Laporan Keterangan Palsu

96

SEMARANG– Korban penganiayaan Ishak Sugeng Santoso yang dipukul menggunakan sepatu oleh rekan bisnisnya dokter Lianawati mengaku kecewa dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang yang menuntut terdakwa selama empat bulan penjara.

Hal itu disampaikan Ishak melalui kuasa hukumnya John Richard Latuihamallo. Ia menilai tuntutan tersebut terlalu rendah, padahal terdakwa sudah ditahan selama penuntutan. Ia mengatakan, pemukulan tersebut dilakukan Lianawati berkali-kali langsung di kepala kliennya.

“Barang klien kami dirampas, akibat pemukulan itu matanya hampir buta. Seharusnya dituntut berat. Kami nilai tuntutannya terlalu rendah karena jaksa sudah pernah menahannya,” kata John Richard Latuihamallo menanggapi tuntutan itu, Jumat (10/10).

John juga menuding, terdakwa memberikan keterangan palsu, karena kliennya tidak pernah meminta uang Rp 500 juta, sebaliknya terdakwa yang sejak awal meminta damai kepada kliennya. Atas keterangan tersebut. Pihaknya juga mengancam akan mengajukan laporan balik atas keterangan tersebut.

“Kepala klien kami berkali-kali dipukul termasuk wajahnya, jadi perbuatan yang sangat tidak manusiawi dan tidak bermora. Apalagi pelaku adalah seorang dokter,” tandasnya.

Pihaknya berharap majelis hakim memutuskan kasus tersebut lebih dari tuntutan JPU. Ia berharap majelis hakim bisa melihat dan memberikan keadilan. “Kalau kemudian diputus ringan maka patut dipertanyakan atas kasus ini, sama halnya dengan tuntutan ini,” sebutnya.

Sebelumnya, korban Ishak mengakui ada penyertaan dana sebesar Rp 302 juta. Atas pemukulan itu, ia tidak bisa kerja seminggu dan barang-barang yang ada di tempat usahanya juga dibawa saudaranya terdakwa.

“Kami belum itung-itungan, tapi perkiraan barang yang di bawa Rp 250 juta. Ada satu alat kesehatan harganya juga Rp 60 juta,” ujarnya.

Perlu diketahui, JPU Kejari Semarang, Yossy Budi Santoso menilai terdakwa telah melakukan penganiayaan sebagaimana pasal 351 ayat 1 KUHP dan menuntut terdakwa selama 4 bulan. Dalam dakwaan JPU menjelaskan, perkara bermula saat terdakwa bersama-sama saksi Sutikno alias Bambang Swieke, dan Ishak pergi menuju ke toko alat kesehatan milik Ishak di Jalan MT Haryono Nomor 424 Semarang.

Selanjutnya, terdakwa dan saksi Ishak masuk ke dalam toko untuk membuka faktur jual beli. Lianawati menyuruh saksi Ishak untuk mencocokkan data jual beli barang.

Kemudian, terdakwa emosi karena Ishak baru membayar sebagian barang miliknya. Hingga akhirnya, terdakwa memukulkan sepatu merek Puma yang dipegangnya ke kepala Ishak. Saat diperiksa sebagai terdakwa, Lianawati mengaku sempat mengupayakan damai atas permasalahan ini. Namun, korban Ishak meminta uang Rp 500 juta yang memberatkan baginya. Hingga akhirnya, kasus berlanjut ke proses hukum sampai pengadilan. (jks/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here