Tinggalkan Kampus UI, Daftar Akpol

60
TURUN LANGSUNG : Sebagai pimpinan, Ardi tak segan turun ke lapangan menemani anak buah. (DOK PRIBADI)
TURUN LANGSUNG : Sebagai pimpinan, Ardi tak segan turun ke lapangan menemani anak buah. (DOK PRIBADI)

AKBP Yuwanto Ardi rupanya pernah belajar di Kampus Universitas Indonesia (UI), Jakarta untuk menempuh pendidikan akademik di Fakultas Teknik Mesin. Namun pendidikan ini tidak diteruskan dan dia mendaftar masuk ke Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang.

Ardi mengakui sejak kecil hingga dewasa selalu berada di Jakarta menempuh pendidikan akademik mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan lulus tahun 1997. Setelah itu, Ardi mendaftar di UI dan diterima menjadi mahasiswa.

“Iya pernah kuliah dua semester, waktu itu sedang terjadi kerusuhan Mei 1998, sehingga saya tidak pernah kuliah selama berbulan-bulan karena mengikuti demo. Termasuk kejadian Semanggi I dan Semanggi II saya ikut (demo),” katanya.

QUALITY TIME : Waktu libur selalu dimanfaatkan Ardi untuk berkumpul bersama keluarga. (DOK PRIBADI)
QUALITY TIME : Waktu libur selalu dimanfaatkan Ardi untuk berkumpul bersama keluarga. (DOK PRIBADI)

Melihat hal ini membuat orangtuanya semakin prihatin dengan masa depan Ardi. Hingga akhirnya Ardi dipanggil orangtuanya dan diminta untuk memilih melanjutkan di UI atau mendaftar di Akpol. Meskipun dengan berat hati meninggalkan kampus UI, Ardi kemudian menjadi taruna Akpol 2008 dan lulus pada tahun 2001. “Saya putuskan untuk menjadi taruna Akpol karena pada saat itu saya sudah lama tidak kuliah mengingat situasi yang tidak menentu,” tegasnya.

Diakuinya, kali pertama menjadi Taruna di Akpol, laki-laki yang menjabat sebagai Kasatlantas Polrestabes Semarang sejak 4 September 2017 ini awalnya sangat kaget. Menurutnya, dunia pendidikan yang dijalaninya sangat berbeda dengan saat menjadi mahasiswa di Kampus UI.

“Terus terang waktu itu saya sangat kaget, karena di Akpol itu kan kita sangat dididik untuk pembentukan karakter. Keunggulan kita dibentuk benar-benar menjadi seorang pemimpin, memiliki daya juang dan loyalitas yang tinggi,” tegasnya.

Berkat ketekunan dan kesabaran, Ardi berhasil menjalani dunia pendidikan sebagai Taruna Akpol tahun 2001 dan langsung ditugaskan di Polresta Surakarta, sebagai Kanit Patroli. Bahkan, Ardi juga sempat bertugas di Polda Metro Jakarta termasuk sebagai pengasuh Taruna Akpol.

“Saya juga pernah menjadi Kasatlantas Polres Rembang, Kasatlantas di  Tegal juga pernah, terus kembali lagi Kasatlantas Klaten, Kapolsek Laweyan Surakarta, saya juga pernah ditugaskan di perbatasan NTT selama satu tahun, kemudian saya dikasih kesempatan memilih tempat dan kembali ke Jawa Tengah sebagai analis kebijakan di Polda Jateng,” ungkapnya.

Rupanya Ardi juga dibesarkan dari lingkungan keluarga anggota Polri. Orangtuanya pun pernah menjabat sebagai Gubernur Akpol. Menurut, Ardi, sebagai orangtua selalu memberikan nasehat kepada anaknya untuk melangkah di jalan yang baik.

“Ayah saya juga seorang polisi. Pesan beliau hanya satu, jangan pernah membuat kesalahan karena hidup itu membuat sejarah. Maka, buatlah sejarah yang baik. Pesan-pesan inilah yang saya terapkan dalam diri saya, termasuk saya sebagai anggota Polri,” terangnya.

Kasatlantas Polrestabes Semarang yang baru dijabat Ardi sejak September 2017 lalu, Polrestabes Semarang mendapat prestasi lomba penurunan angka kecelakaan tingkat Mabes Polri. Polda Jateng menduduki juara pertama dan Polrestabes Semarang menduduki peringkat dua dibawah Surabaya.

“Kita disana melakukan presentasi bagaimana cara untuk menekan kecelakaan lalulintas, dan Polrestabes Semarang berhasil meraih peringkat dua,” katanya.

Ardi menambahkan, saat ini ia telah dikaruniai tiga orang anak dari pernikahan dengan wanita pujaan hatinya bernama Ayu Ismaniasita Widyaningrum. Ardi juga selalu mengisi hari liburnya dengan istri dan tiga anaknya.

“Saya juga sampaikan kepada anak-anak saya hidup harus hebat, jangan sederhana, yang sederhana itu perbuatannya. Kalau harus hebat itu bagaimana, ya segala sesuatunya harus maksimal. Saya tidak menjabarkan maksimal itu seperti apa, mereka sudah bisa menjabarkan sendiri,” pungkasnya. (m hariyanto/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here