Bermodal Mesin Jahit Bekas dan Kios Mungil

Yoga Adi Siswaya, Perajin Sepatu, Owner Krisnayi Shoes

105
JAGA KUALITAS: Yoga Adi Siswaya, pemilik Krisnayi Shoes memeriksa sepatu yang dibuat oleh pekerjanya. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU)
JAGA KUALITAS: Yoga Adi Siswaya, pemilik Krisnayi Shoes memeriksa sepatu yang dibuat oleh pekerjanya. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU)

Bermodal mesin jahit bekas dan kemauan kuat, Yoga Adi Siswaya mampu membuktikan sebagai perajin yang mumpuni. Pemilik Krisnayi Shoes Kota Magelang ini, mampu memenuhi orderan hingga 500 pasang sepatu per bulan. Pemesannya, datang dari berbagai kota, bahkan sampai ke luar Jawa.

AGUS HADIANTO, Magelang

PADA 2013 silam, Yoga Adi Siswaya, 41, memulai usaha dengan modal Rp 5 juta plus kios mungil 1,5 x 1,5 meter pinjaman teman. Mantan sales marketing diler motor ini terbilang nekat ketika memulai usaha pembuatan sepatu drumband dan sepatu fashion. Pekerjanya hanya satu orang, ayah dari temannya yang pintar menjahit sol sepatu.

“Saat itu, anak saya yang pertama kelas 2 SD sering sekali ikut lomba fashion show dan drumband. Mencari sepatu fashion dan drumband sangat susah dan harganya mahal. Setelah dapat, kok bentuknya biasa dan mudah dibuat,” ucap Yoga, sapaan intimnya.

Berawal dari situlah, Yoga mulai berpikir dan berdiskusi dengan temannya untuk berwirausaha membuat sepatu. Untuk membuktikan keseriusannya, Yoga keluar dari pekerjaan sebagai sales.

“Saat itu saya punya tabungan Rp 5 juta. Saya belikan satu mesin jahit bekas serta peralatan lain. Kemudian, saya minta bantuan teman untuk menyediakan kios kecil. Teman saya menyanggupi bahkan merekomendasikan bapaknya yang pintar menjahit sepatu untuk ikut bekerja,” urainya.

Mulanya, sepatu hasil buatan Yoga, ditawarkan kepada perajin drumband di Jogjakarta. Pasar yang ditujunya memang Jogja, karena di sana banyak perajin alat drumband. Dia menawarkan dengan membawa contoh, agar sepatu buatannya bisa ikut dipaketkan dalam pesanan drumband.

“Saya keliling mencari perajin drumband di Jogja, dari satu pintu ke pintu lainnya menawarkan sepatu. Alhamdulillah, banyak yang tertarik dan memesan hampir ratusan pasang sepatu drumband. Hingga kini juga masih sering kirim ke Jogka,” jelas suami dari Pramundari, 42, karyawan supermarket di Kota Magelang tersebut.

Minimnya tenaga dan sempitnya ruang produksi—sementara orderan semakin banyak—membuat Yoga berpikir untukm mencari tempat lain. Ia juga mencari para penjahit sepatu di Kota Magelang untuk diajak bergabung.

“Alhamdulillah, pada waktu itu, ada 10 orang penjahit di Kota Magelang yang ikut. Saya juga menambah empat mesin jahit bekas lagi untuk mempercepat produksi. Untuk tempat, akhirnya saya pindah dan mengontrak rumah di Gang Krisnayi Kauman RT 3 RW 1 Cacaban Kota Magelang.” Yoga melanjutkan, “Itulah kenapa akhirnya nama Krisnayi saya abadikan menjadi nama usaha saya.”

Krisnayi Shoes pun berkembang pesat, seiring gencarnya promosi melalui jejaring online dan mendatangi sekolah-sekolah di Kota Magelang. Yoga menuturkan, dirinya tidak mematok harga mahal untuk sepatu buatannya. Sepatu drumband, ditawarkan seharga Rp 55.000/pasang. Sedangkan sepatu mayoret: Rp 185.000-Rp 200.000/pasang.

Sementara sepatu fashion show, harganya minimal Rp 400.000/pasang, tergantung bahan dan model. Kini, sebagian besar sekolah dari jenjang TK hingga SMA, telah memesan sepatu buatannya. Terlebih, menurutnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Magelang selalu menggandengnya untuk ikut pameran UMKM dan pelatihan di Kota Magelang.

“Bahkan, kami pernah diikutsertakan pada pameran UMKM di Jakarta. Akhirnya, nama Krisnayi Shoes semakin dikenal. Orderan juga semakin banyak, tidak hanya Jogja, tapi juga hingga ke Jawa Timur, Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi.”

Selain mengikuti pameran, Yoga berupaya meningkatkan kemampuan para pekerjanya. Ia mengundang tentor berlatarbelakang perajin sepatu besar di Jogja dan Bandung untuk memberikan pelatihan. Pelatihan ini, lanjutnya, penting untuk menjaga kualitas sepatu buatannya.

“Karena sampai saat ini, Disperindag Kota Magelang belum secara khusus mengadakan pelatihan kepada perajin sepatu atau khusus penjahit sepatu. Semoga ke depan, Disperindag bisa membuat pelatihan khusus perajin sepatu atau penjahit sepatu.”

Padahal, sambung Yoga, para perajin atau penjahit sepatu di Kota Magelang, rata-rata berusia lanjut. Jumlahnya juga semakin sedikit. Untuk mendorong munculnya generasi baru para penjahit sepatu, dia menawarkan ke pondok pesantren di Kota Magelang untuk belajar berwirausaha menjahit sepatu.

“Namun kurang efektif, karena mungkin kegiatan di pondok lebih banyak keagamaan, sehingga kurang maksimal dalam belajar. Ke depan, kami akan menggandeng panti asuhan di Kota Magelang untuk belajar menjahit sepatu.” (*/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here