Reformasi Perizinan, Investasi Jateng Meroket

Serap 541 Ribu Tenaga Kerja

67
KONDUSIF: Pekerja merakit sepeda di sebuah pabrik di Jateng. Nilai investasi di Jateng tumbuh hingga 53 persen per tahun. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)
KONDUSIF: Pekerja merakit sepeda di sebuah pabrik di Jateng. Nilai investasi di Jateng tumbuh hingga 53 persen per tahun. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)

SEMARANG- Investasi di Jateng tumbuh signifikan hingga 53 persen per tahun. Banjir investasi usaha di berbagai sektor ini sejak 2013 hingga 2017 mampu menyerap 541.520 tenaga kerja. Kuncinya ada pada reformasi perizinan yang dicanangkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Menurut Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng, Prasetyo Aribowo, gubernur menekankan perubahan pelayanan pada tiga aspek. Yakni, mudah, murah, dan cepat.

“Kini pengurusan perizinan di kantor PTSP (pelayanan terpadu satu pintu) mengedepankan kemudahan, kecepatan, bebas biaya, transparansi dan akuntabel,” katanya, ditemui di kantornya, Selasa (14/11).

Keberhasilan penataan PTSP dapat diketahui dari indikator indeks kepuasan publik yang mencapai 102,8 persen. Padahal semula target kepuasan publik hanya di angka 87,38 persen.

Prasetyo Aribowo mengatakan, pencapaian tersebut tidak terlepas dari komitmen Pemprov Jateng dalam upaya mendorong investasi melalui penciptaan iklim yang kondusif, promosi, pengendalian dan pengembangan serta optimalisasi pelayanan.

Ia menyebutkan, dari keseluruhan jumlah investasi sejak 2013 hingga semester I tahun 2017, terdapat sebanyak 5.583 usaha baru dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 541.520 orang. Sebaran tenaga kerja tersebut meliputi sejumlah daerah, terbanyak di Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar dan Purbalingga. “Untuk jumlah tenaga kerja sebagian besar jelas dari dalam negeri, ada sebanyak 537.748, dan tenaga kerja asing berjumlah 3.772 orang,” ujarnya.

Sedangkan untuk nilai investasi, pada 2016 tercatat sebesar Rp 46,63 triliun dengan jumlah investor sebanyak 2.068. Tumbuh cukup banyak dari 2015 yang mencapai Rp 26,041 triliun dengan 1.481 investor, serta sebesar Rp18,5 triliun pada 2014 dengan 407 investor dan Rp 16,9 triliun pada 2013 dengan 293 investor. Jumlah investasi tersebut berasal dari penanaman modal dalam negeri maupun dari asing.

Kebijakan ini menjadikan Jateng primadona investasi. Hal ini bisa dilihat dari adanya relokasi 47 pabrik tekstil ke Jateng dengan serapan tenaga kerja hingga 70 ribu orang pada 2015. Kemudian investasi tekstil dan produk tekstil (TPT) seperti Sritex Sukoharjo dan PT Apac Inti Kabupaten Semarang yang melakukan perluasan pembangunan. Selain itu juga ada Nesia Pan Pacific di Semarang dan Boyolali, Batik Keris, Batik Danarhadi dan sejumlah industri tekstil lainnya yang terus berkembang.

“Industri alas kaki juga turut andil dalam menyerap tenaga kerja, ada tiga penanaman modal asing dari Korea dan satu penanaman modal dalam negeri,” terangnya.

Faktor penting lainnya ialah percepatan dan penyederhanaan perizinan. Meliputi pemotongan alur birokrasi, sehingga proses lebih cepat dan pengurangan syarat dokumen. “SOP kami tata, dokumen-dokumen persyaratan yang dulu banyak dan merepotkan pemohon kami kurangi,” katanya.

Hal baru yang dicoba adalah pelayanan perizinan online agar pengurusan bisa lebih cepat dan mudah. Saat ini, baru dicoba untuk lima perizinan yang bersifat administratif.  “Kami coba lima dulu misalnya rekomplit, angka pengenal impor, izin usaha simpan pinjam, dan izin genset,” ujarnya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, reformasi perizinan yang paling dibutuhkan saat ini adalah di kabupaten/kota. Sebab, masih banyak birokrasi di daerah yang dikeluhkan masyarakat karena prosesnya berbelit-belit dan adanya pungutan liar. “Kalau di pemprov saya tegaskan tidak ada pungli, yang ketahuan langsung pecat. Makanya kami mendorong agar diterapkan di kabupaten/kota,” katanya. (amh/hms)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here