Permasalahan Guru dalam Pembelajaran IPS

110
Oleh: Tilamsari SPd
Oleh: Tilamsari SPd

SEBAGAI upaya mengembangkan kemampuan dan bakat siswa, guru dituntut untuk mampu mengelola proses pembelajaran agar siswa dapat menerima materi yang disampaikan. Pembelajaran IPS di SD maupun SMP, berdasarkan pengalaman guru selalu menyampaikan materi dengan menggunakan metode ceramah dan terpaku pada buku yang digunakan saja. Tentu hal ini membuat siswa bosan dan malas karena terus-menerus mendengarkan guru yang berbicara di depan. Akhirnya siswa hanya mementingkan hafalan. Ketika siswa bosan, maka mereka akan lebih memilih untuk mengobrol dengan temannya atau asyik dengan imajinasinya sendiri. Dan pada akhirnya, materi yang disampaikan oleh guru, sama sekali tidak bisa diterima oleh siswa dengan baik.

Tentu saja karena pengalaman siswa selama belajar IPS mulai dari SD sampai SMP, guru tidak pernah mengubah strategi mengajarnya kecuali dengan metode ceramah. Selain itu, sikap guru yang kurang memberikan motivasi bagi siswa juga mempengaruhi pandangan siswa. Ada guru yang datang ke kelas hanya untuk memberikan tugas kemudian pergi lagi. Guru yang saat mengajar terlalu terpaku pada buku pelajaran juga membuat siswa bosan dan tidak mau memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru.

Salah satu contohnya di masa sekarang, di mana siswa lebih tertarik untuk masuk jurusan IPA (di SMA) daripada jurusan IPS. Salah satu alasan mereka adalah materi yang ada dalam pelajaran IPS sangat banyak, dan mereka harus menghafal semua materi tersebut. Padahal sebenarnya justru IPA-lah yang banyak menghafal, karena IPA terdiri atas serangkaian materi pelajaran seperti Fisika, Kimia, Biologi dan sebagainya yang merupakan ilmu pasti.

Sapriya (2009) mengatakan “Dalam bidang pendidikan IPS (PIPS), baik yang bersifat school based maupun community based, tantangan yang dihadapi tidaklah sederhana. Tantangan mendesak yang perlu dijawab adalah terkait dengan upaya                 peningkatan kualitas (mutu) pendidikan. Salah satu variabel yang mempunyai kontribusi cukup besar  terhadap baik buruknya kualitas  pendidikan adalah unsur guru atau pendidik.”

Berdasarkan pendapat tersebut, sudah saatnya para pendidik mengubah mindset mereka bahwa mengajarkan IPS dengan metode ceramah yang terlalu sering  tidak efektif lagi. Guru harus mengubah cara mengajarnya agar lebih menarik dan menyenangkan untuk siswa, sehingga siswa akan dapat menyerap materi yang disampaikan oleh guru. Pembelajaran harus terpusat pada peserta didik, dan pendidik hanya sebagai fasilitator saja.

Pembelajaran Discovery

Salah satu yang dapat dilakukan guru adalah dengan strategi pembelajaran discovery. Strategi pembelajaran discovery berkembang dari ide Jhon Dewey  yang terkenal  dengan  problem  solving  method atau metode pemecahan masalah. Strategi discovery berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang  melibatkan secara  maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara matematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat  merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Kegiatan  pembelajaran dengan strategi ini memiliki dampak positif sebagaimana yang  dikemukakan Bruner dalam Hasibuan dan Moejiono (1993) yang menyatakan bahwa discovery  mengandung  makna,  sebagai berikut:  Pertama,  dapat  membangkitkan  potensi intelektual siswa karena seseorang hanya dapat belajar dan mengembangkan pikirannya jika ia menggunakan potensi intelektualnya untuk berpikir.

Kedua, siswa semula memperoleh extrinsic reward dalam keberhasilan belajar (mendapat nilai yang baik)  dalam strategi discovery akan dapat memperoleh  instrinsic reward (kepuasan diri).

Ketiga, siswa  dapat mempelajari  heuristik  (mengolah  pesan  atau informasi) dari penemuan, artinya bahwa cara untuk mempelajari  teknik penemuan adalah dengan jalan memberikan kesempatan kepada siswa  untuk  mengadakan penelitian sendiri.

Keempat, dapat menyebabkan ingatan bertahan lama sampai internalisasi pada diri siswa. Berdasarkan uraian tersebut, salah satu cara penerapan strategi pembelajaran discovery adalah dengan observasi dimana siswa terlibat secara langsung dengan pokok permasalahan, sehingga melatih siswa berpikir kritis untuk memecahkan masalah tersebut.

Selain hambatan yang datang dari guru sendiri sebagai pendidik, hambatan lain juga dapat datang  dari siswa sebagai peserta didik. Banyak siswa yang susah menyerap apa yang disampaikan guru, sampai siswa yang tidak memiliki cukup motivasi untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Jika masalah ada pada siswa, maka guru dapat melakukan pendekatan dengan siswa tersebut untuk mengetahui mengapa siswa itu bermasalah dalam proses belajar IPS.

Menggunakan pendekatan personal secara face to face akan membuat siswa lebih nyaman saat mengutarakan masalahnya. Saat siswa mencurahkan hambatannya, guru sebisa mungkin untuk memposisikan diri dalam menyelesaikan hal tersebut yang menjadikan sebuah hambatan bagi siswa dan guru tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai sahabat dan orang tua. Sehingga membuat siswa merasa nyaman. Pada posisi ini, guru harus menjadi pendengar yang baik sekaligus sebagai pemberi motivasi dan jalan keluar untuk siswa tersebut. (*/aro)

Guru SMP Negeri 2 Sragi, Kabupaten Pekalongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here