Budayakan Literasi, Gelar Bedah Buku

65
LITERASI: Suasana bedah buku “Etika Muhammadiyah dan Spirit Peradaban” di Aula Rektorat Kampus 2 UM Magelang, Sabtu (11/11). (DOK HUMAS UM MAGELANG)
LITERASI: Suasana bedah buku “Etika Muhammadiyah dan Spirit Peradaban” di Aula Rektorat Kampus 2 UM Magelang, Sabtu (11/11). (DOK HUMAS UM MAGELANG)

MUNGKID—Universitas Muhammadiyah Magelang melalui Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Studi Islam (LP2SI) mengadakan bedah buku berjudul “Etika Muhammadiyah dan Spirit Peradaban” di Aula Rektorat Kampus 2 UM Magelang, Sabtu (11/11). Kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan budaya literasi di lingkungan kampus.

Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Dr Purwati MKons yang membuka acara tersebut dalam sambutannya mengatakan, buku merupakan jendela dunia. “Artinya bahwa mencintai dan membaca buku dapat memahamkan wawasan yang seluas-luasnya. Dengan ketahanan ilmu yang luas otomatis dapat mengubah dan mempengaruhi perilaku seseorang,“ jelasnya.

Ketua LP2SI UM Magelang M Tohirin MAg mengatakan, bedah buku dilakukan untuk menghidupkan budaya literasi baik dari aspek membaca buku, menuliskan, mendiskusikan dari karya-karya baru khususnya tokoh Muhammadiyah. “Selain itu kegiatan bedah buku akan dilaksanakan dalam skala kecil yaitu dua minggu sekali.”

Dalam acara yang diikuti 150 peserta itu, dua narasumber dihadirkan. Mereka adalah M Tohirin serta Prof Dr Zakkiyuddin Baidhawy (Direktur Pasca Sarjana IAIN Salatiga dan penulis buku).

Zakkiyuddin mengungkapkan, etika spirit peradaban sangat penting dalam peran di bidang ekonomi untuk membangun keswadayaan. “Muhammadiyah membangun cita-cita Lembaga Amal Zakat Infaq dan Sodaqoh (LazizMu) menjadi baitul mal. Muhammadiyah menciptakan tujuan yang abstrak maka dibutuhkan transformasi kepada suatu yang konkret. Maka dibutuhkan konsep yang lebih terstruktur yang bisa memainkan peran actor republic yang berbasis pada moralitas,” katanya.

Adapun Tohirin dalam pemaparannya menuturkan, dalam buku Etika Muhammadiyah dan Spirit Peradaban ini, ada beberapa tingkat pemahaman di dalam Muhammadiyah. Yaitu ada nilai-nilai atau etos-etos yang perlu dikembangkan. Menurut Tohirin yang telah menulis beberapa buku tentang Kemuhammadiyahan, dalam Muhammadiyah ada etos Al-Ashri yaitu ketika beragama tidak untuk memuaskan diri sendiri tapi juga kehidupan masyarakat. Dipahami juga Islam berkemajuan dan progresif, ciri-cirinya adalah Muhammadiyah yang memiliki tradisi ijtihad. “Artinya Muhammadiyah tidak berpangku tangan pada hasil-hasil pemikiran yang sudah melembaga, tapi bagaimana ijtihad ini dikembangkan,” papar Tohirin. (vie/sct)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here