Tingkat Disiplin Siswa dengan Sing Bat

136
Oleh: Anis Zubaedah
Oleh: Anis Zubaedah

TERLAMBAT adalah sebuah fenomena yang sering terjadi di kalangan anak sekolah atau pelajar. Bahkan tidak hanya terjadi pada kalangan pelajar, tapi juga pada para guru, karyawan, bahkan para pekerja, baik di kantor, sekolah maupun di perusahaan/pabrik

Kejadian ini sering kita alami bahkan sering kita jumpai di sekitar kita pada saat akan berangkat bekerja  dengan hiruk pikuknya orang berkendaraan dan lalu lalang kendaraan yang dengan kecepatan tinggi melaju dengan kencangnya dengan harapan supaya tidak terlambat sampai di tempat tujuan (kantor, sekolah, perusahaan, dan sebagainya), karena apabila terlambat akan mendapatkan sanksi dari sekolah maupun dari atasan tempat bekerja.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang datang terlambat. Padahal dalam aturan dan tata tertib sekolah mengharuskan siswa datang sebelum pukul 07.00. Sedangkan pada pukul 06.55 siswa harus sudah ada di lingkungan sekolah, dan tepat pukul 07.00, lagu “Indonesia Raya” sudah dikumandangkan dan siswa sudah berada di dalam kelas.

Tetapi pada kenyataannya masih banyak siswa yang datang lewat dari jam tersebut. Karena apabila sudah bel dan lagu sudah dikumandangkan, maka siswa dianggap terlambat dan harus berdiri di halaman sekolah dan tidak boleh masuk kelas.

Banyaknya siswa yang datang terlambat mengakibatkan kurang lancarnya proses belajar-mengajar (khusus jam pertama). Keterlambatan pada siswa ini bukannya tanpa sebab. Berbagai macam alasan diungkapkan oleh para siswa yang sering terlambat, di antaranya jarak tempat tinggal dengan sekolah yang jauh, bangun kesiangan, sehabis salat subuh tidur lagi, menyetrika baju seragam, mengerjakan tugas sekolah yang tertunda, menunggu teman dan sebagainya.

Namun, ada satu alasan keterlambatan yang dialami, tidak hanya pada siswa saja, tetapi juga para guru dan karyawan di SMA Negeri I Gemuh, yakni terhalang oleh kereta api yang setiap pagi lewat sampai tiga kali.

Perlu penulis sampaikan bahwa SMAN I Gemuh terletak di  sebuah desa yang mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah petani. Sehingga akses jalan utama menuju sekolah pun banyak area persawahan dan  harus menyeberangi rel kereta api. Sementara, setiap harinya sebelum pukul 06.30, terdapat kereta yang melintas sepanjang jalan menuju sekolah. Kemudian sebelum pukul 07.00 pun terdapat kereta yang lewat sebanyak dua kali. Belum lagi kereta api yang datang dari arah yang berlawanan dan hal inilah yang memicu keterlambatan siswa. Sementara siswa berangkat dari rumah waktunya terlalu mepet, padahal rumahnya jauh. Sehingga situasi seperti inilah yang terjadi hampir setiap hari.

Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan aturan tegas yang disertai dengan sebuah sanksi yang dapat membuat siswa semakin disiplin, dan nantinya akan berguna bagi ketertiban sekolah dan bagi diri siswa sendiri. Adapun tindakan yang diambil adalah dengan mengadakan suatu tindakan disiplin untuk memperbaiki sistem atau aturan pada saat pembelajaran dimulai. Kebijakan ini dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan semua pihak terkait, yakni siswa, guru piket, guru mata pelajaran jam pertama, wali kelas, tim kedisiplinan siswa, guru BK dan kesiswaan.

Bagi siswa yang sering terlambat (sing bat), sanksinya bila baru satu atau dua kali, cukup disuruh bersih-bersih halaman sekolah dan sekitarnya, membaca atau menghafal surat-surat pendek, salat duha dan meresum mata pelajaran jam pertama yang tidak dia ikuti pada hari itu. Sedangkan yang sudah terlambat sebanyak tiga kali disuruh pulang dan memanggil orang tua agar ada kerja sama dan terjadi komunikasi dengan sekolah, sehingga siswa tidak akan mengulangi keterlambatannya lagi.

Tentang panggilan orang tua pertama, itu bila siswa terlambat sebanyak tiga kali disertai surat pernyataan “menyesal” dan tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Bila orang tua telah dipanggil karena keterlambatan siswa, kemudia mengulangi keterlambatan sebanyak tiga kali lagi, maka orang tua pun dipanggil ke sekolah kembali sebagai panggilan orang tua  kedua. Dan bila siswa terlambat sampai sembilan kali, sedangkan orang tua belum datang ke sekolah, maka sekolah akan mengambil tindakan berupa skorsing di rumah. Dalam hal ini, siswa tidak diperbolehkan masuk sekolah, tetapi istirahat di rumah sambil menunggu sampai orang tua datang ke sekolah untuk menyelesaikan permasalahan anaknya.

Terakhir, bila sampai orang tua tidak datang ke sekolah, artinya sekolah bisa mengambil tindakan memindahkan siswa tersebut ke sekolah lain.

Di sekolah penulis, juga diberlakukan angka kredit pelanggaran siswa (AKPS). Fungsinya, sebagai rambu-rambu atau acuan untuk siswa, sehingga apabila melakukan pelanggaran ada skor negatifnya, supaya siswa tidak menambah atau melakukan pelanggaran berikutnya. Termasuk dalam hal terlambat. Karena bila dimasukkan ke angka kredit, dan keterlambatannya diulang-ulang, maka skor akan bertambah. Dan bila skornya sudah banyak, siswa akan terkena skorsing bahkan bisa dipindahkan atau dikeluarkan dari sekolah. (*/aro)

Guru SMA Negeri I Gemuh, Kendal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here