Meninggal di Sel Lapas

Mantan Hakim Ad Hoc Tipikor Semarang

138
Asmadinata. (ISTIMEWA)
Asmadinata. (ISTIMEWA)

SEMARANG– Mantan hakim ad hoc Pengadilan Tipikor Semarang Asmadinata bin Ali Imron berakhir tragis. Ia meninggal di dalam jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Kedungpane, Semarang. Terpidana 10 tahun penjara kasus suap perkara mantan Ketua DPRD Grobogan, M Yaeni,  ini dikabarkan meninggal akibat sakit.  Praktis, Asmadinata menyusul M Yaeni yang juga meninggal di dalam Lapas Kedungpane pada Sabtu (19/7/2014) silam.

“Benar, dia (Asmadinata, Red) meninggal dunia pada pukul 07.50 pagi tadi (kemarin). Beliau memang sedang sakit TBC akhir-akhir ini,”kata Kepala Lapas Kedungpane Semarang, Taufiqurrahman kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (14/11).

Taufiq menerangkan, dari laporan petugas lapas, sebelumnya pada Senin (13/11) Asmadinata datang ke Poliklinik Lapas karena mengeluh sakit. Kepada petugas, dia mengaku mual dan muntah. Oleh petugas dilakukan tindakan memberikan infus dengan RL 30 tetes/menit sebanyak 2 colf, tepatnya selesai pukul 20.00. Sekitar pukul 13.00, pihak keluarganya sudah datang.

“Pukul 14.30, dia (Asmadinata) dan keluarganya sudah diinformasikan oleh dokter lapas bahwa infus selesai pukul 20.00 dan agar obat yang diberikan untuk diminum. Kemudian pukul 16.45, dia minta kembali ke kamarnya di blok Janaka (J) dan sempat mengeluhkan sakit,”jelasnya.

Setelah dinyatakan meninggal, lanjut Taufiq, sekitar pukul 08.45, keluarga almarhum, yakni anak angkat, Ahwan Sobri, sudah sampai di lapas. Selanjutnya jenazah Asmadinata dibawa ke RSUD Tugurejo Semarang guna dilakukan pemeriksaan. Setelah itu, jenazah diberangkatkan ke Medan dengan pesawat di Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang.

“Dia divonis 10 tahun penjara dan denda Rp  200 juta subsider 6 bulan kurungan. Kalau alamat tinggal dia di Jalan Kapten Mochtar Basri Kompleks DEE nomor 3/20, Kota Medan,”jelasnya.

Dokter Lapas Kedungpane yang menangani Asmadinata, dr Joyce Jolanda Maya, menyebutkan, kalau sebelumnya almarhum sempat mengeluhkan lemas dan akan dibawa ke poliklinik. Namun sekitar pukul 07.50, almarhum sudah meninggal saat masih dilakukan pemeriksaan di blok J kamar 10.

“Diperkirakan meninggalnya karena serangan jantung (abdomen), yang bersangkutan juga punya riwayat penyakit TBC dan DM (diabetes melitus),”katanya.

Tim kuasa hukum Asmadinata, Theodorus Yosep Parera dan Eko Suparno mengaku hampir setiap minggu atau bulan ketika kliennya butuh dana pasti menghubungi kantornya. Dana tersebut biasanya langsung diantar oleh stafnya. Yosef mengaku, tergerak untuk membantu biaya hidup  Asmadinata selama di lapas lantaran kliennya tersebut tidak memiliki istri dan anak yang bisa rutin membezuk.

“Sejak ditahan, setiap butuh duit pasti ngomong. Tapi, sebulanan ini setiap telepon dan SMS, saya selalu lupa mengirimkan dana. Tahu kalau meninggal saya kaget sekali,”kata Yosep.

Diakui, Asmadinata memiliki kepribadian yang baik. Menurutnya, vonis yang dijatuhkan majelis hakim dalam kasus tersebut terlalu tinggi. Namun demikian, terkait sakit yang dideritanya diakuinya memang kliennya tersebut mengalami sakit TBC parah. Bahkan kadang anggotanya (Eko Suparno) kalau hendak berbincang-bincang saat menjenguk di lapas tidak bisa dekat-dekat karena TBC bisa menular.

“Saya berbagi, karena ada rasa kemanusiaan. Jadi setiap butuh duit kami bantu. Sebab, begitu kena masalah pidana, gaji beliau langsung diputus dan status pegawainya dicabut, jadi negara pasti ndak melihat kesulitan biaya hidupnya selama di penjara,”ungkapnya.

Asmadinata adalah salah satu hakim ad hoc Pengadilan Tipikor Semarang. Ia terkena operasi tangkap tangan (OTT) KPK saat menerima suap dari kasus yang ditanganinya, yakni mantan Ketua DPRD Grobogan, M Yaeni.

Selain Asmadinata, dalam kasus OTT KPK itu juga menangkap hakim Tipikor lainnya, yakni Pragsono. Keduanya ditangkap dari hasil pengembangan hakim Tipikor Semarang lainnya, Kartini Marpaung.

Dalam sidang di tingkat pertama, hakim menjatuhkan vonis kepada Asmadinata selama 5 tahun penjara. Dalam pengadilan tingkat banding, hakim PT Semarang menambah hukumannya menjadi 6 tahun penjara. Tak puas dengan putusan itu, Asmadinata menyatakan kasasi ke Mahkamah Agung. Namun sayang, hakim MA justru memperberat hukumannya menjadi 10 tahun penjara. (jks/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here