Nama Untidar Dicatut Penipu

109

MAGELANG – Universitas Tidar (Untidar) Magelang yang kini menjadi universitas negeri di eks Karesidenan Kedu membuat minat pelajar meneruskan pendidikannya meningkat. Namun, ternyata nama Untidar dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindak kriminal penipuan.

Humas Untidar Kusumo Wardani menjelaskan, penipuan tersebut terungkap setelah ada seorang pria berinisial AP menggunakan kartu tanda mahasiswa (KTM) Untidar palsu untuk menyewa sebuah kamera DSLR di Pringsurat Temanggung. Korbannya bernama Irmala Saputri. Pelaku menyewa kamera tersebut pada Senin (30/10) dengan meninggalkan KTM Untidar yang diaku sebagai miliknya. Tapi kemudian, pria tersebut tidak mengembalikan kamera sewaan seharga sekitar Rp 4 juta tersebut.

“Kakaknya korban yang datang ke kampus untuk mengecek apakah pelaku memang benar mahasiswa Untidar. Lalu kami cek dan ternyata nama pelaku tidak ada di data universitas. Nama fakultas dan prodi yang tercantum pun tidak cocok,” kata Dani, Minggu (12/11).

Dari KTM pelaku yang disodorkan korban, tercatat AP terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Hukum. Padahal di Untidar, prodi Manajemen menginduk di Fakultas Ekonomi. Di Untidar juga tidak ada Fakultas Hukum karena prodi Ilmu Hukum menginduk di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

“Kami pastikan kartu pelaku itu palsu. Apalagi, warna kartu berbeda jauh dari KTM kami yang asli. KTM atas nama AP yang palsu berwarna merah putih, sedangkan KTM asli berwarna biru tua dan kuning. Bahkan, KTM yang palsu itu tidak ada tanda tangannya rektor,” tegas Dani.

Atas kejadian ini dan mencegah kejadian serupa terulang, Dani mengimbau agar masyarakat lebih waspada dan hati-hati. Untidar terbuka pada masyarakat yang akan konfirmasi terkait KTM jika dijadikan jaminan peminjaman semacam ini.

Sementara, Irmala menyampaikan, AP meminjam kamera Canon 1200D di tempat usahanya, Senin (30/10) dan seharusnya dikembalikan satu hari setelah pemakaian. Tapi hingga kebih dari batas pengembalian belum juga ada tanda-tanda, ia menghubungi nomor telepon yang ditinggalkan AP ketika menyewa. Ternyata nomor tersebut sudah tak bisa dihubungi.

“Kami memang tidak mencocokkan antara KTM dan KTP sang peminjam. Yang melepas kamera saat itu orang tua. Mungkin lupa untuk mencocokkan antara KTM dan KTP,” papar Irmala.

Dari kejadian ini, Irmala mengaku mendapat sebuah pelajaran dalam usaha. Apalagi ia baru merintis usaha rental tersebut kurang lebih satu tahun. “Jadi pelajaran agar saya atau siapapun lebih berhati-hati,” imbuh siswi kelas 12 SMA 1 Pringsurat ini. (cr3/mg11/mg13/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here