Makan Nasi Hanya Sekali, Hubungi Keluarga Sembunyi-sembunyi

Warga Demak yang Disandera di Papua Terancam Kelaparan

126
Sistianto, Kades Kedondong

DEMAK– Nasib warga Demak yang disandera kawanan organisasi kelompok kriminal (OKK) bersenjata di Desa Kimbely dan Bati, Tembagapura, Mimika, Papua, hingga kini belum jelas. Meski demikian, Senin (13/11) lalu, ada diantara warga Desa Kedondong, Kecamatan Demak Kota yang disandera dapat berkomunikasi langsung melalui handphone (HP) dengan keluarganya.

Kepala Desa Kedondong, Sistianto mengatakan, salah seorang sandera, Karen, warga RT 5 RW 5 Desa Kedondong, berhasil menghubungi adiknya Zubaedah yang ada di Desa Kedondong. Dalam komunikasi itu, Karen menerangkan bahwa, ia dan para warga Demak lainnya yang disandera tidak bisa berbuat apa apa lantaran diisolasi diperkampungan. Hingga kemarin perkembangannya cukup memprihatinkan. Sebab, mereka nyaris kehabisan stok logistik.

“Untuk makan saja biasanya bisa 2 sampai 3 kali sehari. Nah, sekarang mereka hanya bisa makan sehari satu kali saja. Itupun hanya nasi tidak ada lauk pauknya,”ujar Kades Sistianto yang juga mendengarkan keterangan Karen bersama keluarga Zubaedah lewat komunikasi singkat tersebut.

Dengan kondisi demikian, warga Demak yang diisolir bersama ratusan warga lainnya tersebut terancam kelaparan. Karena itu, Karen bersama warga lainnya berharap pemerintah segera memberikan pertolongan untuk membebaskan para sandera tersebut.

“Akses sandera keluar kampung yang dijadikan kawasan isolasi tidak bisa. Hanya ibu ibu warga lokal  saja yang diberi kesempatan untuk berbelanja di luar kampung. Pak Karen dan teman temannya hanya bisa berdiam diri saja dan terus merasa ketakutan. Sebab, khawatir ketahuan kelompok bersenjata tersebut. Gerak geriknya diawasi,” katanya.

Sistianto mengatakan, Karen dapat berkomunikasi dengan keluarganya dengan sembunyi sembunyi. Handphone (HP) nya sempat dirampas OKK tersebut. Namun, Karen dimungkinkan punya cara lain sehingga dapat berkomunikasi dengan keluarganya di Desa Kedondong. Karen ke Papua sebagai pendulang emas di wilayah Freeport Tembagapura. Ia tidak menetap namun pulang pergi (PP) dalam waktu tertentu pulang dan kembali lagi. Karen dalam kesempatan itu juga  menyatakan, agar keluarganya sementara tidak menghubungi karena nyawa menjadi taruhan.

“Kamu (Zubaedah) jangan menghubungi saya jika saya tidak menghubungi. Sebab, nyawa jadi taruhan,” ujarnya.

Seperti diketahui, dari Desa Kedondong ada sekitar 34 warga yang mengalami nasib serupa di Tembagapura tersebut. Mereka kini menunggu dibebaskan dan ingin segera pulang ke kampung halaman. “Kita sudah lakukan pendataan warga yang ikut di Papua. Apabila ada korban baru bisa melaporkan segera. Data semua kita laporkan ke Polres Demak dan Pemkab Demak,” ujar Kades Sistianto. Kapolres Demak AKBP Sonny Irawan sebelumnya mengatakan, pihaknya telah melaporkan masalah tersebut ke Polda Jateng dan masih menunggu kabar selanjutnya. (hib/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here