Menghentikan Label Buruk pada Anak

571
Oleh: Endon Nurcahyati, S.Pd
Oleh: Endon Nurcahyati, S.Pd

ALKISAH-seorang siswa SMA jurusan IPS memperoleh nilai 50, yang berarti belum memenuhi kriteria belajar minimal. Kemudian dia juga sering terlambat masuk sekolah, di dalam kelas selalu kurang semangat, sehingga seorang guru menyebutnya (melabeli) dengan kata-kata, “emang kamu anak yang bodoh, emang anak anak jurusan IPS itu bodoh-bodoh, nakal , nggak disiplin, nggak kaya anak anak-anak jurusan IPA”.

Kemudian teman teman satu kelasnya menambahi kata-kata yang lebih pedas lagi, memberi label kepadanya “Kamu anak yang ngeng, stupid, ideot”. Belum selesai sampai disitu, dengan nilai yang kurang ini guru tersebut memberikan tugas, dengan harapan dapat memperbaiki nilainya. Sesampainya di rumah setali tiga uang ketika anak tersebut curhat ke ibunya, justru di komentari “Pacen sampean kui ndableg kok nang, bodo sisan, judeg aku” (memang anda itu males dan bodoh, males saya). Di nasehati ndak sembuh- sembuh.

Maka anak (siswa) tersebut semula merasa rendah diri, kemudian semakin lama malah melabili dirinya sendiri sebagai anak yang bodoh dan pemalas. Ketika label itu sudah begitu kuatnya, bagaikan batu karang yang tidak tergoyahkan dan keras tak bisa dihancurkan, maka ia akan menjadikan label aku bodoh, aku malas itu sebagai acuan, pegangan dalam proses kehidupannya. Dia merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Dia merasa tidak berdaya. Walaupun usaha orang lain untuk memotivasinya begitu kuat. Itulah kekuatan identitas (label) bagi seseorang. (Mahfud AN, 2017)

Tentang identitas sendiri, Hingdranata Nicolay (2009:92) mengatakan bahwa identitas diri bekerja dalam dua arah. Yang satu adalah kebenaran atau realitas yang dipersiapkan oleh orang yang memberikan label, dan yang satu lagi adalah kebenaran atau realitas yang diadaptasi atau diwujudkan oleh orang yang dilabeli. Dan kedua-duanya benar. Sebagai contoh, ketika anda beberapa kali bersama sahabat anda sering kali marah karena tidak setuju dengan ide anda. Maka sahabat anda memberi identitas pemarah pada sahabat anda. Tapi apakah itu benar dia adalah seorang pemarah? Bad labeling ini membentuk keyakinan bahwa memang sahabat anda adalah pemarah, meski anda sendiri telah memahaminya sebagai seorang sahabat.

Karena pelabelan memiliki kekuatan yang sangat penting, maka penting kiranya mewujudkan pelabelan diri sendiri maupun orang lain dengan label yang positif (positive labeling). Karena jika kita memberikan bad labeling pada orang lain, maka akan selau muncul kalimat pada diri anda kata-kata yang melemahkan bahkan tidak memberdayakan. Namun jika positive labeling yang kita tanamkan pada diri sendiri maupun orang lain akan memberikan dampak perilaku yang terarah dan positif serta memberdayakan.

Terkait bagaimana strategi memberi labeling secara positif, bagi Mahfud AN (2017:88), ada beberapa hal yang perlu dilakukan, antara lain: Pertama, perpeganglah pada prinsip bahwa identitas adalah menduduki posisi penting dalam strukur pola pikir (neuro-logical level). Artinya harus meyakini bahwa identitas yang baik akan berdampak pada kapabilitas dan perilaku yang baik. Demikian sebaliknya. Kedua, mulailah dengan menanamkan identitas yang positif dan memberdayakan dalam kehidupan anda, walaupun belum bisa diwujudkan dalam prilaku.

Ketiga, sadari bahwa pelabelan yang diberikan oleh orang lain itu belum tentu benar, bahan lebih banyak tidak tepatnya. Sebab mereka menetapkan label pada diri anda lebih banyak didasarkan pada persepsi. Persepsi tersebut didasarkan pada pengamatan yang tidak utuh sekaligus dibelokkan oleh generalisasi, distorsi di pikiran mereka. Maka dari pada sibuk dengan pelabelan orang lain, lebih efektif jika kita memberikan label pada diri anda sendiri yang positif dan memberdayakan.

Keempat, putuskan label positif yang anda inginkan terjadi dalam kehidupan anda. Tanamkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga benar-benar terjadi kongkruensi antara apa yang di dalam hati dan pikiran anda dengan perilaku yang anda lakukan.

Akhirnya, the power of identity (kekuatan identitas) dapat membentuk prilaku seseorang, pelabelan positif (positive labeling) akan menjadikan kekuatan terpenting dalam hidup dan hidup menjadi lebih berdaya guna. Memberikan julukan bad labeling kepada murid-murid kita tentunya sudah saatnya di musnahkan dalam praktek kehidupan kita, apalagi kita adalah seorang guru, seorang yang akan menjadikan cahaya kehidupan selalu bersinar.

Guru MANU 01 Banyuputih Batang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here