Berharap Setiap Bulan ada Pentas Wayang

81
NGURI-URI BUDAYA : Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berdialog dengan sejumlah siswa SD pada puncak peringatan Hari Wayang Nasional di Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NGURI-URI BUDAYA : Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berdialog dengan sejumlah siswa SD pada puncak peringatan Hari Wayang Nasional di Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Rangkaian Peringatan di Kota Semarang yang digelar di pelataran kantor RRI resmi ditutup, Senin (13/11). Di hari terakhir, 21 siswa dari SDN 3 Manyaran Semarang tampil sebagai pamungkas acara.

Ketua Panitia  Hari Wayang Nasional 2017, St Sukirno mengatakan, acara bertema “Mencintai Wayang Bukti Nyata Bangsa yang Berbudaya” ini berlangsung sejak Selasa (7/11) lalu. Sebelumnya pada Senin (6/11) panitia dan dalang melakukan ziarah kidung ke makam Ki Nartosabdho di kompleks Makam Bergota Semarang.

Berbagai acara telah terlaksana. Seperti pergelaran wayang kulit dengan 14 dalang, pentas tari, karawitan, geguritan, hingga seminar wayang. Kemudian lomba menggambar wayang dan pameran seni. “Peringatan Hari Wayang ini melibatkan 14 dalang, 7 kelompok karawitan profesional, karawitan dari 13 SD, 1 SMK, dan 4 perguruan tinggi,” katanya di sela-sela acara penutupan.

Sore itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo yang hadir dalam pentas wayang terakhir itu memberikan apresiasi kepada anak-anak sekaligus seniman Semarang. Pada kesempatan itu, dia mengusulkan ada acara ngunduh wayang dan ketoprak setiap bulan.

Ngunduh wayang dan ketoprak ini bisa digelar bergantian di 35 kabupaten/kota di Jateng. Dalam setiap acara wajib menyertakan tokoh-tokoh setempat sebagai pemain, dikemas secara kolosal dan melibatkan anak-anak.

“Kalau wayang ya wayang orang atau ketoprak bisa. Tiap bulan satu pertunjukan keliling di tiap kabupaten. Pak Bupati main, Kapolres dan Dandim main, kalau saya diundang pasti ikut. Dan anak-anak harus ikut sehingga kolosal,” tuturnya.

Ngunduh wayang dan ketoprak ini diharapkan membuka dimensi baru akan pelestarian kesenian tradisi. Seniman akan dituntut berkreasi mengemas pertunjukan secara kolosal, memasukkan unsur-unsur inovasi modern tapi tidak meninggalkan pakem tradisi. “Anak-anak yang ikut main akan memiliki pengalaman yang tidak terlupakan sampai mereka dewasa. Wah saya pernah main ketoprak sama Pak Bupati dan Pak Gubernur,” tegasnya. (amh/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here