Literasi Menulis Guru Semakin Meningkat

Bersama Guru MGMP Bahasa Jawa Kota Semarang

50
PROSES EDITING : Sebagian peserta pelatihan penulisan opini sedang mendengarkan presentasi dari Pemimpin Redaksi (Pemred) Jawa Pos Radar Semarang, Arif Riyanto tentang proses editing dan layout berita di kantor Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (11/11) kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PROSES EDITING : Sebagian peserta pelatihan penulisan opini sedang mendengarkan presentasi dari Pemimpin Redaksi (Pemred) Jawa Pos Radar Semarang, Arif Riyanto tentang proses editing dan layout berita di kantor Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (11/11) kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG–Puluhan guru dari seluruh Jawa Tengah, menyimak penjelasan Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa Kota Semarang, Tukijo, Pemimpin Redaksi (Pimred) Jawa Pos Radar Semarang, Arif Riyanto dan Redaktur Pelaksana (Redpel) Jawa Pos Radar Semarang, Ida N Layla, saat acara pelatihan penulisan artikel dan opini di kantor Jawa Pos Radar Semarang jilid II yang digelar di kantor Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (11/11) kemarin. Acara tersebut diikuti sebanyak 54 guru dari berbagai mata pelajaran dari berbagai sekolah menengah di Jawa Tengah.

Ketua MGMP Bahasa Jawa Kota Semarang, Tukijo mengatakan jika digelarnya pelatihan yang kedua tersebut lantaran banyaknya animo anggota MGMP Bahasa Jawa dan maupun MGMP lainnya, untuk bisa menulis. Selain itu, kegiatan tersebut bertujuan menggerakkan literasi menulis di kalangan para guru. “Gerakan literasi ini merupakan bagian dari tantangan pemerintah atas dana sertifikasi guru untuk mengembangkan profesinya secara maksimal,” katanya kemarin.

Selain menjawab tantangan tersebut, lanjut dia, gerakan literasi untuk menulis adalah cara untuk merangsang para guru agar berani menuangkan ide, gagasan, opini hingga penelitian yang nantinya bisa memberikan manfaat kepada khalayak luas terutama dunia pendidikan. “Namun banyak guru yang menghadapi kendala terbatasnya waktu untuk menulis. Selain itu, masih belum adanya literasi serta acuan untuk menuangkan gagasan, opini bahkan ide yang ada,” jelasnya.

Setelah pelatihan, katanya, guru dapat menuliskan publikasi ilmiah di media massa sebagai salah satu syarat kenaikan pangkat. Meski begitu, kata Tukijo, tanggung jawab seorang guru yang memiliki banyak tugas, harus bisa menyelaraskan antara tugas sekolah dan menulis publikasi ilmiah. “Untuk golnya, karya para guru bisa dimuat, follow up-nya tulisan yang telah dimuat di media massa akan kami bukukan. Dengan ada buku cetak terbit dari penerbit dan mendapat ISBN,” bebernya.

Ia berharap, dengan adanya pelatihan menulis, para guru bisa memiliki kemampuan menyangkan ide atau opini terkait proses belajar mengajar ke dalam bentuk tulisan. Dengan begitu, guru semakin terdorong untuk melakukan inovasi di dunia pendidikan.

Melihat peserta pelatihan yang hadir dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Tukijo mengaku bersuka cita dengan semakin meningkatnya kesadaran para guru untuk literasi menulis. “Pelatihan ini melibatkan guru dari berbagai wilayah di Provinsi Jawa Tengah, ada yang dari Brebes, Banyumas, Batang, Pati, Purwokerto, maupun dari dalam Kota Semarang,” ucapnya.

Materi pelatihan yang diberikan dibagi menjadi dua yaitu prosedur pengiriman tulisan ke media massa dan teori tentang penulisan artikel itu sendiri, seperti jenis-jenis tulisan dan karakteristiknya. Kedua materi tersebut disampaikan oleh Ida Nor Layla dan Arif Riyanto. Di tengah-tengah penyampaian materi, narasumber tanpa lelah memberikan dorongan bagi para guru yang hadir untuk secara aktif melakukan kegiatan menulis. “Tulisan kita bisa menjadi warisan bagi anak cucu kita kelak,” tutur Ida. (den/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here