Pelaku Vandalisme Diberi Sanksi

144
BIAR KAPOK: Dua pelaku vandalisme diberi sanksi oleh petugas Satpol PP, wajib membersihkan tembok yang digambar atau coret-coret, dengan mengecat ulang tembok tersebut. BONITA IKA SEPTIANI/JAWA POS RADAR KEDU BIAR KAPOK: Dua pelaku vandalisme diberi sanksi oleh petugas Satpol PP, wajib membersihkan tembok yang digambar atau coret-coret, dengan mengecat ulang tembok tersebut. (BONITA IKA SEPTIANI/JAWA POS RADAR KEDU)
BIAR KAPOK: Dua pelaku vandalisme diberi sanksi oleh petugas Satpol PP, wajib membersihkan tembok yang digambar atau coret-coret, dengan mengecat ulang tembok tersebut. BONITA IKA SEPTIANI/JAWA POS RADAR KEDU BIAR KAPOK: Dua pelaku vandalisme diberi sanksi oleh petugas Satpol PP, wajib membersihkan tembok yang digambar atau coret-coret, dengan mengecat ulang tembok tersebut. (BONITA IKA SEPTIANI/JAWA POS RADAR KEDU)

MAGELANG– Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Magelang berhasil menangkap dua pemuda pelaku vandalisme di sebuah tembok di Jalan Beringin IV Magelang, Kamis (9/11) dini hari.

Keduanya dinilai telah melanggar Perda Nomor 6/2015 tentang Ketertiban Umum, karena tidak mengantongi izin, baik dari pemilik tembok maupun pemerintah. Akhirnya, Satpol PP memberikan sanksi kepada dua pemuda tersebut, untuk mengecat ulang tembok yang dicoret-coret.

“Kami menangkap mereka, karena tidak memiliki izin mencoret-coret atau menggambar di sebidang tembok itu. Mereka juga mengakui kalau tidak pegang izin dari pemilik tembok yang digambar. Mereka kami tangkap berdasar hasil pengintaian tim kami,” kata Kepala Satpol PP Kota Magelang, Singgih Indri Pranggana, saat ditemui dikantornya, Kamis (9/11) kemarin.

Singgih menjelaskan, kedua pemuda tersebut bernama Gumilar, 26; dan David Elianto, 26. Keduanya warga Magelang, sehari-hari bekerja di salah satu usaha percetakan.

Singgih menjelaskan, sebenarnya kegiatan mereka bernilai posistif, asal telah sesuai izin, seperti tercantum dalam Perda No 6/2015 tentang Ketertiban Umum (Tibum). Khususnya, menurut Singgih, pada pasal 13. Pasal 13 menyebut bahwa setiap orang/badan dilarang melakukan aktivitas corat-coret, vandalisme, dan atau pengotoran dengan cat, cat warna, dan sejenisnya pada fasilitas umum yang merusak estetika keindahan kota, bangunan milik perorangan/badan tanpa izin pemilik.

“Poin pentingnya adalah izin. Kami akan membiarkan mereka berkreasi kalau memang mengantongi izin. Kecuali, konten dari gambar atau tulisan itu tidak patut, akan kami larang juga. Intinya, kami tidak membatasi kreativitas, terutama kalangan anak muda,” tandas Singgih.

Meskipun keduanya dinilai telah melanggar Perda, menurut Singgih, keduanya tidak akan menerima sanksi berat. Yakni, seperti penjelasan di pasal 37 berupa kurungan paling lama 3 bulan dan/atau denda paling banyak Rp 50 juta.

“Mereka hanya dibina, wajib ikut apel, dan wajib mengembalikan tembok yang digambar ke bentuk semula. Mereka mengakui kesalahannya dan kooperatif. Maka, kami beri sanksi yang bisa membuat efek jera saja. Keduanya juga wajib membuat surat pernyataan tertulis untuk tidak melakukan hal serupa di kemudian hari.”

Penerima sanksi, Gumilar dan David mengaku menggambar di tembok tersebut, sebagai ekspresi seni. “Sudah beberapa titik yang saya gambar, baik mendapat izin dari pemilik tembok maupun tanpa izin,” ucap Gumilar. Hal yang sama diucapkan David. David mengaku sangat suka seni mural sejak 2008 silam. “Kami buat mural, bukan corat-coret sembarangan. Kadang izin, kadang tidak izin, tapi paling banyak tidak izin.” (cr3/mg13/mg14/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here