini, guru juga perlu menentukan waktu pengerjaan. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat melaksanakan instruksi guru dengan efektif, dengan kata lain mereka tidak akan membuang waktu mereka dengan melakukan hal-hal yang tidak berarti.

Usai tahap ini, dan seluruh siswa telah menyelesaikan tugas pertama mereka, guru menginstruksikan kegiatan selanjutnya, yakni share (berbagi). Pada kegiatan ini, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk membagikan informasi yang mereka dapatkan pada kegiatan sebelumnya. Siswa diminta untuk membaca potongan bacaan mereka sesuai dengan urutan. Saat siswa yang memiliki potongan bacaan pertama membacakan bagiannya, anggota yang lain diminta untuk mendengarkan dengan seksama, begitu seterusnya. Apabila dinilai perlu, maka kegiatan ini dapat dilakukan dua putaran. Hal ini dimaksudkan agar siswa benar-benar memahami bacaan yang berikan secara menyeluruh.

Kegiatan yang terakhir adalah solo (mandiri). Pada kegiatan ini, guru dapat memilih beberapa jenis kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa secara individual, seperti mengerjakan latihan atau soal, atau menuliskan rangkuman bacaan, dan sebagainya. Apabila guru menginginkan memberikan latihan terkait dengan bacaan, maka guru membagikan lembar latihan kepada setiap siswa. Dan siswa diminta mengerjakannya dengan mandiri, tanpa bantuan anggota kelompok yang lain. Apabila guru ingin mengetahui kemampuan siswa untuk menceritakan kembali bacaan tersebut, guru dapat menyiapkan satu lembar kertas kosong. Selanjutnya siswa diminta menceritakan kembali bacaan tersebut dengan kata-kata mereka sendiri dan tanpa kerja sama dengan siswa yang lain.

Dalam pelaksanaan teknik ini, pembagian waktu sangat penting. Guru harus mengatur waktu yang diperlukan pada setiap tahap kegiatan dikarenakan teknik ini merupakan satu rangkaian kegiatan. Guru harus mampu menggunakan berbagai macam teknik pembelajaran yang dapat menarik siswa untuk berperan aktif. Proses belajar tidak lagi pembelajaran satu arah, dari guru ke murid, tetapi pembelajaran segala arah, siswa dapat belajar dari guru, dari teman, dari lingkungan, dari siapapun dan dari apapun. Karena itu, guru harus sensitif dan responsif terhadap perubahan di lingkungan siswa. Guru juga harus kreatif memanfaatkan segala macam cara dan media pembelajaran agar sesuai dengan keadaan dan kebutuhan siswa. (*/aro)

Guru SMP Negeri 40 Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here