Ajak Mahasiswa Undip Nonton Wayang Orang

103

SEMARANG-Dalam rangka memberikan pembekalan pendidikan karakter kepada mahasiswa, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (Fisip Undip) mengajak mahasiswanya nonton bareng Wayang Orang Ngesti Pandawa yang diselenggarakan Sabtu (11/11) ini di Gedung Ki Nartosabdo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS).

Ratusan mahasiswa akan menikmati pentas wayang orang dengan lakon Rebat Tunggorono (Denggung Pringgodani Gembong Trajutrisno). Mereka adalah pengelola Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Senat Mahasiswa (Sema), sejumlah mahasiswa baru hingga civitas akademika kampus oranye tersebut.

“Kegiatan bakti budaya ini, salah satu upaya memberikan pembekalan pendidikan karakter kepada mahasiswa di lingkungan Fisip Undip sebagai calon pemimpin masa depan agar bisa belajar nilai-nilai positif dari tokoh-tokoh wayang tertentu untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan,” ungkap Dekan FISIP Undip, Dr Sunarto MSi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (10/11).

Menurutnya, banyak nilai-nilai positif yang bisa dipelajari oleh para mahasiswa dari tokoh wayang ini. Misalnya, nilai kebaikan, kejujuran, keberanian, keteguhan, dan kepedulian yang bisa dipelajari melalui tokoh-tokoh Pandowo.

Selain itu, lanjut Sunarto, melalui kisah dalam wayang ini bisa diperoleh hikmah, bahwa seorang pemimpin harus arif dan bijaksana untuk menggunakan kekuasaan yang diamanahkan kepadanya untuk melayani kepentingan dan kebaikan rakyatnya.

“Janganlah menggunakan kekuasaan hanya untuk melayani kepentingan dan kepuasan diri dan kelompoknya semata sebagaimana dikisahkan dalam lakon wayang ini. Janganlah menjadi pemimpin yang haus  dan rakus dengan kekuasaan” terang Doktor Ilmu Komunikasi Fisip Undip ini.

Sunarto juga menjelaskan, arti penting lain kegiatan ini adalah kepedulian budaya (cultural filantrophic).  Tak hanya itu, Fisip Undip juga ingin terlibat aktif dalam proses menjaga dan elestarikan keberadaan kesenian daerah yang banyak mengandung nilai-nilai luhur untuk dijaga, dilestarikan dan dikembangkan lebih jauh.

“Sekarang ini banyak warisan budaya yang sudah mulai punah karena tidak ada generasi penerusnya. Melalui kesenian wayang orang, warisan leluhur berupa tuturan bahasa daerah, olah tari, kostum dengan segala pernak-perniknya, dan tema cerita mengandung banyak muatan nilai bernas untuk dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda mendatang,” tandasnya. (tsa/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here