Mendidik Karakter dengan Budaya Islami

110
Oleh: Choirul SAg
Oleh: Choirul SAg

PENDIDIKAN merupakan sesuatu kekuatan dinamis dalam kehidupan setiap individu, yang mempengaruhi perkembangan fisik, mental, emosional, sosial, dan etika. Dengan kata lain, pendidikan merupakan suatu kekuatan yang dinamis dalam mempengaruhi seluruh aspek kepribadian dan kehidupan individu secara umum dan sangat mendasar.

Dimensi kemanusiaan yang perlu di kembangkan melalui pendidikan, menurut Parayitni (2004) adalah dimensi kefitrahan, individual, sosial, kesusilaan, dan keberagamaan. Kata kunci kandungan dimensi kefitrahan adalah kebenaran dan keluhuran; dimensi keindividualan adalah potensi dan perbedaan; dimensi kesosialan adalah komunikasi dan kebersamaan; dimensi kesusilaan adalah nilai-nilaidan moral, dimensi keberagamaan adalah iman dan taqwa. Kelima dimensi kemanusiaan saling terkait.

Terlebih, Ki Hajar Dewantara menyatakan pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti ( kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita. Artinya, tokoh pendidikan kita Ki Hajar Dewantara sebenarnya sudah menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter).

Tentang karakter menurut pusat bahasa Depdiknas adalah, sifat bawaan hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti prilaku, personalitas, sifat, bertabiat dan berwatak. Adapun berkarakter mulia adalah kepribadian, berprilaku bersifat, bertabiat dan berwatak yang sesuai dengan norama yang berlaku. Adapun budaya atau kebudayaan (culture) adalah pendayagunaan hidup sekelompok orang yang meliputi tradisi, kebiasaan, nilai-nilai norma, bahasa, keyakinan, dan berfikir, berfikir yang terpola dalam suatu masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015).

Pada dasarnya, pendidikan sebagai proses kebudayaan bagi setiap peserta didik. Pendidikan sebagai proses pembudayaan, maka setiap pendidikan itu berlangsung senantiasa harus dilakukan dengan pendekatan budaya.

Sekolah islami adalah suatu lembaga pendidikan yang menerapkan nilai – nilai Islam. Yang berdasarkan Alquran dan hadis sebagai pedomannya. Pendidikan yang menerapkan ajaran-ajaran Islam untuk dilaksanakan oleh peserta didik, sehingga diharapkan mampu memiliki jiwa, karakter yang islami.

Dengan demikian pendidikan karakter yang berbudi luhur dengan menerapkan budaya- budaya islami. Hal itu sebagaimana tugas Rasulullah diutus hanyalah untuk menyempurnakan ahlak. Dengan adanya nilai-nilai keislaman untuk mengembalikan fitrah manusia, setiap bayi yang lahir adalah fitrah (suci).

Guna mewujudkan hal itu, implementasi pendidikan karakter dengan budaya sekolah Islami dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan dengan gerakan, antara lain: Pertama, budaya salam, sapa, sopan dan santun. Kedua, budaya salat berjamaah. Ketiga, budaya iqro’, literasi (membaca). Keempat, budaya tadarrus bersama. Kelima, budaya berbusana muslim. Keenam, budaya taharah (kebersihan). Ketujuh, budaya keteladanan, serta kedelapan, budaya keramahan

Dengan demikian, pendidikan adalah pembudayaan, pembiasaan hidup dengan nilai-nilai Islam dalam seluruh kehidupan sekolah dan dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah. Jadi bagi penulis, pendidikan karakter dengan budaya sekolah islami menjadi pilihan terbaik. Dengan cara ini, akan terselenggara pendidikan keterpaduan antara jasmani, rohani, kognitif, afektif maupun psikomotorik dapat dilakukan dengan baik. Dan harapannya, terbentuklah karakter jiwa ke-Islaman (kepatuhan, tunduk dan taat) yang kuat. (*/aro)

 Guru SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here