Metode Cerita Berantai Tingkatkan Keterampilan Berbicara

140
Oleh: Dra Diana Farida MPd
Oleh: Dra Diana Farida MPd

BERCERITA lisan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai peserta didik dalam mempelajari bahasa Inggris. Bercerita lisan dapat menjadi pengalaman belajar yang menarik. Dengan bercerita, peserta didik berkesempatan mengekspresikan pikiran, gagasan, perasaan, imaginasi dan kreativitas. Mereka juga berkesempatan untuk mempelajari berbagai nilai moral tentang kebajikan dan keburukan dalam hidup yang diajarkan para tokoh cerita.

Derewianka (1995) menyatakan bahwa naratif mencerminkan komplikasi yang kita hadapi dalam hidup dan cenderung meyakinkan kita bahwa masalah tersebut dapat dipecahkan. Dengan mempelajari nilai tersebut peserta didik dapat meneladani karakter positif tokoh cerita.

Dengan melihat kebajikan dan keburukan tersebut, mereka dapat menjadikan tokoh cerita tertentu untuk diteladani. Dalam proses pembelajaran, peserta didik harus mampu menunjukkan kemampuannya untuk mencapai tujuan sosial  bercerita lisan yaitu menghibur pendengar.

Kompetensi yang ditargetkan kurikulum tersebut harus dikuasai peserta didik. Namun demikian, dalam proses pembelajaran cerita lisan selalu ditemukan berbagai  kendala. Kendala yang dihadapi peserta didik dalam bercerita lisan adalah: (a) kosa kata yang dikuasai terbatas, (b) rendahnya penguasaan grammar, (c) kurang menguasai pronunciation dan (d) rendahnya percaya diri saat presentasi.

Peserta didik yang ditugasi untuk memilih sendiri cerita yang mereka bawakan tampak kurang percaya diri. Mereka cenderung memelankan suara, berbicara terputus-putus, atau berbicara cepat, lancar tapi seperti membaca nyaring tanpa ada jeda. Membawakan cerita dengan cara tersebut, peserta didik tampak gagal menarik perhatian dan menghibur pendengarnya. Pendengar tampak lebih tertarik untuk ‘ngobrol’ dengan temannya. Situasi belajar semacam ini tentunya sangat monoton, yang menjadikan peserta didik tidak termotivasi untuk belajar.

Atasi Kendala

Untuk mengatasi kendala tersebut, penulis mengaplikasikan beberapa perubahan saat pembelajaran bercerita lisan. Perubahan pertama, cerita yang dibawakan bukan lagi pilihan peserta didik. Agar mereka termotivasi belajar teks naratif, penulis mengajak mereka menyimak film cerita kartun pendek dari video yang diunduh dari internet. Alur cerita sudah disesuaikan dengan minat dan kemampuan peserta didik untuk dipahami. Setelah menyimak film, peserta didik ditugasi untuk menceritakan isi film tersebut menggunakan kata-kata mereka sendiri.

Perubahan kedua, cerita yang semula dibawakan secara individual diubah menjadi cerita yang diceritakan secara berkelompok. Saat bercerita secara berkelompok, peserta didik harus bergotong royong  dan saling mendukung untuk menyusun teks lisan. Misalnya, peserta didik A mengawali cerita dengan satu kalimat.

Selanjutnya peserta didik B mengulang kalimat peserta didik A dan menambah satu kalimat untuk menyambung cerita peserta didik A. Setelah itu, peserta didik C mengulang cerita peserta didik A dan B dan menambahkan satu kalimatnya sendiri untuk memperpanjang cerita. Cerita diulangi penyampaiannya dan diperpanjang dengan kalimat baru hingga cerita dalam video lengkap dibawakan. Selama proses kerja kelompok, para peserta didik saling memberi koreksi dan masukan yang diperlukan.

Guru juga memantau mereka untuk mengamati perkembangan penguasaan materi ajar dan pengembangan sikap percaya diri peserta didik serta memberi bimbingan yang diperlukan. Setelah  peserta didik berlatih menyusun cerita lisan bersama kelompoknya, tahap selanjutnya mereka ditugasi untuk membawakan cerita tersebut di depan kelas.

Dengan bergotong- royong menyusun cerita lisan secara berkelompok, tanggung jawab individu tidak terlampau berat untuk membawakan cerita tertentu. Mereka dapat membagi tugas mereka bersama anggota kelompok, sehingga tanggung jawab menjadi lebih ringan.

Selain itu, peserta didik berkesempatan untuk melakukan ‘gladi bersih’ bersama anggota kelompok mereka terlebih dahulu, sebelum tampil bercerita secara mandiri di depan kelas. Saat gladi bersih, mereka berkesempatan meningkatkan kompetensi dan percaya diri mereka dalam kelompok sebelum tampil di depan audience yang lebih banyak. Dengan demikian, teknik dan media yang tepat, bercerita lisan dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. (*/aro)

Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 3 Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here