33 C
Semarang
Senin, 13 Juli 2020

Literasi Menulis Guru Semakin Meningkat

Bersama Guru MGMP Bahasa Jawa Kota Semarang

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

SEMARANG–Puluhan guru dari seluruh Jawa Tengah, menyimak penjelasan Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa Kota Semarang, Tukijo, Pemimpin Redaksi (Pimred) Jawa Pos Radar Semarang, Arif Riyanto dan Redaktur Pelaksana (Redpel) Jawa Pos Radar Semarang, Ida N Layla, saat acara pelatihan penulisan artikel dan opini di kantor Jawa Pos Radar Semarang jilid II yang digelar di kantor Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (11/11) kemarin. Acara tersebut diikuti sebanyak 54 guru dari berbagai mata pelajaran dari berbagai sekolah menengah di Jawa Tengah.

Ketua MGMP Bahasa Jawa Kota Semarang, Tukijo mengatakan jika digelarnya pelatihan yang kedua tersebut lantaran banyaknya animo anggota MGMP Bahasa Jawa dan maupun MGMP lainnya, untuk bisa menulis. Selain itu, kegiatan tersebut bertujuan menggerakkan literasi menulis di kalangan para guru. “Gerakan literasi ini merupakan bagian dari tantangan pemerintah atas dana sertifikasi guru untuk mengembangkan profesinya secara maksimal,” katanya kemarin.

Selain menjawab tantangan tersebut, lanjut dia, gerakan literasi untuk menulis adalah cara untuk merangsang para guru agar berani menuangkan ide, gagasan, opini hingga penelitian yang nantinya bisa memberikan manfaat kepada khalayak luas terutama dunia pendidikan. “Namun banyak guru yang menghadapi kendala terbatasnya waktu untuk menulis. Selain itu, masih belum adanya literasi serta acuan untuk menuangkan gagasan, opini bahkan ide yang ada,” jelasnya.

Setelah pelatihan, katanya, guru dapat menuliskan publikasi ilmiah di media massa sebagai salah satu syarat kenaikan pangkat. Meski begitu, kata Tukijo, tanggung jawab seorang guru yang memiliki banyak tugas, harus bisa menyelaraskan antara tugas sekolah dan menulis publikasi ilmiah. “Untuk golnya, karya para guru bisa dimuat, follow up-nya tulisan yang telah dimuat di media massa akan kami bukukan. Dengan ada buku cetak terbit dari penerbit dan mendapat ISBN,” bebernya.

Ia berharap, dengan adanya pelatihan menulis, para guru bisa memiliki kemampuan menyangkan ide atau opini terkait proses belajar mengajar ke dalam bentuk tulisan. Dengan begitu, guru semakin terdorong untuk melakukan inovasi di dunia pendidikan.

Melihat peserta pelatihan yang hadir dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Tukijo mengaku bersuka cita dengan semakin meningkatnya kesadaran para guru untuk literasi menulis. “Pelatihan ini melibatkan guru dari berbagai wilayah di Provinsi Jawa Tengah, ada yang dari Brebes, Banyumas, Batang, Pati, Purwokerto, maupun dari dalam Kota Semarang,” ucapnya.

Materi pelatihan yang diberikan dibagi menjadi dua yaitu prosedur pengiriman tulisan ke media massa dan teori tentang penulisan artikel itu sendiri, seperti jenis-jenis tulisan dan karakteristiknya. Kedua materi tersebut disampaikan oleh Ida Nor Layla dan Arif Riyanto. Di tengah-tengah penyampaian materi, narasumber tanpa lelah memberikan dorongan bagi para guru yang hadir untuk secara aktif melakukan kegiatan menulis. “Tulisan kita bisa menjadi warisan bagi anak cucu kita kelak,” tutur Ida. (den/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Tekan Kemiskinan Lewat Bantuan UEP 

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Angka kemiskinan di Kabupaten Pekalongan masih sekitar 200 ribu warga. Pemkab Pekalongan terus berupaya menekan angka tersebut. Salah satunya melalui Usaha...

Arsip Kongkoan Jadi Sumber Riwajat Semarang

RADARSEMARANG.COM - Setiap penelitian sejarah Kota Semarang, buku Riwajat Semarang : Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapusnja Kong Koan tak bisa dilepaskan dari salah...

Kaum Difable Merasa Terdiskriminasi

UNGARAN–Kabupaten Semarang saat ini masih dinilai abai terhadap kaum difabel. Hal itu dikatakan oleh Forum Komukasi Difabel Kabupaten Semarang (FKDKS), Rarta Windariyanti saat pertemuan...

Festival Oude Staad Suguhkan Nuansa Eropa

SEMARANG – Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang, terus berupaya menghidupkan kembali kawasan Kota Lama. Mengingat potensi wisata di kawasan peninggalan Kolonial Belanda...

Delapan Tahun Lebaran, Anik Susilo Wati Tetap Masuk Kerja

Momentum Lebaran menjadi hari paling sakral bagi umat Islam. Semua orang dalam kebahagiaan, baju baru, THR, aneka makanan lezat, menjadi semangat baru yang paling...

Pasar Mangkrak Jadi Arena Judi Sabung Ayam

SEMARANG - Pasar Banjardowo,  Genuk, Semarang yang dikelola investor PT Pratama Sarana Mandiri, sudah hampir 11 tahun mangkrak. Dari 241 kios dan 240 los, hanya sebagian...