Makin Terkenal, Jadi Destinasi Wisata Favorit

Pesona Semarang yang Instagramable

49
MANGROVE MAEROKOCO : Mulai dari jembatan harapan, di pinggir tracking mangrove, dan sampan sangat indah untuk dijadikan lokasi selfie saat mengunjugi Grand Maerakaca di kompleks PRPP Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MANGROVE MAEROKOCO : Mulai dari jembatan harapan, di pinggir tracking mangrove, dan sampan sangat indah untuk dijadikan lokasi selfie saat mengunjugi Grand Maerakaca di kompleks PRPP Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Pengaruh media sosial (Medsos) telah menggiring semuanya pada revolusi digital. Di bidang pariwisata, telah memantik tingginya kesadaran masyarakat secara bottom up untuk mempercantik wilayah. Kini menjamur spot selfie yang instagramable. Sebut saja, Lawang Sewu, Taman Hijau dan Air Mancur Tugu Muda, Klenteng Sam Po Kong, Kota Lama, Masjid Agung Jawa Tengah, Puri Maerokoco atau PRPP, Brown Canyon, Gua Kreo, Kampung Batik, Kampung Pelangi, Desa Wisata dan lain-lain.

NAMA Grand Maerakaca di kompleks Pekan Raya dan Promosi Pembangunan (PRPP) Semarang, terbilang santer di-upload di Instagram. Belakangan ini, objek wisata yang terkenal dengan bandeng terbang dan tracking mangrove ini, memang kerap jadi ladang buruan para pemburu objek menarik buat swafoto.

Apalagi di Grand Maerakaca memang banyak spot buat foto. Mulai dari jembatan harapan, di pinggir tracking mangrove, sampan, dan masih banyak lagi. Tak heran jika pengunjung yang datang, kebanyakan membawa tongkat narsis (tongsis) sebagai peranti wajib swafoto.

Direktur PT PRPP, Titah Listyorini menjelaskan, dalam waktu dekat ini, Grand Maerakaca bakal semakin Instagramable. Yakni dengan fasilitas baru yang disebut sea walk. “Nanti ada jalur untuk jalan kaki menelusuri sepanjang miniatur laut Jawa. Mulai dari depan anjungan Blora-anjungan Rembang. Kurang lebih setengah kilometer. Itu nanti juga tembus ke mangrove tracking,” terangnya.

Di ujung sea walk, lanjutnya, akan disediakan semacam dermaga mini. Di dermaga itu, dipastikan bakal menjadi tempat favorit untuk berswafoto. “Mulai Sabtu malam (11/11), kami juga membuka wahana baru, yakni floating market. Jadi semacam sentra kuliner, tapi jualannya di atas perahu. Tepatnya di depan Anjungan Semarang-Anjungan Pekalongan,” terangnya.

Sebenarnya pihaknya tidak secara khusus mendesain Grand Maerakaca untuk tempat foto-foto. Hanya didesain sedemikian rupa agar enak dipandang tanpa mengesampingkan kenyamanan pengunjung. “Justru pengunjung yang menemukan spot untuk foto-foto,” bebernya.

Tidak sekadar swafoto, Grand Maerakaca juga kerap dimanfaatkan untuk foto prewedding. “Prewedding gratis di semua spot foto. Kecuali di dalam anjungan,” imbuhnya.

Mengenai jumlah pengunjung, hingga akhir Oktober kemarin terhitung ada 360 ribu orang yang datang ke Grand Maerakaca. Angka itu sudah mendekati target kunjungan tahun 2017, yaknu 400 ribu pengunjung. “Sementara tahun lalu pengunjungnya hanya 131 ribu orang,” tandas Titah.

Mencari objek foto yang Instagramable tak melulu di tempat wisata saja. Di areal permukiman pun bisa jadi ada yang layak untuk dijadikan tempat ngeksis di media sosial (medsos). Di Kampung Batik, misalnya. Penghuni kampung batik memang punya selera seni tinggi. Tak hanya jago membuat batik, mereka juga mumpuni mengemas nuansa kampung jadi karya seni.

Kampung itu kini dikenal dengan sebutan Kampoeng Djadoel. Tempatnya di Kampung Batik Tengah RT 04 RW 01. Lokasinya memang berada paling dekat dengan kampung Batik.

Begitu masuk ke Kampoeng Djadoel, sepasang mata bakal dimanjakan dengan kombinasi warna-warna yang indah. Tak hanya rumahnya yang warna-warni, paving sebagai jalan pun dicat. Nilai seninya tersirat lewat dinding bangunan rumah di gang sempit yang dilukis dengan tema-tema khusus. Cocok buat objek swafoto.

Di kampung yang hanya dihuni sembilan kepala keluarga (KK) ini, banyak gambaran bercerita ihwal Kota Semarang di dinding. Selain indah dan modern, tentu sangat unik.

Ketua Paguyuban Kampoeng Djadoel, Agus Irianto mengaku, Kampoeng Djadoel baru diresmikan pada 29 April 2017 lalu. Tapi kampung unik ini dimulai pengecatan lukisan di sejumlah area bangunan warga sejak 17 Desember 2016. “Sampai saat ini bahkan belum berhenti pengerjaannya. Biasanya warga secara swadaya kerja bakti melukis sampai malam hari, ” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pada awal pengerjaannya, seluruh biaya untuk menyulap Kampoeng Djadoel adalah berkat swadaya warga. Mulai pembelian cat serta jasa mengecat seluruh area kampung. Seiring berjalannya waktu, banyak instansi dan perusahaan tertarik untuk menyalurkan bantuan dengan melihat potensi besar Kampoeng Djadoel sebagai sebuah destinasi wisata baru.

Luwiyanto, desainer lukisan Kampoeng Djadoel menambahkan bahwa tema lukisan di dinding bangunan warga sengaja dibuat cerita sejarah Kota Semarang dengan simbol pewayangan. Lukisan tersebut berformat Wayang Beber berjudul Adeging Kutho Semarang dan ceritanya dimulai dari gang tembok sisi kanan sebelah utara sepanjang 44 meter. “Ceritanya dimulai sejak abad ke-8 sejak Laksamana Cheng Ho datang ke Semarang sampai saat ini, ” kata Luwi.

Cerita setelah Laksamana Cheng Ho menyebarkan Islam di Semarang dilanjutkan dengan cerita Ki Ageng Pandanaran di abad ke-15. Tokoh yang memberi nama Semarang itu merupakan utusan Sunan Bonang menyebar agama Islam di Semarang di daerah Bergota.

Dalam lukisan wayang Beber, Luwi menceritakan detail asal muasal nama Semarang yang berasal dari Asem Arang. Dimana penamaan itu terinspirasi dari pohon Asem yang jarang-jarang (arang ; istilah Jawa).

Setelah itu, cerita pun berlanjut hingga syiar Islam Sunan Kalijaga di Semarang. Lalu juga detail penjajahan Belanda dan Jepang di Ibu Kota Jawa Tengah. Tradisi Dugderan, hewan mitologi Warak Ngendhog, pembangunan Lawang Sewu dan Pertempuran 5 Hari di Semarang juga diceritakan di sana. “Ada cerita kampung batik dibakar Jepang. Makanya kemarin ada peringatan pertempuran lima hari Semarang di sini, ” imbuh dia.

Warna-warni lukisan serta kentalnya cerita sejarah membuat Kampung Djadoel banyak dikunjungi wisatawan serta kampus-kampus yang melakukan studi banding. Suasana malam di Kampoeng Djadoel bahkan sangat indah dengan dipasangnya lampu hias di sudut-sudut lukisan.

Selain dapat berswafoto, Kampoeng Djadoel juga menjadi wisata edukasi. Karena ada pelatihan membatik, mainan tempo dulu seperti egrang dan dakon, perpustakaan warga, galeri lukisan, produksi kaos khas serta bergam kuliner tradisional khas Semarang. Wisatawan yang datang juga tak dibebani tiket masuk. Hanya sebuah kotak sukarela untuk biaya kebersihan dan pemeliharaan. “Ramainya biasanya Sabtu-Minggu. Warga juga diwajibkan untuk bisa bercerita tentang cerita pewayangan sejarah Semarang,” jelasnya. (amh/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here