Dampak Terminal Baru Bandara Ahmad Yani

Oleh: Djoko Setijowarno

137

TERMINAL penumpang Bandara Internasional Ahmad Yani direncananakan Maret 2018 sebagian sudah dapat difungsikan. Lokasi terminal penumpang yang baru berada di sisi utara landas pacu (runway) yang ada sekarang. Runway yang sudah tersedia panjang 2.560 meter dan lebar 45 meter. Luas terminal bertambah, semula 6.708 meter persegi menjadi 58.652 meter persegi. Luas apron yang semula 29.032 meter persegi nantinya menjadi 72.522 meter persegi.

Demkian pula untuk parkir kendaraan bermotor disediakan untuk 1.200 unit dengan luas 43.633 meter persegi. Sekarang hanya 8.805 meter persegi untuk 350 kendaraan. Terminal baru akan dilengkapi dengan avio bidge (3 unit), 6 elevator (6 unit), travellator (1 unit) dan escalator (8 unit). Sekarang sudah terbangun adalah apron dan landas hubung (taxiway). Di dalam area bandara setidaknya ada titik konflik yang harus menjadi perharian.

Di dalam kawasan bandara terdapat konflik pergerakan yang harus ditangani, seperti (1) depan terminal bandara (dropping-pickup, halte), (2) dari gedung parkir, terminal bandara dan kargo, (3) ke perkantoran, (4) yang putar balik.

Sementara di luar kawasan bandara adalah sepanjang jalan akses menuju Bandara Ahmad Yani setidaknya dikelompokkan dalam empat titik konflik, yaitu pergerakan dengan kendaraan masuk keluar (1) RM Tanjung Laut, (2) RM Kampung Laut, Maerokoco dan Sekolah Krista Mitra, (3) Kawasan Marina dan aktivitas parkir perkantoran dan komersial di sisi jalan akses, dan (4) Kawasan Puri Anjasmoro, jika ada event besar, terdapat antrian kendaraan masuk Kawasan PRPP.

Permasalahan saat ini: pertama, terdapat titik tundaan perjalanan, seperti persimpangan (simpang tak bersinyal: konflik pergerakan; simpang bersinyal: lamanya fase lampu lalu lintas APILL), perlintasan sebidang KA, gangguan samping (aktivitas pasar, area komersial, Sekolah Kristra Mitra, Kawasan PRPP). Terdapat pertemuan ruas jalan di simpang baik bersignal maupun tidak, dan adanya aktivitas pusat kegiatan menyebabkan gangguan samping; perlintasan sebidang KA, di beberapa titik menyebabkan tundaan perjalanan cukup signifikan.

Kedua, bercampurnya pergerakan kendaraan besar dan kecil (mix-traffic). Keberadaan jalan arteri primer yang menjadi jalur angkutan barang, dan menjadi salah satu akses ke bandara. Menyebabkan tercampurnya pergerakan kendaraan besar dan kecil (mix-traffic) dapat menimbulkan ketakutan/keengganan, mencari jalur alterantif, dan membebani jalan lokal/lingkungan.

Ketiga, tingginya volume lalu lintas di jalan akses menuju bandara (menjadi satu dengan akses ke kawasan perkotaan). Bercampurnya pergerakan ke kawasan perkotaan Semarang dengan pergerakan ke bandara menyebabkan tingginya volume pergerakan di sekitar kawasan pengembangan.

Keempat, daya dukung jalan masih rendah (perkerasan jalan rusak, penyempitan badan jalan/bottleneck). Di beberapa titik didapatkan daya dukung jalan masih rendah, baik dari sisi kapasitas maupun perkerasan jalan.

Pengaturan sirkulasi kendaraan di luar kawasan bandara untuk mengurangi beban perjalanan pada jaringan jalan yang terkoneksi ke bandara dapat mengalihkan mobilisasi masyarakat dengan menggunakan angkutan umum. Caranya, mendorong peningkatan layanan angkutan perkotaan dan layanan BRT Trans Semarang dan Trans Jateng masuk bandara.

Pengembangan angkutan pemadu moda hingga wilayah hinterland (kabupaten/kota sekitar wilayah barat: Tegal-Pemalang-Pekalongan-Batang-Kendal. Wilayah selatan: Temanggung-Ungaran-Salatiga. Wilayah timur: Rembang-Pati-Kudus-Demak-Jepara dan Blora-Grobogan). Pengembangan AKDP dan perkeretaapian (intermoda) regional dan/atau perkotaan.

Kemudian dengan tingginya volume lalu lintas dan konflik pergerakan ada upaya pengalihan beban jalan, Pemkot Semarang dapat mengembangkan informasi lalu lintas di jalur akses bandara (informasi di pintu/gate maupun titik-titik strategis di wilayah perkotaan/pintu masuk Kota Semarang) dalam bentuk visual massage system (VMS).

Bercampurnya jenis kendaraan berat, ringan dan sepeda motor. Larangan angkutan berat masuk jaringan jalan perkotaan (berikut jalan arteri), khususnya pada jam puncak pergerakan (06.00-09.00 dan 15.00-18.00). Tundaan simpang dengan melakukan evaluasi fase dan waktu APILL. Perbaikan geometri simpang. Mengurangi volume lalu lintas (mengalihkan arus, mendorong penggunaan angkutan umum). Informasi lalu lintas di jalur akses bandara (VMS). Untuk menghindari konflik di jalan akses, direncanakan akan dibangun jalan layang (flyover) sepanjang 1.400 meter.

PT Angkasa Pura I sebagai pengelola Bandara Ahmad Yani akan menyiapkan fasilitas khusus parkir untuk BRT Trans Semarang, angkutan pemadu moda, dan taksi berargometer. Juga sanggup menyediakan layanan shuttle bus terjadwal hingga keluar kawasan bandara mendekati jalan arteri untuk melayani publik bandara yang tidak memiliki akses kendaraan pribadi.

Beberapa dampak tersebut sudah disepakati dalam dokumen Analisis Dampak Lalu Lintas yang sudah disetujui Kementerian Perhubungan. Harapannya, dengan beroperasi terminal baru Bandara Ahmad Yani dapat mengangkat citra Kota Semarang. (*)

*Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata

<djokosetijowarno64@gmail.com>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here