Kearifan Lokal Wujudkan Pembudayaan Bahasa Jawa

134
Oleh: Aida Yuliawati SPd
Oleh: Aida Yuliawati SPd

KEARIFAN budaya lokal yang penuh dengan nilai-nilai luhur kini dicoba digeser dengan budaya modernis yang baru dan nyaris kering dengan nilai-nilai kemanusiaan, kebijaksanaan, etika dan estetika. Penggeseran budaya lokal Jawa tersebut dimulai dengan tidak dibudayakannya Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari digantikan dengan bahasa Indonesia ataupun bahasa asing. Terlebih lagi, masyarakat tak lagi memperkenalkan budaya Jawa ataupun Bahasa Jawa kepada generasi berikutnya.

Budaya dan bahasa Jawa sengaja “diberangus” karena dalam budaya Jawa terdapat nilai luhur yang melebihi identitas bangsa lainnya serta dalam budaya Jawa terdapat simpul-simpul bahasa yang menjadi kunci dalam pemahaman spiritualitas kehidupan. Sebagai contoh ungkapan-ungkapan dalam sastra Jawa “Sakti tanpa aji”, “Menang tanpa ngasorake”, ataupun kalimat bahasa sastra Jawa yang menjelaskan  tentang pencipta, seperti “Cedhak tanpa sinenggolan, adoh tanpa wewangenan” dan menjelaskan tentang sisi keunggulan manusia dengan Indonesia tidak menutup kemungkinan menyimpan berbagai simpul-simpul rahasia dalam bahasa sastra masing-masing.

Budaya dan bahasa sastra Jawa dalam mengalihbahasakan dan menjelaskan tentang keislaman saja memiliki cita rasa tersendiri yang jauh mudah dimengerti, mudah dipahami, meskipun diperlukan pemahaman yang tinggi tentang budaya dan Bahasa Jawa. Sehingga dapat memahami pembahasaan sisi spiritualitas keislaman dalam sastra Jawa.

Nilai Historis

Budaya Jawa diakui oleh dunia sebagai budaya yang penuh dengan nilai historis yang tentunya sarat dengan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai luhur. Pengungkapan nilai-nilai budaya tersebut dalam sastra bahasa diungkapkan secara ringkas, simpel, dan sederhana. Namun dalam pemahaman atas makna dibutuhkan pemikiran yang mendalam dan keahlian atas budaya itu sendiri. Semakin sarat akan nilai-nilai suatu budaya bangsa, maka akan terlihat jelas dengan makin banyaknya kosa kata dalam membahasakan suatu obyek benda.

Bahasa Jawa-lah yang memiliki kosa kata paling lengkap d iantara bahasa-bahasa di dunia. Kekayaan kosa kata ini yang selalu berkembang berabad-abad menjadi bukti historis bahwa budaya Jawa merupakan budaya tertua di dunia.

Degradasi budaya ini sangat jelas terlihat sekali dalam pengamatan kita bila mengamati dengan seksama tentang penggunaan budaya dan sastra Jawa antar generasi hingga generasi sekarang. Mengapa demikian?

Pertama, pada dunia pendidikan, pembelajaran bahasa dan sastra Jawa, juga sejarah mendapati porsi yang paling sedikit, bahkan dalam kurikulum pembelajaran bahasa Jawa saja mulai ada semenjak ada desakan para pemerhati budaya Jawa, sehingga masuk dalam kurikulum wajib bagi provinsi di Jawa. Dengan minimnya porsi dalam pembelajaran bahasa dan sastra Jawa tersebut, secara perlahan generasi penerus akan menjadi asing terhadap budaya asli tempat kelahirannya, dan cenderung mudah untuk menyerap budaya lain yang belum tentu memiliki kompleksitas nilai luhur dalam kehidupan.

 Kedua, semakin hilangnya pembudayaan budaya Jawa mulai dari penggunaan bahasa hingga pengajaran dan pengenalan budaya Jawa dalam keluarga semakin menambah kurangnya khasanah pengetahuan generasi penerus terhadap budaya dan bahasa sastra Jawa. Dengan semakin tidak dipahami akan nilai budaya, maka semakin sulit bagi generasi sebuah bangsa untuk memahami dan membanggakan budayanya sendiri.

Ketiga, lunturnya kebanggaan budaya lokal dengan membanggakan budaya asing menjadikan budaya dan bahasa asli Jawa semakin jauh terpendam ke perut bumi, dan menjadikan masyarakat akan krisis identitas diri dan identitas budaya sendiri.

Bila kita bandingkan dengan negara India maka kita akan menjadi iri dengan kebanggan masyarakat India terhadap budaya lokalnya sendiri. Wanita India dengan bangga menggunakan baju sari sebagai baju identitas bangsanya kemanapun mereka pergi, ke kantor, ke pesta dan di tempat kerja, namun tidak berlaku pada budaya kita. Wanita Jawa  mungkin akan menggunakan kebaya dan kain jarik saat menjadi panitia pesta pernikahan atau pada saat pawai karnaval saja. Perbedaan cara pengungkapan kebanggan inilah yang menjadikan bangsa kita menjadi krisis budaya dan identitas.

Untuk menjaga agar nilai-nilai budaya Jawa tidak menghilang dari zaman, maka diperlukan semangat yang baru untuk mempelajari sejarah dan budaya serta bahasa sastra Jawa dan penggalakan budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Perlu ditumbuhkan lembaga-lembaga kajian budaya dan bahasa Jawa ataupun jurnal-jurnal yang mengupas tentang budaya dan Bahasa Jawa agar mudah dimengerti, dipelajari oleh setiap generasi yang ada. Sehingga pengetahuan akan budaya dan Bahasa Jawa ini dapat senantiasa diwariskan dari zaman ke zaman.

Kepedulian untuk menggalakkan budaya Jawa ini tidak harus menunggu peran pemerintah, namun keprihatinan semua kalangan masyarakat Jawa. Bentuk peran tersebut bisa variatif, dalam melestarikan budaya dan bahasa sastra Jawa di tengah gilasan globalisasi. (*/aro)

Guru SMK Negeri 7 Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here