Antisipasi Pohon Tumbang, Cabang Atas Dipangkas

121
PERAWATAN : Salah satu pohon di jalan utama Kota Magelang yang sudah dipangkas bagian cabang atasnya. (ANISATU ULFAH/RADAR KEDU)
PERAWATAN : Salah satu pohon di jalan utama Kota Magelang yang sudah dipangkas bagian cabang atasnya. (ANISATU ULFAH/RADAR KEDU)

MAGELANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang mengantisipasi bencana pohon tumbang dengan memangkas bagian cabang atas. Perlakuan ini diutamakan pada pohon peneduh yang sudah dewasa atau berumur lebih dari 8 tahun, berdiameter besar dan memiliki tinggi di atas 6 meter. Perawatan ini bertujuan untuk mempertahankan kondisi pohon, kekuatan dan aman bagi pengguna jalan.

Kepala Seksi Pertamanan dan Penerangan Jalan Umum (PJU), DLH Kota Magelang, Yetty Setyaningsih mengatakan, pemangkasan bagian atas pohon dilakukan agar beban daun berkurang. Menurutnya, cara ini efektif untuk menurunkan risiko pohon tumbang pada saat angin kencang di musim penghujan.

“Perawatan pohon peneduh kami lakukan setiap hari di tempat-tempat yang memang membutuhkan perawatan, seperti di ruas jalan utama Kota Magelang, Jalan Ikhlas, Jalan Singosari, Jalan Pahlawan dan Jalan Kolonel Sugiono,” katanya, Jumat (10/11).

Ia mengakui, pohon tumbang menjadi salah satu bencana yang sering terjadi saat intensitas curah hujan cukup tinggi. Biasanya pohon yang tumbang dipengaruhi kuat tidaknya pohon tersebut, bukan dari usia pohonnya.

“Pohon peneduh di Kota Magelang sudah banyak yang berusia tua, namun selama pohon tersebut masih sehat dan kuat tetap dipertahankan. Sebaliknya, apabila pohon tersebut tidak sehat kita beri cavity treatment, yakni penambalan pohon,” ujarnya.

Ada beberapa faktor yang mendasari ditebangnya pohon peneduh. Mulai dari jenis pohon hingga faktor kesalahan manusia, misalnya membakar akar pohon. “Apabila pohon peneduh telah merusak fasilitas umum, selama mendapat persetujuan dari wali kota, pohon tersebut juga akan ditebang, kemudian diganti dengan pohon yang baru. Seperti yang ada di Jalan Kapten Supratman Kota Magelang, pohon trembesi yang sudah besar dan merusak trotoar diganti dengan pohon tabebuya,” bebernya.

Sementara itu bencana pohon tumbang di Kota Magelang tidak menunjukkan peningkatan maupun penurunan yang drastis. Namun, pada 2014 lalu, ada warga kota yang menjadi korban robohnya pohon peneduh akibat serangan angin puting beliung. “Kemudian korban dirawat di rumah sakit untuk pemulihannya, dengan biaya ditanggung pemerintah kota. Pada awal tahun 2017 ini juga ada beberapa pohon peneduh yang tumbang akibat hujan deras disertai angin, beruntung tidak ada korban dalam bencana tersebut.”

Hingga saat ini pohon peneduh di Magelang terdiri dari 53 jenis dengan jumlah keseluruhan kurang lebih 6.000 pohon. Pepohonan ini tersebar di berbagai tempat. (mg1/put)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here